
Sarah dan Tristan masih berada di dalam mobil menuju ke apartemen Tristan. Kali ini Tristan menyetir mobilnya sendiri. Keduanya terlihat diam dan saling membuang muka satu sama lain.
Sialnya, Tristan malah sesekali mencuri pandang ke arah Sarah yang sama sekali tidak pernah sekalipun melirik ke arah Tristan.
'Sialll! kenapa sejak tadi aku malah terus memperhatikannya!' batin Tristan yang kesal pada dirinya sendiri.
Tanpa Tristan sadari seharian ini dia bahkan tidak sekalipun memikirkan Shanum. Tristan begitu fokus pada pernikahannya dan pada hafalan akad nikahnya. Hingga sejak semalam Tristan pun mematikan ponselnya bahkan saat ini dia pun tidak membawanya. Karena memang dia tidak ingat kalau dia meletakkan ponselnya di kamarnya yang ada di rumah ayahnya.
Beberapa lama kemudian, sekitar hampir satu jam mereka pun tiba di basemen apartemen Tristan. Sarah pun membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil bahkan sebelum Tristan selesai melepaskan sabuk pengamannya. Sarah langsung menuju ke arah belakang mobil, dan melihat ke arah spion yang ada di depan sebelah kanan. Tristan yang mengerti pun membuka kunci bagasi.
Setelah membuka bagasi, Sarah langsung mengeluarkan dua buah koper yang sebenarnya ukurannya cukup lumayan besar. Tapi karena Sarah sudah biasa mengangkat barang-barang berat di panti, dari mulai tabung gas yang beratnya 12 kg, galon air bahkan beras 25 kilo pun terkadang Sarah yang memindahkannya dari depan rumah ke dapur. Jika kebetulan satpam atau penjaga panti yang pria sedang sibuk dengan pekerjaan lain.
Kalau hanya dua koper yang bisa di dorong atau di tarik. Sarah sama sekali tidak menganggap itu sulit.
Ketika Tristan keluar dari dalam mobil, dia cukup terkejut karena dua koper Sarah sudah berada di luar bagasi mobilnya. Sedangkan tadi, dia sempat melihat Richard saja kesulitan mengangkat dan memasukkan dua koper itu ke bagasi mobil. Tapi melihat Sarah begitu mudah mengeluarkannya dari bagasi. Tristan pun sedikit mengangkat alisnya sebelum dia akhirnya berjalan menghampiri Sarah.
"Panggil saja security untuk membantumu!" kata Tristan.
'Hais, punya suami tapi panggil security. Ck... aku mau menjaga harga dirinya. Tapi dia malah ingin mempermalukan dirinya sendiri!' batin Sarah.
Karena menurut Sarah itu ya begini, karena mereka masih memakai pakaian pengantin. Pasti semua orang ayng melihat mereka akan menyadari kalau mereka itu adalah pasangan suami istri. Dan kalau Sarah minta bantuan pada security untuk membawakan kopernya, sementara ada Tristan di sana. Bukankah sama saja itu menunjukkan ketidakmampuan Tristan hanya untuk membawakan koper istrinya. Itu akan membuat security apartemen berpikir kalau Tristan itu tidak punya rasa perduli pada istrinya sendiri. Bagaimana pria yang tidak perduli pada istrinya sendiri akan perduli pada orang lain.
Sarah menghela nafasnya panjang.
"Tidak perlu, aku akan bawa sendiri!" kata Sarah tanpa melihat ke arah Tristan.
"Baiklah, ayo!" sahut Tristan yang langsung melangkah maju meninggalkan Sarah menuju lift.
Sarah benar-benar tak habis pikir dengan manusia batu di depannya itu. Tapi karena Sarah sudah biasa hidup mandiri, ini bukan masalah besar untuknya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di depan pintu apartemen milik Tristan. Tristan terlihat menekan beberapa tombol untuk membuka pintu. Setelah pintu itu terbuka, Tristan masuk terlebih dahulu.
"Cepat masuk, kalau pintunya tertutup rapat. Akan otomatis terkunci!" kata Tristan.
