Tega

Tega
Bab 192


__ADS_3

Tristan dan Sarah sudah sampai di depan pintu apartemen mereka. Keduanya saling pandang melihat sebuah buket bunga besar di depan pintu apartemen mereka.


Sarah dan Tristan saling pandang, Sarah yang lebih dulu berkata.


"Ini.. kamu..?" tanya Sarah sambil menunjuk ke arah buket bunga itu dan Tristan. Sarah pikir, bunga itu dari Tristan, kejutan untuknya lagi.


Tapi Tristan yang memang tidak merasa meminta siapapun mengirimkan bunga untuk Sarah langsung menggelengkan kepalanya.


"Bukan dariku!" kata Tristan.


Karena penasaran, Tristan ingin meraih buket bunga itu untuk memeriksa apakah ada nama pengirimnya di dalam buket bunga itu. Tapi Sarah langsung mencegah Tristan.


"Hei, Tristan. Kamu mau apa?" tanya Sarah.


"Memeriksanya, mungkin salah alamat!" kata Tristan menjelaskan.


Sarah yang merasa apa yang di lakukan Tristan itu benar, dan apartemen ini juga ada alat pendeteksi bom atau semacamnya. Jadi tidak mungkin ada benda yang berbahaya bisa di bawa masuk ke apartemen. Para petugas akan memeriksa setiap barang yang akan dibawa masuk ke dalam apartemen ini.


Tristan kemudian meraih buket bunga tersebut dan memperhatikan dengan seksama. Buket dari toko yang cukup terkenal di kota ini. Dan harganya pasti sangat mahal.


"Ada kartunya!" kata Tristan kemudian meraih kartu itu dan membukanya dengan satu tangan. Karena satu tangannya lagi masih memegang buket bunga segar yang cukup berat karena ukurannya juga cukup besar.


Ketika melihat apa yang tertulis dari kartu ucapan tersebut. Tristan langsung melemparkan buket bunga itu ke lantai dengan keras.


Brakkk


Sarah sampai mundur ke arah belakang Tristan, sangking dia terkejut juga. Kenapa tiba-tiba Tristan membanting buket bunga yang mahal itu.


"Ada apa Tristan? apa yang tertulis disana?" tanya Sarah.


"Baca sendiri" kata Tristan yang langsung menyerahkan kartu ucapan itu pada Sarah.


Setelah Sarah meraih kartu itu, Tristan terlihat kesal lalu membuka pintu apartemennya lalu masuk ke dalam apartemennya meninggalkan Sarah yang masih berdiri di depan pintu memegang kartu ucapan itu.


Sarah mulai membacanya.


*Senang mendengar suaramu pagi ini Sarah, aku rasa aku juga akan segera melihat diriku. Karena sebentar lagi kita akan bertemu.

__ADS_1


Yang mencintaimu,


Jerry Alando


Sarah langsung berdecak kesal.


"Ck... ada-ada saja sih orang ini. Sudah di bilang jangan ganggu lagi, masih saja mengganggu!" kata Sarah kesal.


Sarah pun segera menghubungi petugas kebersihan apartemen. Dan meminta petugas tersebut menyingkirkan buket bunga itu. Sementara kartu ucapannya, Sarah membuangnya ke dalam kotak sampah kecil yang ada di dekat pintu apartemennya di bagian dalam.


Sarah kembali menutup rapat pintu apartemen, sehingga pintu apartemen Tristan itu secara otomatis langsung terkunci.


Sarah mencari keberadaan Tristan di ruang tengah, tapi tidak ada. Di dapur juga tidak ada, Sarah langsung ke kamar mereka. Dan benar saja, Tristan terlihat sedang melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Tristan!"


Brakk


Batu Sarah memanggil Tristan, tapi Tristan langsung membanting pintu kamar mandi dengan keras.


Sarah juga meraih pakaiannya, lalu memutuskan untuk mandi di kamar mandi tamu.


Setengah jam kemudian, Sarah kembali ke dalam kamar. Tapi Tristan sudah berganti pakaian dengan mengenakan piyama tidurnya dan memposisikan tidurnya miring membelakangi posisi tidur Sarah.


Sarah menyalakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Sambil sesekali melirik ke arah Tristan yang terlihat diam dan tidak bergerak.


