Tega

Tega
Bab 112


__ADS_3

Sudah beberapa hari sejak Tristan di rawat di sebuah ruangan VVIP di salah satu rumah sakit terbaik di kota ini. Sudah beberapa hari pula, tuan Arya Hutama terus berada di rumah sakit untuk menunggu Tristan sadar. Dan di sini jugalah Sarah berada. Selama beberapa hari tuan Arya Hutama berada di rumah sakit, selama itu pula Sarah mendapatkan ijin untuk tidak bekerja di perusahaan dan terus menemani Tristan di rumah sakit.


Sedangkan Rendra, juga terlihat sangat lelah setiap kali datang ke rumah sakit karena begitu banyak pekerjaan yang dia tinggalkan saat ayahnya sakit karena Tristan, dan ketika dia harus ke Paris beberapa hari yang lalu.


Hari sudah menjelang siang, Sarah saat ini sedang membereskan peralatan makan yang tadi baru saja di pakai oleh dirinya, tuan Arya Hutama dan juga pak Samsudin untuk makan siang.


Ketika Rendra datang dengan membuka pintu tanpa mengetuknya.


"Sarah!" panggil Rendra begitu dia masuk ke dalam ruang rawat Tristan.


Sarah langsung menoleh, tuan Arya Hutama juga.


"Ada apa Rendra?" tanya tuan Arya Hutama yang memang jaraknya lebih dekat dengan Rendra karena tuan Arya Hutama dan pak Samsudin sedang duduk di sofa dekat tempat tidur pasien Tristan, di bandingkan Sarah yang sedang membereskan meja makan yang ada di ruangan tersebut.


"Ayah, ini... Kevin merengek ingin bertemu dengan Sarah. Aku sudah coba jelaskan padanya, sudah ku tawari berbagai macam hal lain. Tapi dia tetap tidak mau makan, dia hanya ingin bertemu mama Sarah-nya, katanya!" jelas Rendra yang terlihat berantakan.


Jas yang dia pakai terlihat tidak rapi, bahkan rambutnya juga sudah mulai panjang. Sepertinya beberapa hari ini Rendra lupa bercukur dan memotong rambutnya.


Tuan Arya Hutama lantas mengangguk paham. Sudah beberapa hari memang Sarah hanya mengurus Tristan dan juga dirinya. Jadi tuan Arya Hutama merasa wajar kalau Kevin merindukan Sarah.


"Ayah, aku akan menjemput Kevin ya. Ruangan ini kan juga cukup nyaman, lagipula Tristan bukan sedang sakit penyakit yang menular kan? Boleh kan ayah?" tanya Sarah pada tuan Arya Hutama.


Rendra sebenarnya sangat senang mendengar ide Sarah itu. Dia benar-benar tidak bisa lama-lama berada di rumah atau di rumah sakit. Karena urusan kantor yang begitu banyak. Selain di perusahaannya sendiri, dia juga menjadi wakil dari Tristan di perusahaan yang Tristan pimpin. Dan kebetulan juga perusahaan mereka benar-benar sedang banyak tender dan order.


Jadi Rendra sangat berharap kalau ayahnya mengijinkan Sarah menjemput Kevin. Karena di benar-benar tidak bisa pulang menemani Kevin. Bahkan setengah jam lagi Rendra harus meeting.


"Baiklah!" jawab tuan Arya Hutama.


Mendengar jawaban dari sang ayah, Rendra terlihat langsung menghela nafas lega.

__ADS_1


"Sarah, pak supir sudah menunggu di bawah. Maafkan aku, karena aku harus kembali ke kantor dan tidak bisa mengantarmu!" kata Rendra terlihat tak enak hati.


"Tidak apa-apa kak, dimana supirnya menunggu?" tanya Sarah setelah meraih tasnya.


"Di depan lobby rumah sakit!"


"Baiklah, ayah, pak Sam, aku pergi dulu!" kata Sarah yang langsung bergegas meninggalkan kamar rawat Tristan tersebut.


Sarah terburu-buru karena dia hafal betul seperti apa Kevin kalau sedang merengek. Kevin bukan anak yang suka membanting barang atau marah-marah pada orang lain saat sedang merajuk. Tapi Kevin lebih banyak diam, dan mengunci diri di dalam kamar. Sarah malah cemas, karena kata bunda Tiara. Anak yang punya kecenderungan diam saat marah, maka sebenarnya dia akan lebih tersakiti dari dalam. Di bandingkan dengan anak yang biasa meluapkan emosinya.


Rendra yang awalnya ingin mengantar Sarah sampai ke lobby pun terdiam di tempatnya karena ketika Rendra berbalik, Sarah sudah tidak terlihat.


Tuan Arya Hutama yang melihat hal itu mengerti, dia hanya sedikit mengembangkan senyuman lalu berkata.


"Lihatlah Sam, Sarah lebih mencemaskan Kevin daripada ayahnya sendiri. Langkah Sarah bahkan lebih cepat, padahal kaki Rendra lebih panjang daripada Sarah !" kata tuan Arya Hutama.


