Tega

Tega
Bab 59


__ADS_3

Tanpa terasa hari-hari berlalu begitu cepat, kini tinggal satu hari lagi menjelang pernikahan Sarah dan Tristan. Di rumah sewa panti asuhan semua orang sedang sibuk menyiapkan pengajian sebelum pernikahan.


Namun hanya beberapa tetangga panti, dan tokoh masyarakat di daerah tempat tinggal Sarah itu yang di undang untuk datang ke pengajian dan hadir. Beberapa tetangga yang mengenal Sarah pun datang karena mereka ingin ikut mendoakan kelancaran pernikahan dan kelanggengan rumah tangga Sarah, yang mereka kenal sebagai warga yang baik dan jarang terlibat masalah di daerah itu.


Sarah yang juga di kenal senang membantu siapa saja yang mengalami kesulitan di daerah itu juga membuat banyak ibu-ibu di sana bahkan bersedia membantu membuat kue dan menyiapkan hal lainnya tanpa diminta. Pokoknya banyak sekali warga yang datang begitu tahu bunda Tiara akan mengadakan pengajian malam ini untuk pernikahan Sarah.


Sementara di dalam kamarnya, Sarah sedang merapikan pakaiannya. Karena setelah menikah besok, dia akan langsung tinggal di apartemen Tristan.


Sarah sejak tadi hanya diam, karena sebenarnya dia juga sangat sedih meninggalkan keluarga yang sudah bersama dengannya selama 24 tahun lebih.


Namun hal ini juga dia lakukan demi keluarga di panti asuhan ini. Dengan Sarah menikahi Tristan, maka Arya Hutama bahkan akan menjadi donatur tetap dan langsung menyisihkan beberapa persen keuntungan perusahaan langsung ke panti asuhan. Membangun panti asuhan lebih besar, dan membangun sebuah mini market yang akan di kelola oleh bunda Tiara dan adik-adik panti yang sudah SMA, dan sebentar lagi lulus.


Sarah bisa tenang karena pasti panti asuhan dan bunda Tiara tidak akan pernah lagi kesulitan memenuhi kebutuhan panti dan sekolah adik-adiknya.


Ketika Sarah sedang merapikan pakaiannya dan memasukkan ke dalam koper. Bunda Tiara membuka pintu kamar Sarah yang memang tidak tertutup sepenuhnya.


"Sarah!" panggil bunda Tiara.


Sarah langsung menoleh dan meletakkan pakaian yang akan dia masukkan ke dala tas. Bunda Tiara pun duduk di sebelah Sarah, di tepi tempat tidur Sarah.


Perlahan bunda Tiara menepuk punggung tangan Sarah yang dia letakkan di atas pangkuannya.


"Besok kamu sudah akan meninggalkan panti ini. Tapi bunda tetap berharap dimanapun kamu berada. Kamu selalu bahagia!" ucap Bunda Tiara dengan lembut.

__ADS_1


Sarah juga hanya mengangguk sedih.


"Dan ini...!"


Bunda Tiara mengeluarkan sesuatu dari saku baju hangatnya. Sebuah kotak kecil, seperti kotak perhiasan namun modelnya polos dan bentuknya sangat sederhana.


Bunda Tiara lalu memberikan kotak itu pada Sarah.


Sarah menerima kotak pemberian bunda Tiara itu dan membukanya perlahan. Mata Sarah terbuka lebar dan berkaca-kaca ketika melihat apa isi di dalam kotak kecil berwarna coklat itu.


Sarah meraih benda itu dan melihatnya dari dekat.


Sebuah kalung berwarna perak, namun sepertinya bahannya bukan dari perak biasa. Dengan liontin berbentuk angsa berwarna hitam yang di kelilingi pagar berbentuk hati. Dari bentuknya saja pasti sangat sulit untuk mengukir liontin dengan begitu banyak bentuk dengan ukuran yang bahkan tidak sampai dua centimeter.


"Dulu kamu menitipkan liontin itu karena Hera terus berusaha mencurinya darimu kan. Dan setelah Hera di adopsi, kamu bilang biar bunda saja yang simpan. Besok kamu sudah akan pergi dari panti nak, bunda kembalikan itu padamu. Simpan itu dengan baik, hanya itu satu-satunya barang dari masa lalu mu nak. Kalung itu tersenyum di dalam dress yang kamu pakai saat bunda menemukan mu di depan pintu panti asuhan!" terang bunda Tiara yang membuat Sarah kembali menangis.


