Tega

Tega
Bab 202


__ADS_3

Kepala detektif Rudi, tim yang di sewa oleh Damar Adhikara sudah menemukan beberapa panti asuhan yang kala itu ada di dekat taman bermain tersebut. 24 tahun yang lalu di sekitar tempat itu ada lebih dari 20 panti asuhan. Seiring waktu, sekarang hanya tinggal ada 10 saja yang masih tersisa dan beroperasi. Artinya masih menampung anak-anak yang memang membutuhkan tempat berlindung. Karena tak punya rumah, di buang oleh keluarganya atau semacamnya.


Mendengar penjelasan dari Rudi, Damar Adhikara sedikit panik. Dia takut kalau ternyata anaknya malah di buang oleh Mulya di salah satu panti asuhan yang sudah tutup itu. Tapi setelah dia melihat foto Tari kecil yang sudah dikirim oleh Baim. Damar Adhikara menjadi kembali optimis.


"Nak, ayah akan mencari mu. Ayah pasti akan menemukanmu Tari!" gumam Damar Adhikara yang sedang menuju ke panti asuhan pertama bersama Rudi.


***


Sementara itu Jerry Alando, saat ini sedang berada di sebuah perusahaan. Dia sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan tersebut agar bisa membangun bisnisnya di kota ini. Jerry Alando yang memang sudah pernah bekerja di Jakarta pun tahu cukup banyak perusahaan mana saja yang saat ini sedang berkembang atau tidak. Mana perusahaan yang akan dia ajak kerja sama atau tidak.


Jerry Alando bahkan sudah jadi penanam modal terbesar di beberapa perusahaan di Jakarta ini.


Dan saat ini Jerry Alando baru saja selesai meeting dengan perusahaan jasa terbesar di kota ini. Saat dia keluar. Kebetulan dia tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang yang sedang memaki keluarga Hutama.


"Semua ini gara-gara keluarga Hutama itu. Jika tidak, mana mungkin kita kehilangan proyek ini!" keluh pria itu yang ternyata adalah Chandra Wijaya.


Mendengar nama keluarga Hutama di sebut oleh pengusaha tadi. Jerry Alando lantas berpikir kalau mungkin yang sedang pengusaha itu bicarakan adalah keluarga Arya Hutama.


Penasaran dan ingin menjadikan semua ini peluang lebih besar untuk menghancurkan Tristan. Akhirnya, Jerry Alando dan anak buahnya menghampiri Chandra Wijaya.


"Permisi tuan!" kata Jerry Alando.


Chandra Wijaya yang memang sedang kesal tak menggubris sama sekali Jerry Alando. Pikir Chandra Wijaya, Jerry Alando itu pasti bukan siapa-siapa. Karena dari tampilannya yang masih muda dan tak pernah dia lihat dalam konferensi bisnis. Chandra Wijaya memilih mengacuhkan Jerry Alando daripada membuang waktunya dengan percuma.


Jerry Alando tidak marah ketika Chandra Wijaya mengacuhkannya. Jerry malah tersenyum menyeringai dan berkata.


"Jika yang sedang anda bicarakan tadi adalah Arya Hutama dan kedua putranya, maka musuh kita sama tuan!" kata Jerry Alando dengan lantang.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Jerry Alando itu, Chandra Wijaya yang tadi mengacuhkan Jerry Alando pun menghentikan langkahnya.


Chandra Wijaya dengan dua asistennya lantas berbalik.


"Apa kamu bilang anak muda? siapa kamu?" tanya Chandra Wijaya.

__ADS_1


Jerry Alando tersenyum puas, ketika dia melihat Chandra Wijaya mulai tertarik dengan apa yang dia bicarakan.


Jerry Alando lantas maju dan mengulurkan tangannya pada Chandra Wijaya.


"Jerry Alando, CEO Garmen Noah!" katanya memperkenalkan diri.


Chandra Wijaya yang memang pernah mendengar perusahaan yang di sebutkan Jerry Alando langsung mengangkat kedua alisnya dan menjabat tangan Jerry Alando.


"Oh.. rupanya kah jutawan baru itu. Aku sudah dengar banyak sekali investasi mu di perusahaan Nikel tuan Tommy! jadi kamu juga musuh keluarga Hutama?" tanah Chandra Wijaya.


Dan Jerry Alando pun segera menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Benar, dan kalau tuan...!"