Dan apa yang dikatakan sang ayah itu membuat Rendra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Di pikirnya sudah tak mungkin menyusul Sarah yang sudah pasti sekarang sudah masuk lift, Rendra pun kembali berbalik ke arah sang ayah.


"Sudah, kamu tenang saja. Selama Sarah ada di sini. Ayah pasti akan makan teratur, minum obat teratur dan juga istirahat teratur, tapi entah kalau Sarah sudah...!"


Tuan Arya Hutama menghentikan apa yang mau dia katakan. Matanya kembali berkaca-kaca.


Rendra yang melihat kesedihan sang ayah, lalu duduk di sampingnya dan mengusap punggung sang ayah perlahan selama beberapa kali.


"Surat-suratnya sudah siap Rendra, kita hanya tinggal menunggu Tristan bangun dan sadar dari koma, lalu mereka akan menandatangani surat perpisahan itu. Kita akan kehilangan Sarah, Rendra...!" lirih tuan Arya Hutama yang begitu sedih.


Rendra yang menyaksikan ayahnya kembali sedih seperti itu pun tak dapat menahan kesedihannya pula. Meski dia terus mengusap punggung sang ayah. Tapi dia juga tak bisa berkata apa-apa. Karena sebenarnya Rendra tidak hanya memikirkan sang ayah, putranya sendiri. Kevin, juga pasti akan sangat sedih kalau tahu Sarah akan pergi dari keluarga Hutama. Rendra juga tak bisa membayangkan seperti apa sedihnya Kevin nanti.


Pak Samsudin juga hanya bisa terdiam. Namun ada satu orang lagi yang ternyata mendengar apa yang tuan Arya Hutama keluhkan tersebut.

__ADS_1


Di atas tempat tidurnya, di kondisinya yang terbaring lemah tak berdaya. Tristan mendengar apa yang baru saja ayahnya katakan itu.


"Apa ayah juga akan tetap mengusir Tristan? ayah, kemarin Sarah bilang padaku. Ketika kami menjaga Tristan bersama. Dia bilang padaku, untuk mengatakan pada ayah, meminta pada ayah agar jangan mencoret nama Tristan dari kartu keluarga atau dari perusahaan jika memang mereka sudah berpisah nanti. Sarah bilang, dia akan baik-baik saja. Semua yang ayah berikan padanya sudah lebih dari cukup!" kata Rendra mengatakan apa yang kemarin Sarah katakan padanya.


"Ayah, Sarah tidak mau sampai ayah menyesal karena Sarah tahu kalau ayah sangat mencintai Tristan, sangat menyayangi Tristan!"


"Tapi adikmu sudah meninggalkan kita, dan karena tingkah bodohnya itu kita akan kehilangan Sarah. Dia pantas menerima semua itu. Biar dia kejar wanita itu, sekarang dimana wanita itu saat adikmu seperti ini. Siapa yang sudah mengurus adikmu? Sarah yang mengurusnya. Bukan wanita yang dia kejar-kejar itu!"


Dari ucapannya sangat jelas, tuan Arya Hutama meskipun sangat khawatir pada kondisi Tristan. Tapi tetap tak bisa menutupi rasa kecewanya yang teramat besar pada putra bungsunya itu.


"Tapi ayah... kita tidak tahu yang terjadi di Paris. Kita juga tidak tahu apa tujuan Tristan kesana. Ayah, maksudku apa tidak sebaiknya kita tanyakan pada Tristan...!"


"Cukup Rendra, katamu kamu ada meeting kan? pergilah sekarang? keputusan ayah sudah bulat. Saat Tristan sadar nanti dan sudah kembali sehat seperti sediakala. Dia harus menanggung semua konsekuensi atas apa yang dia lakukan!" tegas tuan Arya Hutama.


Rendra hanya bisa menghela nafas panjang, dia juga tidak ingin mendebati sang ayah yang memang baru sembuh juga.


"Baiklah ayah, aku pergi dulu. Pak Sam, tolong jaga ayah dan Tristan. Jika ada apapun, jangan ragu untuk menghubungi ku!" kata Rendra.


Pak Samsudin yang mendengar instruksi itu pun langsung mengangguk paham.


"Baik tuan muda!"


Rendra pun pergi, sebelum benar-benar keluar dari kamar rawat Tristan. Rendra menoleh sekilas ke arah Tristan.


'Entahlah Tristan, tapi aku bahkan berpikir lebih baik kamu koma saja dan jangan sadar dulu, sampai kemarahan ayah hilang!' batin Rendra lalu pergi.


Sementara Tristan yang meskipun belum bisa merespon. Namun dapat mendengar semua yang ayahnya dan kakaknya katakan tadi. Saat ini bahkan sedang merenung di dalam hatinya. Jauh di dalam hatinya, ada penyesalan yang begitu dalam, kenapa dia malah nekat menyusul Shanum tanpa menjelaskan alasannya melakukan itu pada ayahnya, kakaknya dan juga Sarah.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2