"Jangan pernah berpikir hal yang kita sendiri tidak meyakininya nak. Bunda selalu bilang padamu kan, jangan pernah berpikir kalau kamu sengaja di tinggalkan di sana waktu itu. Karena kita tidak itu sebenarnya yang terjadi hal itu atau bukan, tetaplah berpikiran positif. Kalau orang yang meninggalkan mu di depan pintu panti saat itu ingin kamu tetap hidup dengan aman. Sebab kalau bukan karena alasan itu, kamu tidak akan di tinggalkan di depan pintu panti kan? mungkin kalau orang yang meninggalkan mu ingin kamu celaka, dia bisa meninggalkan mu dimana saja. Tapi dia memilih meletakkan mu di depan pintu panti, mendudukkan mu disana, di tempat yang ada karpetnya dan terlindung dari gerimis malam itu. Iya kan?" tanya bunda Tiara.


Sarah pun langsung mengangguk paham, dia juga langsung memeluk bunda Tiara.


"Aku memang beruntung bunda, apalagi aku sampai bertemu bunda. Yang menyayangi ku dengan sepenuh hati, terimakasih untuk segalanya selama ini bunda!" lirih Sarah yang terisak.


Bunda Tiara juga ikut terisak. Dia juga sangat berat harus berpisah dengan Sarah yang biasanya setiap hari selalu dia lihat dan ajak bicara, ajak bercanda, membantu semua pekerjaannya, dan bunda pasti akan sangat merindukan tawa dan keceriaan Sarah yang akan hilang dari panti asuhannya.

__ADS_1


Hingga beberapa waktu kemudian, Indah datang dan mengatakan kalau Rendra datang. Rendra sengaja datang untuk menjadi perwakilan keluarga Hutama yang menghadiri pengajian di panti. Maklum saja, karena dari keluarga Hutama memang tidak ada anggota keluarga yang wanita. Jadi Rendra yang datang.


Pengajian pun di mulai, suasana nampak hikmat. Namun air mata Sarah tak dapat berhenti mengalir. Karena dia juga sering menghadiri pengajian menjelang pernikahan seperti ini, dan biasanya calon pengantin wanita akan di dampingi oleh orang tuanya kemudian memberikan doa setelah sang anak memohon maaf.


Bunda Tiara terus merangkul Sarah, Rendra yang melihat hal itu jadi ikut sedih juga.


Sementara itu di kediaman Hutama, pengajian dengan maksud dan tujuan yang sama juga sedang dilaksanakan. Meskipun tadi sore sempat ada sedikit drama.


Drama yang terjadi tadi sore adalah drama penjemputan paksa Tristan dari kantor oleh Arya Hutama secara langsung. Kalau Sarah memang sudah cuti selama satu minggu, Tristan malah sengaja datang ke kantor hari ini.


Tapi semua itu dapat di atasi karena Arya Hutama sendiri yang turun tangan. Meski dengan wajah yang kesal dan sangat terlihat terpaksa mengikuti semua prosesinya. Namun Tristan tak banyak bicara atau membuat masalah. Dia sadar kalau dirinya memang sudah tidak bisa mundur lagi.


Richard yang kebetulan duduk di samping Tristan mencoba untuk mengajak Tristan ikut membaca surat Ar Rahman yang kebetulan sedang di baca dan di pimpin oleh seorang ustadz.


"Bos, ayo ikut baca!" ajak Richard.


"Diam kamu, mau baca atau tidak bukan urusanmu!" ketus Tristan.


Kevin yang tadinya duduk di dekat sang kakek pun menghampiri Tristan dan duduk di sampingnya.


"Uncle tidak baca karena tidak bisa membacanya ya, yah... uncle kalah dong sama Kevin. Kevin hafal di luar kepala surat ini!" sindir Kevin.


Richard terkekeh mendengar apa yang Kevin katakan. Dan karena tak mau di anggap tidak bisa. Tristan lantas merampas buku yang di pegang Richard lalu membaca dengan lantang surat tersebut.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2