Tega

Tega
Bab 127


__ADS_3

Di tempat berbeda, sekitar satu jam kemudian. Seorang wanita muda dengan setelan kerja, blouse dan celana panjang terlihat sedang mengendarai mobilnya di tengah padatnya jalanan kota di pagi hari.


"Ya ampun, ini bukan padat merayap lagi, ini sih padat ngesot-ngesot namanya. Ini hari apasih? kenapa jam segini sudah macet, padahal aku berangkat dari rumah sudah lebih pagi dua menit. Masih terjebak macet juga sih!" keluh wanita muda itu.


Wanita muda itu adalah Arumi, sahabat baik Sarah. Arumi sedang mengendarai mobilnya sendirian, hendak menuju ke kantor seperti biasanya. Tapi jalanan pagi ini begitu macet. Maklum saja kemacetan adalah wajah ibukota negara kita. Itu seperti sebuah ciri khas.


Arumi terus saja melihat ke pergelangan tangannya. Dia melihat arloji mahal hadiah ulang tahun dari ibunya. Kalau yang paham arloji, sekali lihat saja pasti akan tahu berapa harga arloji Arumi dengan merek yang di awali huruf J dan di akhiri huruf O tersebut. Mungkin bisa membeli satu buah rumah sebenarnya. Arumi memang bukan dari kalangan rakyat jelata. Tapi dia memilih menjalani hidup biasa karena memang dia ingin mandiri dan menikmati hidupnya tanpa embel-embel nama belakang sang ayah yang pastinya akan membuat orang berpikir berulang kali kalau cari gara-gara dengan Arumi.


Meninggalkan siapa Arumi sebenarnya, kini Arumi benar-benar merasa sudah sangat bosan, hanya melakukan kendaraan dengan kecepatan kurang dari 20 km/ jam dan itu pun hanya bisa dia lakukan kalau kendaraan di depannya sudah maju.


Arumi melihat sebuah jalan di sisi sebelah kirinya. Beberapa mobil dia lihat juga memotong jalan ke arah situ. Arumi pun memeriksa aplikasi maps di ponselnya, dan ternyata jalan itu bisa di lewati menuju PT Arya Hutama. Tanpa pikir lagi, Arumi pun langsung berbelok ke jalan tersebut.


Tanpa dia sadari sudah ada dua buah sepeda motor yang terlihat mengikutinya berbelok ke jalan itu juga.


Arumi masih melaju dengan santai, sambil melihat ke aplikasi maps di ponselnya. Tapi setidaknya dia bisa menjalankan mobilnya dengan kecepatan 40 km/jam. Tidak seperti saat dia masih berada di tengah kemacetan tadi.


Sangking fokusnya Arumi, dia sampai tak menyadari kalau dua motor dengan empat orang yang berada di atas motor tersebut, tengah memotong jalur dan menghentikan motor mereka di depan mobil Arumi.


Cittt


Arumi pun segera menginjak pedal remnya. Apa yang Arumi lakukan secara dadakan itu membuat ponselnya terjatuh dari tangannya.


"Astaga, ponsel mahal ku, yang benar saja. Ini masih 3 kali nyicil lagi!" kata Arumi yang langsung mencari keberadaan ponselnya yang terjatuh.


Setelah mencarinya beberapa saat, Arumi akhirnya berhasil menemukan ponselnya.


Duk Duk Duk


Suara kaca mobil Arumi yang di ketuk. Arumi lantas menoleh ke arah kaca mobilnya yang di ketuk.


Terlihat gerakan tangan pria berjaket dengan helm yang tidak di lepaskan dari kepalanya itu, seperti meminta agar Arumi keluar dari dalam mobilnya.


Arumi hanya berdecak kesal.


"Ck... pagi-pagi mau cari masalah ya sama Arumi. Hoh bagus... aku sudah kesal dengan kemacetan, ponselku yang jatuh gara-gara kalian. Aku ladeni kalian ya!" gumam Arumi sambil menyimpan dengan baik ponselnya ke dalam tasnya.


Setelah itu Arumi lantas menunggu momen yang tepat sebelum dia membuka pintu. Arumi menunggu pria berjaket itu dekat ke mobilnya. Arumi sudah bisa menebak kalau pria yang berjaket yang ada di samping mobilnya, dan tiga orang lagi yang ada di depan mobilnya itu bukan orang baik. Jelas dari gelagat mereka. Mereka bahkan tidak membuka helm mereka.

__ADS_1


Setelah merasa posisi pria berjaket di samping pintu mobilnya itu pas. Arumi langsung membuka pintu mobilnya dengan kencang.


Bukk


Pria itu langsung terjatuh, karena dorongan yang kuat ketika Arumi membuka pintu mobilnya.


Brakk


Arumi lantas keluar dan menutup pintu mobilnya lagi dengan kuat.


"Ck... dasar perempuan sialannn!" pekik pria yang terjatuh itu.


Arumi langsung melotot karena pria itu berseru seperti itu padanya.


"Heh, gak salah. Kalian tuh yang sialannn, ngapain coba motong jalur. Gak tahu apa, aku tuh udah hampir telat masuk kantor!"


