Tega

Tega
Bab 91


__ADS_3

Arya Hutama mencoba untuk menenangkan Tristan ketika Roy, keponakan Arya Hutama dari saudara tirinya itu terus berusaha memancing emosi Tristan.


Rendra juga meminta agar adiknya duduk dan terus menepuk bahu Tristan dengan pelan.


"Tenang Tristan, tenang dulu...!"


"Aku akan menghabisinya jika dia melakukan hal itu pada Sarah!" geram Tristan dengan mata merah dan terus mengepalkan tangannya.


Arya Hutama yang tadi ingin situasi tambah memburuk, karena sedikit banyak dia mengenal betul keponakannya yang memang berhati dan berpemikiran sangat licik itu.


"Apa maumu?" taya Arya Hutama yang sudah tidak mau berbasa-basi lagi dengan Roy.


"Ha ha ha, aku memang menyukai cara pikirmu, paman!" kata Roy yang terdengar senang karena Arya Hutama bertanya padanya sebenarnya apa yang dia inginkan.


Rendra dan Tristan masih menatap geram ke arah ponsel yang di pegang oleh Samsudin. Sayangnya hanya suara Roy yang terdengar, jika Roy ada di posisi ponsel itu berada saat ini. Tristan pasti sudah menghajar sepupu tirinya itu sampai babak belur.


"Jangan banyak bicara, katakan apa maumu dan cepat lepaskan menantuku!" seru Arya Hutama yang juga mulai sangat kesal pada keponakan tirinya yang tak tahu berterima kasih dan tidak tahu malu itu.


Selama ini baik neneknya, ayahnya dan Roy hanya mampu menjadi parasit di bagi keluarga besar Hutama. Berawal dari ayah Arya Hutama yang di jebak seorang perempuan malam yang tidak tahu malu, lalu datang meminta pertanggung jawaban padahal dirinya sendiri yang datang ada ayah dari Arya Hutama dulu. Menikah siri, namun minta hak yang sama dengan istri sah. Ibu kandung Arya Hutama. Untungnya ibu kandung tuan Arya Hutama tidak lemah seperti wanita biasanya. Dia mempertahankan haknya dan hal untuk tuan Arya Hutama saat itu. Hingga Nenek Roy saat itu hanya menjadi wanita yang selama hidupnya bahkan sampai kematiannya hanya menjadi istri tidak sah. Tentu saja anak dan cucunya jjga tidak akan mendapatkan apapun.


Namun karena kebaikan Arya Hutama, mereka masih di berikan satu perusahaan di kota lain. Namun sayang, ambisi mereka terlalu besar. Satu persatu orang kepercayaan Arya Hutama bahkan entah bagaimana caranya di tarik oleh mereka. Namun karena Arya Hutama memang bekerja dengan otak dan hati, apapun kelicikan yang mereka lakukan tidak pernah ada yang mampu menumbangkan PT Arya Hutama Grup.


"Berikan tender jalan tol di pulau Koala itu pada perusahaan ku, Paman. Dan Aku juga ingin kalian mundur dari tender pembangunan stadion di kota Baru!" ucap Roy terdengar begitu menyebalkan.


Rendra langsung melihat ke arah sang ayah begitu mendengar permintaan Roy. Masalahnya dia yang menangani tender jalan tol itu, dan dia sudah bekerja keras selama dua bulan lebih untuk mempersiapkan segalanya, perencanaan sudah matang tinggal pelaksanaannya saja.

__ADS_1


Arya Hutama juga melihat ke arah Rendra. Proyek ini adalah impiannya sejak lama. Arya Hutama menghela nafasnya. Tapi Rendra pun akhirnya bicara.


"Ayah, tidak apa-apa. Berikan saja proyek itu pada si bren9sek itu. Yang penting Sarah selamat!" kata Rendra dengan segala kerendahan dan kelapangan hatinya.


Tristan yang mendengar sang kakak merelakan proyek impiannya demi Sarah pun makin merasa bersalah lagi. Tristan menyesal kenapa dia meninggalkan Sarah sendirian di luar bungalow saat itu.


Tristan hanya mampu menundukkan wajahnya. Antara malu, tidak enak hati dan menyesal, Tristan tak mampu berucap apapun pada ayah dan kakaknya.