Setelah Sarah mengeringkan rambutnya yang hitam dan panjang. Sarah memakai parfum kesukaan Tristan.


Dari cermin, Sarah bisa melihat Tristan agak bergerak meskipun tidak terlalu banyak gerakan nya. Itu memastikan kalau Tristan belum tidur.


Sarah pun naik ke atas tempat tidur dan merebahkan dirinya. Pertama dia menatap ke arah langit-langit kamarnya itu.


"Tristan, apa kamu sudah tidur?" tanya Sarah dengan suara pelan.


Tapi beberapa detik kemudian, Sarah tak kunjung juga mendapatkan respon dari Tristan. Sarah tak mendengar Tristan menjawabnya, atau melihat ada gerakan dari Tristan.


Sarah pun menghela nafas panjang. Dia yakin kalau suaminya itu pasti sedang cemburu. Masalahnya, Sarah benar-benar lupa untuk mengatakan pada Tristan kalau tadi pagi Alan menghubunginya.

__ADS_1


Sarah pun lantas merubah posisinya menjadi miring ke arah Tristan. Sarah langsung memeluk pinggang Tristan itu dan menempelkan pipinya di punggung Tristan.


"Tristan, jangan marah seperti ini! aku minta maaf. Iya tadi pagi Alan menghubungiku, tapi aku tidak bicara banyak padanya...!"


"Tetap saja kalian bicara, dan kamu tidak mengatakannya padaku! kalau aku tidak baca kartu itu, aku mungkin tidak akan tahu. Karena kamu pasti tidak akan mengatakannya!" Tristan merajuk.


Sarah langsung memeluk Tristan semakin erat.


"Aku benar-benar lupa. Dan masalah Arumi juga kak Rendra, membuatku lupa...!"


"Terus saja salahkan orang lain?" sela Tristan lagi.


Sarah langsung terdiam, dia juga pernah merasakan ada di situasi Tristan. Sarah memang berpikir dirinya salah, karena lupa memberi tahu Tristan tentang hal ini.


"Aku memang salah Tristan, aku benar-benar lupa. Tapi kamu juga tidak bicara banyak, aku sudah minta pada Alan...!"


"Jangan sebut nama laki-laki lain di kamar ini, Sarah!" pekik Tristan yang bahkan menepis tangan Sarah yang memeluk pinggangnya.


Sarah terkejut, tapi dia juga langsung menyingkirkan tangannya. Tapi Sarah tidak menyerah, kalau dia diam maka dia yakin Tristan akan semakin mengira kalau Sarah tidak perduli pada ngambeknya Tristan.


Setelah mengumpulkan keberaniannya, Sarah pun turun dari tempat tidur. Tristan yang merasakan gerakan Sarah mengira Sarah malah akan pergi, Tristan mendengus kesal lalu memejamkan matanya. Tristan pikir lebih baik dia tidur saja.


Tapi Sarah bukan keluar dari kamar, dia justru berjalan ke arah Tristan menghadap. Ke hadapan Tristan, lalu duduk di tepi ranjang di depan Tristan.


Merasa ada gerakan di depannya, Tristan kembali membuka matanya. Dan Sarah melakukan sesuatu yang tak pernah Tristan sangka. Sarah mendekati Tristan lalu mencium bibir pria yang sedang merajuk itu.


'Aku tidak tahu ini bisa membuat Tristan tidak marah lagi padaku atau tidak? tapi dari novel online yang pernah ku baca. Memang seperti ini cara membujuk suami yang sedang merajuk!' batin Sarah.


Dan benar saja, meskipun di awal Sarah yang memulai dengan kecupan kecil. Tristan malah langsung membawa tubuh Sarah ke atasnya. Merangkulnya dengan erat, dan mencium istrinya itu dengan sangat intens. Tristan bahkan mengangkat tubuh Sarah lagi dan memposisikan istrinya itu di bawahnya.


"Jangan terima telepon dari pria itu lagi!" kata Tristan yang membelai mencium seluruh tubuh Sarah.


"Aku.. a...aku sudah blokir nomer.. Aghkkkk" kata Sarah yang belum selesai bicara tapi sesudah di terk4m oleh Tristan.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2