Arumi malah berkeluh kesah. Tiga pria lain sudah menghampiri Arumi. Salah satu dari mereka membantu pria yang jatuh itu untuk bangun dan berdiri.


"Hei, perempuan! serahkan semua barang berharga kamu...!"


"Hello... ini masih pagi loh. Masih pagi sudah merampok. Mau kaya, mau uang, ya kerja!" bentak Arumi kesal.


"Hah, banyak omong!"


Sela Arumi yang langsung melayangkan tendangannya ke arah pria yang menggertaknya tadi.


Dukk


Pria itu langsung meringis, karena tendangan Arumi begitu akurat. Di tambah saat itu high heels Arumi tepat sepertinya menancap tepat di lambung pria itu.


Pria itu langsung meringis menahan sakit, terjatuh dan sepertinya tidak bisa bangkit lagi. Ketiga yang lain langsung menyerbu Arumi secara bersamaan.


Arumi sudah siap dengan kuda-kudanya. Sepertinya mereka belum tahu kalau Arumi itu jago bela diri.


Ketika salah seorang ingin menendang Arumi, dengan sigap Arumi menepis dan menyingkirkan kaki pria yang bahkan badannya dia kali lipat dari besar badan Arumi itu dengan mudah. Setelah menepis tendangan pria itu dengan kakinya, Arumi langsung menarik lengan pria besar itu dan memelintirnya ke arah belakang. Setelah itu Arumi juga menendang seorang lagi yang datang dari arah belakangnya.


Tendangan ke arah belakang yang terlihat begitu indah. Namun mematikan bagi pria yang ada di belakangnya. Karena tendangan Arumi tepat mengenai benda pusaka pria tersebut.

__ADS_1


Jangan di tanya seperti apa ekspresi wajah pria itu. Kalau ada yang ingat ekspresi Rowan Atkinson saat memerankan Mr. Bean dan dia mengalami hal yang sama dengan pria itu, benda pusakanya terbentur gagang sapu yang dia pakai untuk ganjal pintu. Maka seperti itulah ekspresi pria di belakang Arumi itu. Helm yang di pakainya bukan jenis full face, karena itu ekspresinya bisa di lihat oleh teman mereka yang satu lagi. Yang pertama kali terjatuh karena pintu yang di dorong Arumi.


Melihat ketiga temannya yang berakhir kesakitan, dengan wajah meringis dan merah padam. Pria itu semakin terlihat kesal. Dia mengeluarkan sebuah senjata taj4m dari balik punggungnya.


Melihat itu Arumi melepas pria besar itu dengan mendorongnya sekuat tenaga. Sampai pria itu tersungkur ke lantai.


Tak jauh dari tempat Arumi itu, ada sebuah mobil yang kelihatannya juga ingin memotong jalan, makanya mengambil jalan tersebut.


Pria di dalam mobil itu langsung menghentikan mobilnya, lalu keluar dari dalam mobil dan berlari dengan cepat ke arah Arumi.


"Nona Arumi, awas!" teriak pria itu saat pria yang memakai helm itu mengarahkan senjata taj4m nya ke arah Arumi.


Arumi langsung menghindar dengan memutar tubuhnya ke arah kiri. Namun sayangnya dari arah tersebut pria besar tadi sudah mencekal kaki Arumi. Membuatnya tak bisa bergerak.


Pria itu lantas berusaha menolong Arumi, dia menyerang pria yang memegang senjata taj4m dan akhirnya melumpuhkan pria tersebut. Senjata taj4m nya jatuh, dan tangannya di pelintir ke arah belakang oleh pria itu.


Sementara Arumi juga, menendang dengan keras dengan kakinya yang tidak tercekal oleh pria berbadan besar itu.


Melihat ada orang yang membantu Arumi, ke empat pria itu pun saling memberi kode untuk melarikan diri. Pria yang tangannya di pelintir oleh pria yang membantu Arumi, lantas menyikut pria itu dan membuatnya terlepas.


Para penjahat itu langsung lari dengan cepat dengan motor mereka.


"Anda tidak apa-apa tuan Rendra?" tanya Arumi pada Rendra.


Yah, yang membantu Arumi adalah Rendra. Jalan itu adalah jalan yang menuju ke arah sekolah Kevin. Dia memotong jalan juga karena takut Kevin terlambat ke sekolahnya.


Rendra yang perutnya merasa sakit akibat sikutan orang-orang tadi masih belum bisa bicara. Dia hanya melambaikan tangannya ke arah Arumi sebagai pertanda kalau dia tidak apa-apa.


Tapi dari raut wajah Rendra, sepertinya pria itu merasa sangat kesakitan.


"Tuan, aku antar ke dokter ya?" tanya Arumi menawarkan bantuan.


Rendra dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah, tidak apa-apa. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rendra pada Arumi.


"Aku baik tuan, tapi sepertinya anda yang tidak baik. Sudah, jangan menolak ya. Kita ke rumah sakit, oke?" tanya Arumi sedikit memaksa Rendra.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2