"Kamu dengar itu?" tanya Arya Hutama yang yakin kalau Roy mendengar apa yang baru saja Rendra katakan itu.


"Baiklah paman, serahkan surat kontraknya padaku. Aku akan lepaskan menantu kesayangan mu itu, setelah aku dapatkan surat kontraknya!"


Tut Tut Tut...


Setelah apa yang dikatakan oleh Roy tersebut, telepon darinya juga langsung terputus.


Tuan Arya Hutama hanya mengangguk setuju. Setelah Rendra pergi, tuan Arya Hutama itu menatap punggung Rendra yang semakin menjauh. Perasaan bangga bercampur haru menyelimuti hati pria tua itu. Dia memang selalu bangga pada Rendra, apapun yang Rendra lakukan tidak pernah terlihat salah di mata pria tua itu. Bahkan ketika dia memilih seorang wanita yang sama sekali tidak di sukai oleh Arya Hutama, tapi ternyata insting seorang ayah memang lebih peka. Arya Hutama bisa merasakan sejak pertama kali bertemu Gisella, kalau wanita itu tidak tulus pada Rendra. Dan ternyata benar.


Namun meski begitu tuan Arya Hutama tak pernah mempermasalahkan hal itu. Dia tetap setia mendampingi Rendra, seperti Rendra yang tetap setia mendampinginya.


Setelah Rendra pergi, Tristan dan Arya Hutama juga kembali ke kota. Karena pastinya Roy akan membawa Sarah ke kota juga.


Sementara itu Bunda Tiara yang sudah di kabari oleh Richard perihal apa yang terjadi pada Sarah pun ikut menunggu Sarah di dermaga bersama dengan Arumi. Richard juga mengabari Arumi, karena Richard tahu seberapa dekatnya Sarah dengan Arumi.


"Semoga Sarah baik-baik saja, semoga mereka tidak menyakiti Sarah. Sarah anakku...!" lirih bunda Tiara dengan mata yang terus berlinang air mata.

__ADS_1


Arumi yang merangkul bunda Tiara juga terus menyeka air mata wanita yang sudah berambut putih itu. Dengan lembut sambil terus menenangkan bunda Tiara.


"Bunda, sabar ya. Tadi kan tuan Arya Hutama sudah bilang, kalau Sarah pasti selamat dan baik-baik saja. Bunda tenang ya!" kata Arumi lembut pada bunda Tiara.


Sementara Tristan yang berdiri tak jauh dari bunda Tiara juga tampak cemas.


"Bos, masak kalah sih bos sama mereka. Bos kan jago boxing?" tanya Richard yang tak percaya kalau Sarah bisa di culik dengan begitu mudah saat Tristan bersamanya.


"Ck... wanita itu tidak bersamaku saat dia di culik, dia ada di luar bungalow... aku ada di dalam!" kata Tristan menjelaskan situasinya sampai Sarah bisa di bawa dengan begitu mudah oleh anak buah Roy.


Richard menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan telapak tangannya yang terbuka.


"Oh emji... jangan katakan kalian bertengkar?" tanya Richard menduga-duga.


"Diam lah!" seru Tristan yang tak mau membahas tentang apa yang dia katakan terakhir kali pada Sarah.


Tak lama terdengar suara sebuah kapal yang akan merapat ke dermaga. Rendra yang berada di haluan kapal bersama Sarah membuat semua yang ada di dermaga menghela nafas lega. Rendra memang berangkat terlebih dulu untuk menyerahkan surat kontraknya pada Roy. Juga untuk memastikan Sarah pulang dengan selamat.


Melihat Sarah yang hampir menuruni jembatan penghubung dermaga dengan kapal. Secara refleks Tristan ikut maju ke depan untuk menyambut Sarah. Tristan sangat lega, melihat Sarah kembali.


Begitu Sarah berlari ke arah rombongan itu, Tristan tanpa sadar membuka dua lengannya. Mengira Sarah akan berlari ke arahnya dan memeluknya.


"Bunda!"


Tapi ternyata Tristan salah, Sarah melewati Tristan begitu saja dan memeluk bunda Tiara yang ada di sebelah Tristan.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2