"Chandra Wijaya, aku CEO Wijaya grup. Kamu juga pasti pernah dengar kan, aku juga politikus dan pemegang saham terbesar perusahaan batu bara kota ini!" jelas Chandra Wijaya membanggakan dirinya.


"Baiklah tuan Chandra Wijaya, bagaimana kalau kita bicara sambil minum kopi?" tanya Jerry Alando mengajak Chandra Wijaya untuk bekerja sama.


Ajakan Jerry Alando itu di sambut baik oleh Chandra Wijaya. Di resto sebuah hotel, mereka bicara. Setelah di tanya oleh Jerry Alando, Chandra Wijaya pun menceritakan semuanya, kenapa dia sangat tidak suka dengan keluarga Hutama.


"Ck... itulah Jerry, kalau si Rendra itu yang datang ke sana itu penculikan namanya. Ini anakku yang kesana dan mereka bahkan sekarang sudah menikah. Mau bagaimana lagi?" tanya Chandra Wijaya kesal.


"Aku akan membantumu tuan Chandra. Bagaimana kalau kita kerja sama, kita hancurkan Arya Hutama grup?" tanya Jerry Alando dengan pandangan mata serius.


Chandra Wijaya tentu saja sangat tertarik dengan tawaran Jerry Alando tersebut. Menghancurkan Arya Hutama memang adalah tujuannya sejak lama.


***


Sementara itu, Damar Adhikara sudah pergi memeriksa ke panti asuhan yang ketiga. Dan hasilnya nihil. Dua panti dari tiga yang sudah mereka kunjungi bahkan sudah berganti kepemilikan. Atau berganti pengurus. Pengurus yang lama bahkan sudah tiada.


"Jangan khawatir tuan, masih ada 7 panti lagi. Kesempatan artinya masih ada 70 persen lagi" kata Rudi.


Damar Adhikara yang terlihat lelah pun mengangguk. Meski dia baru sampai di Jakarta, dan langsung mencari anaknya, meski wajah lelah terhambat jelas di wajah paruh baya nya. Tapi Damar Adhikara tetap optimis. Baginya semua ini belum apa-apa. Di banding rasa bersalahnya telah teledor dan membuat putri kandungnya berjuang sendirian di luar kediaman Adhika selama 24 tahun. Itu bukan waktu yang singkat.

__ADS_1


"Kita teruskan Rudi, kita datangi panti asuhan selanjutnya!" kata Damar Adhikara.


Beberapa jam berlalu, dan saat ini waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Mereka baru saja keluar dari panti asuhan yang ke empat.


"Kita lanjutkan besok saja Rudi. Kalian sudah bekerja keras hari ini. Terima kasih banyak, kita kembali saja ke hotel! Besok kita cari lagi!" kata Damar Adhikara.


Rudi dan yang lain mengangguk paham. Mereka pun kembali ke hotel, awalnya Rudi menyarankan untuk membagi tim saja. Tapi Damar Adhikara tidak ingin seperti itu. Dia ingin pastikan sudah mengecek satu persatu sendiri. Bukan tidak percaya, hanya ingin memastikan saja.


Setelah kembali ke hotel, Widya yang memang keadaannya sedang kurang sehat lantas menghampiri Damar Adhikara.


"Ayah, bagaimana? sudah ada petunjuk tentang Tari?" tanya Widya.


"Belum Bu, tapi tidak apa-apa. Kita sudah di sini kan? kita pasti bisa menemukan anak kita Tari!" kata Damar memberi semangat pada dirinya sendiri dan juga istrinya, Widya.


"Tari!" lirih Widya sambil menangis.


***


Di apartemen Tristan. Sarah sedang duduk di balkon sambil melihat ke langit yang penuh dengan bintang.


Tristan memeluk Sarah dari arah belakang.


"Sedang apa sayang?" tanya Tristan.


"Sedang melihat bintang! mungkin salah satunya adalah ayah dan ibuku!" kata Sarah.


"Kamu percaya hal seperti itu? siapa tahu ayah dan ibumu masih hidup?" tanya Tristan.


"Aku sudah mengubur harapan itu sejak lama Tristan, aku tidak ingin terluka. Kalau memang mereka masih hidup, aku tidak perlu menunggu selama 24 tahun bukan?" tanya Sarah terdengar sedih.


Tristan memeluk Sarah semakin erat.


"Jangan sedih sayang, aku akan selalu bersamamu!"

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2