
Di dalam lift, Sarah terus berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia tercengang, karena baru menyadari kalau pria yang sangat menakutkan, keras kepala, dan memiliki pemikiran sempit itulah yang akan menjadi suaminya.
"Hah, aku tak percaya. Bagaimana bisa aku menikah dengan pria itu? tinggal satu atap, makan satu meja, tidur satu... aghkkkk!"
Sarah frustasi sendiri membayangkan dirinya harus tinggal serumah dengan Tristan. Berbagi meja makan, dan berbagi tempat tidur.
"Mana mungkin dia membiarkan aku tidur di tempat tidur, dia pasti akan menyuruhku tidur di lantai! Ya Tuhan! kenapa aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya?" gerutu Sarah yang sendirian berada di dalam lift.
Hingga dia malah jadi kesal juga dengan Alan.
"Lagian mas Alan ngapain sih? bikin masalah aja. Salah dia kan selingkuh, untung saja aku memiliki dan selalu memikirkan bunda Tiara dan adik-adik panti. Kalau tidak entah apa yang terjadi padaku, bodohnya aku yang dulu selalu menuruti apapun yang dia mau!" keluh Sarah lagi.
Sarah terus mengeluh hingga dia sampai di lantai tempat divisi keuangan berada. Dia keluar dari lift, dan kebetulan berpapasan dengan Arumi.
"Eh, sudah datang. Emangnya ada urusan penting apasih sampai tadi pagi tuh kamu telepon aku supaya gak jemput kamu?" tanya Arumi penasaran.
Sarah langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sarah sempat ingin berkata jujur pada Arumi, tapi setelah dia pikir lagi kalau Arumi itu orangnya sangat heboh, Sarah lalu mengurungkan niatnya untuk mengatakan alasan sebenarnya dia harus ijin setengah hari.
Sarah berpikir akan mengatakannya pada Arumi kalau pernikahannya dengan Tristan sudah dipastikan hari dan tanggalnya.
"Kenapa malah diam, aku kepo maksimal ini!" kata Arumi lagi.
"Ada sesuatu yang terjadi di panti tadi pagi. Tapi sekarang semua sudah selesai dan semua aman terkendali. Oh ya, kamu sudah makan siang belum?" tanya Sarah mengalihkan pembicaraan dengan Arumi.
Arumi langsung menggelengkan kepalanya.
"Belum, ini aku baru mau ke kantin. Tano gak masuk hari ini, aku pegang kerjaannya baru kelar. Kamu sudah makan siang belum?" tanya Arumi yang begitu perduli pada Sarah.
"Sudah, mau aku temani?" tanya Sarah tak kalah memperdulikan Arumi.
"Gak usah, kamu tuh dari tadi di tungguin Bu Sisilia di kantornya. Kayaknya mau ada kerjaan penting!" terang Arumi.
Sarah pun mengangguk paham lalu melepaskan tangan Arumi.
__ADS_1
"Ya sudah, aku ke ruangan Bu Sisilia dulu!"
Arumi mengangguk dan Sarah pun langsung pergi. Arumi juga hendak pergi ke kantin karena perutnya memang sudah demo minta di traktir burger spesial dengan dobel keju dan beef panggang.
Sementara itu di ruangan Richard. Pria itu masih saja merasa seperti kebakaran jenggot. Apalagi dia malam ini harus datang ke pesta ulang tahun yang di selenggarakan oleh sang ayah. Dan harus bertunangan dengan wanita pilihan sang ayah. Di tambah, sudah beberapa kali dia menghubungi Shanum namun telepon nya tak kunjung di angkat oleh Shanum. Tambah kebakaran jenggot saja Tristan meskipun sebenarnya dia tidak punya jenggot.
"Bos, jam tiga siang ini ada meeting dengan tuan Davidson dari TK corp...!"
"Carikan aku minuman dingin Richard!" sela Tristan pada Richard.
"Baik bos!" tanpa banyak ekspresi, Richard langsung keluar dari ruangan Tristan untuk mencari apa yang bosnya itu inginkan.