Sarah pun dengan cepat menarik dua kopernya menuju ke dalam. Setelah itu pintu itu benar-benar tertutup rapat dan terkunci secara otomatis.
"Dimana kamar ku?" tanya Sarah yang memang sudah lelah.
"Apa maksud mu?" tanya Tristan.
Sarah langsung mengernyitkan keningnya.
"Kamarku, aku mau ke kamarku dan istirahat!" kata Sarah.
"Ck... hanya ada satu kamar. Di lantai dua ada dua ruangan tapi aku gunakan untuk ruang kerja dan mini bar! satu kamar lagi di bawah aku jadikan tempat billiar!" jelas Tristan.
"Jadi aku harus tidur dimana?" tanya Sarah.
'Hais, dia sendiri yang memintaku tinggal di apartemen nya. Katanya banyak kamar, dasar manusia batu. Banyak kamar sih banyak, tapi kalau tidak ada yang kosong lantas aku harus tinggal dimana? menyebalkan!' keluh Sarah dalam hatinya.
Namun karena hari ini Sarah sangat lelah, dia memilih tidak bertengkar dan hanya mengalah.
"Baiklah, tapi kamu jangan masuk ke dalam kamar sebelum aku selesai dan keluar ya!" tegas Sarah.
Tristan langsung menampilkan ekspresi meremehkan Sarah.
"Siapa yang mau masuk saat kamu ada di dalam, jangan terlalu percaya diri dengan dada ratamu itu!" seru Tristan yang langsung menoleh ke arah tempat yang dia sebut tadi.
Sarah langsung menyilangkan tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Ck... dasar!" kesalnya yang langsung menarik dua kopernya menuju ke arah kamar yang tadi di tunjuk oleh Tristan.
Begitu Sarah membuka pintu kamar itu, Sarah langsung menghentikan langkahnya. Dari arah pintu saja, dari sudut pandang dari arah pintu. Dia bisa langsung melihat foto besar seorang wanita terpajang di dinding yang langsung dapat di lihat dengan jelas dari tempat Sarah berdiri saat ini.
Entah kenapa perasaan Sarah menjadi sangat tidak nyaman, dia berusaha untuk tetap melangkah masuk karena dirinya pun sudah menandatangani surat perjanjian dengan Tristan. Namun tetap saja rasanya langkahnya semakin berat ketika semakin ke dalam kamar itu, semakin banyak pula foto wanita itu di dalam kamarnya Tristan.
'Dia memang sangat cantik, ayolah Sarah. Apa perduli mu. Cepat mandi, rapikan pakaian dan tidur!' batin Sarah.
Sarah berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri. Sarah mencari lemari yang kosong dan menata pakaiannya di lemari itu. Selanjutnya Sarah mengambil piyamanya yang tebal. Setelah itu Sarah meletakkan kopernya di sisi lemarinya. Setelah itu Sarah bergegas ke kamar mandi.
Ada sebuah jacuzzi di dalam kamar mandi. Sarah cukup terpukau dengan kerapihan dan kebersihan kamar mandi Tristan.
Setelah beberapa lama kemudian, Sarah pun keluar dari kamar mandi. Dan dia terkejut melihat Tristan sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Agkhhh, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Sarah yang terkejut.
Mata Tristan malah melotot ke arah Sarah.
"Hei, apa kamu lupa ini kamar ku. Cepat keluar!" seru Tristan.
Sarah langsung meraih sisir dan jepit rambutnya dari atas meja. Lalu segera keluar dari kamar Tristan.
'Ih, tuh orang kenapa lagi sih?' batin Sarah bingung.
Setelah pintu kamarnya tertutup, Tristan pun duduk di tepi tempat tidurnya. Lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia lalu menatap foto Shanum yang terpajang di depan tempat tidurnya itu.
"Maafkan aku Shanum, bagaimana mungkin aku baru mengingatmu sekarang. Ada apa denganku?" sesal Tristan yang baru menyadari kalau dia telah melupakan Shanum seharian ini.
***
__ADS_1
Bersambung...