Tega

Tega
Bab 243


__ADS_3

Oscar membuka mulutnya lebar ketika mengetahui kalau Renata adalah calon mama tirinya Rani.


"Yang benar Tante?" tanya Oscar yang terlihat tidak percaya pada apa yang dikatakan Renata padanya.


Renata benar-benar memutar matanya malas, panggilan Tante benar-benar mengganggunya. Kalau itu dikatakan oleh Raja, Ratu atau Kevin yang usianya masih di bilang balita sih tidak masalah. Tapi ini di ucapkan oleh anak remaja, dia benar-benar merasa usianya masih jauh lebih muda dari Gisella Anastasia. Kenapa semua anak SMA yang di temuinya memanggilnya Tante.


"Plis deh Oscar, aku tuh mau nikahnya sama papanya Rani. Bukan sama om kamu, jadi stop panggil aku tante ya. Call me Kak Renata! oke!" kata Renata yang langsung di balas anggukan oleh Oscar.


"Lalu ceritakan ada masalah apa antara kamu, Rani dan siapa tadi? Mati eh siapa mantan pacar kamu?" tanya Renata.


"Meity kak, kenapa jadi mati?" tanya Oscar.


"Iya maksud aku iyu, sekarang ceritakan!" kata Renata santai.


"Kenapa aku harus cerita sama kak Renata?" tanya Oscar dengan wajah bingung.


'Astaga, kesabaran ku habis sudah!' batin Renata kesal.


"Hei Oscar, dengar ya. Pada dasarnya, tidak ada manusia yang di ciptakan dengan sifat asli jahat atau menyebalkan seperti apa yang kamu pikirkan tentang Rani. Kamu tahukan seperti apa papanya?" tanya Renata dan Oscar langsung menggelengkan kepalanya.


"Oke, aku jelaskan. Rani itu sebenarnya anak yang baik. Hanya saja dia di h4sut oleh seorang wanita penyihir yang mau hidup senang dengan memperalat Rani. Aku tanya kenapa kamu suka Rani dan akhirnya bisa pacaran dengan dia?" tanya Renata.


"Karena dia baik, dia suka ngasih aku makan siang. Suka nemenin aku dorong motor kalau lagi mogok!" jelas Oscar pada Renata yang lantas memandang malas pada Oscar.


'Iyuh, dorong motor. Plis deh!' batin Renata merasa kalau anak muda jaman sekarang terlalu lebai.


"Nah itu kamu tahu, terus kenapa kamu sampai marahan sama Rani?" tanya Renata lagi.

__ADS_1


"Dia cemburuan banget, aku sama Meity kan cuma kerja kelompok. Kami sama-sama ikut ekskul musik, dan dapat tugas bikin lagu bareng. Tapi Rani gak percaya dan malah mukul dan jambak Meity!" kata Oscar selanjutnya.


Renata langsung menghela nafasnya. Hasut4n Wulan pada Rani benar-benar berdampak buruk pada anak itu.


"Oscar, dengar ya. Rani itu pasti terbawa emosi saja sampai seperti itu. Baiklah, tapi kalau dia berubah baik seperti dulu, kamu mau kan dekat lagi sama dia, kalian belum putus kan?" tanya Renata.


"Belum kak, aku lagi malas bicara sama dia. Aku pikir biar dia instrospeksi diri dulu selama seminggu ini, aku bilang sama dia kita jauhan dulu gitu, tapi gak putus!" jelas Oscar.


Renata melihat Oscar ini juga masih sangat menyayangi Rani. Cara bicaranya menunjukkan kalau sebenarnya dia perduli dan ingin Rani berubah. Dia masih menyimpan harapan besar untuk hubungannya dengan Rani.


"Kamu sudah benar, keputusan mu sudah benar. Aku calon mama tiri Rani yang akan mengarahkan anak itu ke jalur yang seharusnya lagi. Oke, kamu ada uang cash gak? aku gak bawa uang cash nih! kamu yang bayarin ya. Bye Oscar!" kata Renata lantas pergi meninggalkan Oscar yang ternganga heran.