Tristan kembali duduk di kursi kebanggaannya. Dia terus melihat ke arah foto Shanum yang ada di atas meja kerjanya yang di hadapkan ke arahnya.
"Bagaimana bisa seperti ini Shanum, siapa wanita yang pernah berjanji tidak akan menolak apapun permintaan ku, tapi sepertinya semua kini sudah berbalik. Ck... kenapa bisa begini?" gerutu Tristan.
Sementara itu Richard yang sangat terburu-buru pun berjalan dengan cepat menuju kantin kantor setelah dia keluar dari lift menuju lantai satu dimana kantin kantor berada.
Karena dia terburu-buru, dia sampai berjalan dengan cepat tanpa tahu akan ada orang yang lewat di depannya membawa sebuah nampan berisi burger dan minuman ringan.
Karena kedua orang itu sedang terburu-buru. Alhasil nampan yang di bawa oleh Arumi terjatuh ketika dirinya dan Richard bertabrakan.
"Oh.. em...!"
Richard tidak melanjutkan apa yang ingin dia katakan saat dia terkejut atau saat dia tidak suka pada suatu moment dalam hidupnya setelah menoleh, dan melihat siapa gerangan manusia yang telah bertabrakan dengannya.
Richard yang ingin marah dan memaki malah mendadak nyalinya ciut se-ciut ciutnya melihat Arumi yang sudah berdiri di depannya dengan berkacak pinggang dan mata yang melotot tajam ke arah Richard.
'Mommy, tolong...!' batin Richard takut.
Pria tampan yang melambai itu bahkan sudah bersikap seperti seorang siswa yang kepergok gurunya mencontek saat ujian. Nyaris seperti itu ekspresi wajah Richard.
"Punya mata gak? hah?" tanya Arumi dengan suara yang berada tinggi mengalahkan nada tingginya Iyeth Bustami.
Semua karyawan yang ada di kantin lantas menoleh ke arah Arumi dan Richard. Mona dari bagian personalia bahkan sampai menyemburkan minuman ringan yang dia minum ketika mendengar Arumi membentak Richard yang dia kenal sebagai asisten pribadi CEO perusahaan tempat mereka bekerja ini.
__ADS_1
"Wah, si Arumi ngegas salah tempat dia!" gumam Mona yang berniat ingin mengatakan siapa itu Richard pada Arumi.
Richard yang sempat terkejut pun mencoba untuk menetralkan detak jantungnya dan berusaha terlihat tidak takut pada Arumi.
"Hello, ini mata nih!" ucap Richard yang langsung menunjuk kedua matanya.
"Situ yang salah, situ yang marah. Heran deh Eike!" kata Richard dengan gayanya yang khas.
Arumi yang jijik sendiri melihat gaya Richard itu akhirnya mengingat siapa pria melambai di depannya itu.
"Hei, kamu yang di toko baju itu kan? Yang di luar kota itu kan?" tanya Arumi yang mengenali Richard.
"Ya ampun, baru sadar ternyata dia. Lemot ya otak kamu!" sindir Richard karena Arumi butuh waktu yang cukup lama untuk mengenali Richard.
Merasa di ejek oleh Richard, Arumi yang kesal makanannya jatuh berantakan di tambah di sindir seperti itu pun semakin kesal pada pria melambai itu langsung menyingkap lengan kemejanya sampai di siku.
"Ngomong apa kamu, hah?" gertak Arumi yang sudah maju melangkah mendekati Richard.
Richard yang awalnya berusaha tidak takut langsung ciut lagi nyalinya. Dia mundur kebelakang sambil terus memperingatkan Arumi agar jangan macam-macam.
"Eh, jangan macam-macam ya...!" kata Richard.
"Kenapa emang? tanya Arumi dengan tatapan menantang Richard.
Di sata itulah Mona langsung menarik lengan Arumi.
"Eh, apa-apaan nih, ngapain sih tarik-tarik?" protes Arumi bertanya pada Mona.
"Kamu tuh yang apa-apaan. Jangan cari masalah deh. Dia itu pak Richard, asisten pribadi CEO perusahaan ini!" jelas Mona.
"Hah..!"
***
Bersambung...
__ADS_1