Tega

Tega
Bab 199


__ADS_3

Di dalam perjalanan menuju Jakarta, Damar Adhikara dan Widya terus berdoa agar bisa menemukan petunjuk.


"Kita mau cari darimana yah?" kata Widya yang bingung harus mulai pencarian darimana.


"Kita harus menunggu, Baim (pengacara Damar Adhikara) mengatakan kalau orang seperti Mulya itu tidak akan bicara kalau kita tidak tegas bertindak. Aku sengaja tidak mengajakmu ke rumah sakit, karena jika aku mengajakmu. Kamu pasti tidak akan tahan dengan sikap ku pada Inka...!"


"Apa yang kamu lakukan pada Inka, yah? kamu tidak bersikap kasar padanya kan? Inka tidak tahu apa-apa yah!" kata Widya menyela.


"Karena itu aku tidak mengajakmu. Aku serahkan pada Yumi sebuah kartu yang ku bilang isinya 500 juta, ku bilang itu pemberianku yang terakhir pada Inka. Aku juga bilang pada Inka agar jangan pernah panggil aku, ayah lagi. Begitu pula dengan mu, aku minta padanya jangan panggil kamu ibu lagi!" jelas Damar Adhikara panjang lebar yang membuat Widya menangis.


Bagaimanapun juga, Widya telah merawat dan mengurus Inka sejak bayi sampai usianya 26 tahun. Kasih sayangnya tulus pada Inka, meskipun dia bukan putri kandung Widya, tapi rasa sayang Widya juga sangat besar padanya.


"Inka histeris... aku yakin, seperti kata Baim. Inka akan datang ke penjara menemui Mulya. Baim telah meminta temannya yang bertugas disana, untuk mendengarkan dan mengawasi apa saja yang akan Mulya katakan pada Inka. Kemungkinan besar, kita akan tahu dimana Tari berada, saat Inka menemui Mulya nanti!" jelas Damar Adhikara.


Widya pun akhirnya mengangguk paham, ternyata suaminya memang sudah merencanakan ini dengan pengacara mereka.


Sementara Damar Adhikara dan Baim memang sudah membicarakan masalah ini sebelumnya di kantor Baim. Di interogasi seperti apapun, Mulya benar-benar tidak mengubah statement nya kalau Tari di culik. Sama sekali tidak berubah.


Hingga Baim berpikir kalau dengan cara di interogasi atau bahkan di siksa, Mulya memang tidak akan pernah bicara. Jadi mereka merencanakan semua ini. Baim akan mengurus semua di sini. Sedangkan Damar Adhikara akan menunggu kabar dari Baim. Sekaligus mencari Jerry Alando.


***


Di sebuah rumah sakit, di tempat yang berbeda namun di waktu yang sama. Leni sudah pulang kerja dan segera menjenguk Shanum.

__ADS_1


Leni terlebih dahulu bicara pada dokter tentang perkembangan kakak sepupunya itu. Dan kata dokter, memang sudah sangat kecil harapannya untuk Shanum bisa kembali bangkit.


"Pasien sama sekali tak merespon apapun! kami hanya bisa terus berusaha, tapi jika hal seperti ini terjadi terus menerus maka syaraf pasien juga akan terganggu. Aku harap kamu bisa bicara padanya, aku pernah dengar kisah inspiratif darinya di media sosial dua tahun yang lalu. Bukankah dia Shanum Margaretha yang menjadi designer termuda yang tampil di Paris Fashion itu? sangat di sayangkan jika wanita dengan bakat luar biasa sepertinya harus berakhir seperti ini!" kata dokter muda yang bernama Ivana itu.


Ternyata dokter Ivana adalah salah satu pengikut akun media sosial Shanum Margaretha. Dia sangat menyayangkan hal ini terjadi pada idolanya.


Leni yang mendengar apa kata dokter Ivana juga sangat sedih atas apa yang terjadi pada Shanum.


"Baik dokter, aku akan menemuinya! terimakasih untuk apa yang barusan dokter katakan. Setidaknya aku merasa aku tidak sendirian menginginkan kak Shanum kembali bangkit!" kata Leni yang di angguki sang dokter.


