
Sarah masih berbicara dengan dokter Alam, karena Tristan terus meminta untuk pulang ke rumah. Dan tak mau di rawat di rumah sakit lagi. Jadi Sarah menemui dokter Alam di kantornya.
"Tapi sebenarnya kaki kanannya masih belum pulih benar, benturan akibat kecelakaan itu menyebabkan kaki kanannya belum bisa berfungsi dengan sebagaimana biasanya. Maksudku dia bahkan mungkin tidak akan bisa berlari selama dua atau tiga minggu ke depan. Dan untuk naik turun tangga...!"
Dokter Alam kembali menggelengkan kepalanya.
"Tristan sangat tidak di anjurkan untuk melakukan itu. Itu lebih akan memakan waktu lama lagi untuk kali kanannya bisa pulih!" jelas dokter Alam.
Sarah pun lantas berpikir, separah apakah kecelakaan yang terjadi pada Tristan saat di Paris. Dan apa yang menyebabkan hal itu, kenapa Tristan bisa kecelakaan. Bukankah dia orang yang sangat waspada dan berhati-hati.
Sarah pun hanya bisa menghela nafas memikirkan segala kemungkinan yang menjadi penyebab kecelakaan Tristan. Lalu dimana Shanum saat itu, bahkan sampai saat ini Shanum bahkan tidak menghubungi Tristan. Sarah jadi makin menduga-duga lagi.
'Apa jangan-jangan mereka bertengkar. Hingga Tristan sama sekali tidak ingat pada Shanum? biasanya yang aku lihat di film-film, meski seseorang itu hilang ingatan, dia tidak akan melupakan orang yang paling dia cintai dan paling mencintai nya. Apa mereka bertengkar?' tanya Sarah dalam hatinya.
Tapi semakin memikirkan hal itu, Sarah pun kembali terdiam. Membuat dokter Alam memanggil nama Sarah agak keras. Sebab di panggil pelan, Sarah masih belum tersadar dari lamunannya sendiri itu.
"Sarah... Sarah!"
"Hah, iya dokter!" sahut Sarah yang terkesiap sambil sedikit nyengir menyadari kelakuannya yang sedikit random.
Tapi melihat tingkah Sarah itu dokter Alam malah tersenyum.
"Kalau memang Tristan mau keluar dari rumah sakit, bagaimana kalau pastikan dia tidak banyak bergerak dan berjalan dulu di rumah ya! juga jangan lakukan kegiatan rutin kalian sebagai suami istri dulu selama pemulihan Tristan!"
Wajah Sarah langsung blush, meskipun dia dan Tristan tidak pernah melakukan kegiatan yang di maksud. Namun Sarah mengerti apa yang dimaksud dokter Alam. Dan membicarakan hal itu meskipun dengan seorang dokter membuat Sarah jadi sangat salah tingkah dan canggung.
Sarah lantas berdiri dari kursinya dengan cepat. Dia sedikit membungkukkan badannya ke arah dokter Alam.
"Baik dokter, aku mengerti. Aku permisi dulu!" ucap Sarah yang langsung bergegas meninggalkan ruangan itu.
Setelah Sarah pergi dan pintu ruangan dokter Alam kembali tertutup. Dokter Alam kembali tersenyum karena tingkah Sarah itu.
Sementara di dalam ruangan rawatnya. Tristan yang sudah di berikan ponsel baru setelah ponsel lamanya hilang di Paris. Memutuskan untuk menghubungi Richard, karena ingin memberikan hadiah untuk Sarah yang selama ini sudah ada bersamanya dalam situasi dan kondisi apapun.
Tristan kini mulai menyadari kalau memang hanya Sarah, yang ada di sisinya saat tersulit dalam hidupnya sekalipun. Tristan ingin memberikan apresiasi atas apa yang sudah Sarah lakukan untuknya selama ini.
"Halo siapa nih, kok tahu no private Richard Meyer, situ stalker ya?" tanya Richard yang langsung bicara panjang lebar.
Tristan memutar bola matanya malas, karena masih tak paham dengan kelakuan asisten pribadi nya tersebut. Kalau sudah tahu nomer ponsel Richard adalah nomer private. Seharusnya dia tahu kalau hanya orang-orang tertentu saja yang akan punya nomernya.
"Hei... mau ku potong gaji?" tanya Tristan dengan suara meninggi.
"Oh emji... bos. Sesaat aku lupa kalau kamu amnesia bos. Ucapan mu saat marah masih sama, sedikit-sedikit potong gaji!" balas Richard.
__ADS_1
Tristan yang menyadari hal itu langsung berdehem.
"Ekhem... itu refleks saja. Sudahlah, sekarang dengarkan aku baik-baik. Aku mau kamu bawakan aku rangkaian bunga ke rumah sakit ya. Cepat, tidak pakai lama!" seru Tristan.
Namun saat Tristan masih bicara pada Richard, tiba-tiba saja Sarah membuka pintu kamar rawat Tristan tersebut.
Ceklek
"Rangkaian bunga dalam rangka ap...!"
Tut.. Tut.. Tut..