"Ya ampun, kirain mau di bayarin" kata Oscar sambil menepuk jidatnya heran.


***


"Rani, ya ampun. Kenapa malah cuma nonton televisi. Kamu juga bilang sama papa kamu dong. Kalau papa kamu nekat nikah sama perempuan itu, kamu benar-benar akan mengakhiri hidup kamu! telepon papa kamu!" kata Wulan yang nyaris kebakaran jenggot karena mendengar pernikahan mantan suaminya dengan Renata akan di laksanakan lima hari lagi.


"Apasih ma, kan mama sudah bilang kalau mama kasih waktu sama papa sampai nanti sore. Ya, aku santai dulu dong sebelum mengakhiri hidup aku!" kata Rani santai.


Wulan terkesiap mendengar apa yang dikatakan Rani.


Wulan lantas duduk di samping Rani, dan membelai lembut rambut anak sulungnya itu.


"Rani sayang, bukan begitu. Jangan pernah berpikir mama ingin keburukan untuk kamu. Kamu tahu kan? mama adalah orang yang paling sayang sama kamu. Kamu melakukan kesalahan apapun, mama selalu menutupinya dari papa kamu. Kamu di panggil gitu BK belasan kali, mama yang selesaikan. Kamu kena masalah di manapun, mama yang atasi. Itu karena mama sayang sama kamu nak!" kata Wulan begitu lembut dan perhatian pada Rani.


Wulan lantas menarik tangannya dan menjauh sedikit dari Rani lalu menampakkan raut wajah yang begitu terlihat sedih.

__ADS_1


"Mama yang mengurus kamu dan adik-adik kamu. Tapi papa kamu malah menceraikan mama, dia menuduh mama selingkuh. Mana mungkin mama selingkuh, mana ada yang mau sama mama nak. Mama ini tidak secantik dulu, badan mama tidak sebagus dulu sebelum punya anak dan menikah dengan papa kamu. Mama rela badan mama rusak demi melahirkan anak-anak yang mama sayangi, papa kamu malah menuduh yang bukan-bukan. Hanya untuk mendapatkan wanita yang lebih cantik dan badannya lebih bagus dari mama!" lirih Wulan yang sudah menjatuhkan air matanya.


Rani yang sangat sedih mendengar semua cerita mamanya lantas memeluk mamanya itu.


"Sudah ya ma, jangan nangis lagi. Rani tahu kok, mama yang paling sayang sama Rani. Mama uang sudab tutupi dan selesaikan semua masalah yang Rani buat. Sekarang mama mau Rani ngapain? telepon papa? ya sudah sini ponsel mama!" kata Rani.


Wulan langsung memberikan ponselnya pada Rani. Dia menyeka wajahnya dengan lengan bajunya dan berterima kasih pada anaknya yang sedang dia manfaatkan itu. Padahal dalam hatinya, Wulan bersorak senang karena rencananya berhasil.


'Lihat saja mas, kamu gak akan pernah menikah lagi. Aku gak mau ya, sampai jatah bulanan ku di kurangi hanya karena kamu menikah lagi dengan wanita lain, belum lagi kalau nanti istri barumu punya anak. Aku gak mau sampai warisan yang harusnya jatuh pada anak-anakku di bagi dengan anak dari istri barumu!' batin Wulan.


Namun baru saja Rani akan menghubungi papanya. Pintu rumah Wulan di ketuk oleh seseorang.


Tok tok tok


"Rani!" seru Renata di depan rumah Wulan.


Rani dan Wulan langsung saling pandang.


"Siapa itu?" tanya Wulan yang memang baru pertama kali mendengar suara Renata secara langsung.


"Itu suara wanita itu ma, si Renata itu!" Jawab Rani yang memang sudah beberapa kali bertemu Renata dan hafal betul dengan suaranya.


"Mau apa dia kemari?" tanya Wulan yang langsung berjalan ke arah pintu di ikuti oleh Rani.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2