Leni lantas masuk ke ruangan Shanum. Shanum masih dengan posisinya berbaring miring sambil menatap nanar ke arah jendela ruangannya yang tirainya masih terbuka.


"Selamat siang kak!" kata Leni yang langsung duduk dan memperhatikan Shanum masih diam saja.


Semangat hidup? itu mungkin sudah tidak di miliki lagi oleh Shanum, dia bahkan sudah tiga kali mencabut sendiri selang infus yang menempel di tangannya. Kalau saja Leni tidak menangis terisak di depannya memintanya jangan melepaskan selang infus itu lagi. Mungkin saja sampai sekarang dia masih akan terus mencabut sendiri selang infusnya.


"Dia datang ke restoran tempat aku bekerja, dia datang bersama kak Sarah. Mereka terlihat bahagia kak, kak Tristan melindungi kak Sarah saat chef menuang anggur di pan sehingga membuat api yang besar membumbung ke atas, tapi sebenarnya itu aman-aman saja. Kak Tristan juga menyuapi kak Sarah dengan sangat hati-hati. Meniup dulu makan panas, sebelum dia suapkan pada kak Sarah. Mereka sangat bahagia, sampai kak Tristan melihat ku!"


Leni menjeda kalimatnya sejenak, melihat setitik air mata mengalir di sudut mata Shanum.


"Aku menemui kak Tristan, meminta agar dia mau datang kemari menjenguk kakak. Tapi tanpa menunggu satu detik. Jawaban kak Tristan adalah tidak!"


"Tapi saat aku akan pergi, kak Sarah memanggil ku. Dia bilang ingin bicara padamu. Kami bicara, dia bertanya siapa namaku, dia bertanya apa saja yang sudah terjadi pada kak Shanum. Karena kak Sarah juga tahu siapa kak Shanum, seorang designer berbakat. Aku menceritakan semuanya, tapi kak Sarah bukannya marah. Dia malah bertanya berapa nomer rekening ku. Dia bilang itu hadiah dari seorang kakak untuk adiknya..!"

__ADS_1


Leni menjeda kalimatnya lagi karena air matanya pun sudah mengalir.


"Kak Sarah bilang, kak Tristan saat pergi ke Paris itu, banyak hal yang dia korbankan. Pernikahannya, bahkan nama belakangnya. Kak Tristan bahkan di coret dari anggota keluarga Hutama. Kata kak Sarah, kak Tristan pernah bekerja di kafe untuk bisa menyambung hidup. Kak Sarah bahkan bilang, dia juga iklhas melepas Tristan kalau memang dia bisa bahagia bersama kakak!"


"Tapi kita sama-sama tahu apa yang terjadi bukan?"


Leni kembali menjeda kalimatnya, cukup lama. Sampai dia bilang lagi.


"Tolong bangkitlah kak, kakak kehilangan kak Tristan. Itu bukan salah kak Tristan atau kak Sarah. Kita sama-sama tahu, siapa yang menolak kak Tristan saat di Paris. Jika itu keputusan kak Shanum, maka kak Tristan juga berhak bahagia kan? mungkin saat itu kak Tristan sedang mencoba mengetahui siapa yang lebih mencintainya. Wanita yang menikah dengannya dan rela dia bahagia meski bersama wanita lain. Atau wanita yang dia cintai tapi justru menomorduakan dirinya"


Tes


Tes


Shanum memejamkan matanya karena air matanya kembali mengalir.


Leni tersenyum sambil menangis melihat Shanum meluapkan emosinya. Artinya Shanum merespon apa yang dia katakan.


"Kak..!"


Leni memanggil Shanum sambil mengusap lengannya dengan lembut.


"Biarkan kak Tristan bahagia, mungkin kebahagiaan kak Shanum juga sudah menunggu kakak di suatu tempat, meskipun itu bukan dengan kak Tristan!" kata Leni pada Shanum.

__ADS_1


***


Bersambung..


__ADS_2