Richard sedang bertanya pada Tristan rangkaian bunga seperti apa yang harus dia kirimkan ketika Tristan tiba-tiba memutuskan panggilan telepon.
Melihat Tristan yang memegang ponsel, Sarah pun bertanya.
"Kamu menghubungi siapa?" tanya Sarah penasaran.
Tristan langsung meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
"Oh, tidak. Bukan siapapun. Aku hanya melihat seperti apa ponsel yang di belakang kak Rendra untukku!" jawab Tristan sambil tersenyum pada Sarah.
Sarah pun mengangguk paham. Lagipula, Rendra sudah memberitahukan pada Sarah, kalau nomer yang ada di ponsel baru Tristan itu hanya ada nomernya, Sarah, tuan Arya Hutama dan Richard saja. Tidak ada nomer lain, karena memang Rendra merasa hanya nomor-nomor itu saja yang penting untuk Tristan saat ini.
Dan lagi-lagi Sarah menganggukkan kepalanya.
"Iya boleh, aku sudah menghubungi pak Samsudin untuk mengurus semuanya. Kamar kita di rumah ayah harus pindah ke lantai satu, jadi butuh waktu untuk memindahkan barang-barang mu...!"
"Kenapa kita tidak pulang ke apartemen saja?" tanya Tristan menyela ucapan Sarah.
Sarah yang mendapatkan pertanyaan seperti itu langsung sedikit mengangkat alisnya. Pikir Sarah, bagaimana Tristan ingat dia punya apartemen. Sedangkan sejak Tristan siuman, Sarah belum pernah membahas hal itu. Mereka, Sarah, Rendra dan tuan Arya Hutama selalu mengatakan mereka tinggal di kediaman Hutama.
"Apartemen?" tanya Sarah.
Tristan yang sadar kalau dia telah keceplosan pun segera memikirkan alasan yang tepat.
"I... Iya, apartemen. Apa kita tidak punya itu?" tanya Tristan beralasan.
Sarah kembali memperhatikan Tristan dengan seksama.
"Sarah, kita kan punya banyak uang. Maksudku, aku kan CEO sebuah perusahaan yang begitu besar. Hal mustahil kalau aku tidak punya apartemen kan? apa aku juga tidak menghadiahkan sebuah unit apartemen untukmu?" tanya Tristan semakin memperkuat alasannya.
Sarah lalu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Tristan langsung memeluk dahinya sendiri.
"Oh astaga, benarkah? suami macam apa aku ini? maafkan aku Sarah, saat kita kembali nanti, aku akan membelikan satu unit yang paling mewah untukmu!" kata Tristan.
Sarah sempat tercengang, tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak usah Tristan, aku tidak membutuhkan nya!" jawab Sarah.
"Sarah, kita pulang ke apartemen saja ya!" bujuk Tristan pada Sarah.
Melihat Tristan yang sepertinya sangat ingin pulang ke apartemen. Sarah pun akhirnya mengangguk setuju.
"Baiklah, aku hubungi pak Samsudin dulu ya!" kata Sarah lalu menghubungi pak Samsudin di depan Tristan.
'Huh, enak saja mau pulang ke rumah ayah. Yang ada aku kalah saing dengan bocah kecil itu. Perhatian Sarah bisa diambilnya terus, kalau tinggal di apartemen. Perhatian Sarah pasti hanya untukku!' batin Tristan.
Ternyata Tristan minta pulang ke apartemen, karena tidak mau perhatian Sarah terbagi antara dirinya dan Kevin.
Setelah menghubungi pak Samsudin Sarah kembali menghampiri Tristan. Selain permintaan Tristan itu, Sarah juga memikirkan apa kata dokter Alam tadi. Kalau memang naik turun tangga akan sangat tidak baik untuk pemulihan Tristan.
Tok tok tok
Belum sampai Sarah ke samping Tristan. Sudah ada yang mengetuk pintu.
Ceklek
"Aloha... bos ini dia bunganya!" seru Richard heboh sendiri.
Richard membawakan rangkaian bunga yang ukurannya cukup besar dan menyerahkannya dengan percaya diri pada Tristan.
Melihat dan menerima rangkaian bunga itu, mata Tristan langsung melebar. Tristan pun langsung melotot ke arah Richard.
Sarah yang melihat Richard membawakan bunga untuk Tristan tersenyum dan berkata.
"Richard, kamu perhatian sekali pada bos mu. Good job!" kata Sarah sambil memberikan jempol pada Richard.
Tristan terlihat meredam amarahnya karena melihat Sarah tersenyum. Padahal dia ingin sekali melemparkan bunga itu ke wajah Richard. Bagaimana tidak, dia ingin memberikan hadiah pada Sarah. Tapi rangkaian bunga yang di berikan Richard pada Tristan malah rangakaian bunga dengan tulisan Get Well Soon.
'Richard..... dasar bodohhhh!' pekik Tristan dalam hatinya.
Kalau tidak ada Sarah, rangkaian bunga itu benar-benar akan Tristan lempar dengan keras ke wajah Richard.
***
__ADS_1
Bersambung...