
Arumi sedang berada di kantornya, sekarang dia sedang berada di luar ruangan Bu Sisilia. Karena tadi dia bilang akan datang jam sepuluh, nah pas tiba di kantor, ini baru pukul 9 lebih lima belas menit.
Jadi Arumi mengurungkan niatnya memasuki ruangan Bu Sisilia dan malah menghubungi Sarah, karena dia ingin minta bantuan Sarah mengenai Rendra.
"Halo Arumi, ada apa?"
"Tepat sekali Sarah, aku memang sedang butuh bantuan mu! kamu di mana sekarang?" tanya Arumi setelah Sarah menjawab panggilan telepon darinya.
"Aku ada di mall dengan Tristan, ada apa? apa kamu libur hari ini?" tanya Sarah.
"Tidak, 45 menit lagi aku akan masuk kerja!"
"45 menit, jam kerjamu sudah berubah?" tanya Sarah yang merasa kalau waktu yang dikatakan oleh Arumi bukan waktu mereka bekerja.
"Sarah, ceritanya panjang... sangat panjang. Makanya nanti siang kamu sisihkan waktu untukku setengah jam ya. Aku benar-benar ingin meminta tolong padamu tentang suatu hal. Ya ya ya?" tanya Arumi sedikit memaksa.
"Oke baiklah, kami akan menonton film sebentar lagi. Bagaimana kalau nanti saat makan siang kamu datang ke mall tempat biasa kamu cari jaket dengan merek kesukaan mu itu?" tanya Sarah.
"Oh, baiklah. Aku akan kesana saat makan siang nanti. Terimakasih Sarah, kamu memang sahabat terbaikku!"
"Tapi aku belum membantumu!" sela Sarah.
"Ah, yang penting kamu mau ketemu aku. Pasti kamu mau membantuku nanti he he!"
"Baiklah, selamat bekerja Arumi!"
"Kamu juga selamat bersenang-senang... eh! tunggu. Si manusia batu itu mengajakmu kencan?" tanya Arumi yang baru sadar kalau Sarah saat ini sedang di mall dengan Tristan.
Terdengar kekehan dari ujung telepon.
"Bukan seperti itu, hanya ingin menghabiskan cuti yang di berikan ayah mertua saja!" jawab Sarah.
"Ah, kamu membuatku iri Sarah. Andainya aku punya ayah mertua seperti itu. Ck... tapi tuan Arya Hutama kan hanya punya dua putra, dan cucunya masih kecil. Hah... tidak mungkin kan aku menunggu Kevin besar, saat Kevin si menggemaskan itu remaja aku sudah jadi Oma-oma ha ha !"
"Ha ha, Arumi kamu ada-ada saja!"
__ADS_1
"Ya sudah, hati-hati dengan manusia batu itu. Jangan baper ya Sarah. Aku tidak mau kamu sakit hati lagi!"
"Iya!"
"Dah Sarah!"
Arumi pun memutuskan panggilan teleponnya dengan Sarah. Begitu dia berbalik, Arumi tersentak kaget. Ponsel di tangannya bahkan nyaris terjatuh.
"Astaga Bu Sisilia, kenapa mengagetkan aku sih? nanti kalau jantungku copot gimana?" tanya Arumi yang malah marah duluan pada Bu Sisilia.
Mata Bu Sisilia langsung melotot mendengar apa yang dikatakan oleh Arumi tersebut.
"Heh heh... kenapa kamu yang marah, kok malah galakan kamu daripada saya. Saya ini atasan kamu loh?" tanya Bu Sisilia sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.
Arumi baru menyadari kalau apa yang dikatakan oleh Bu Sisilia itu benar. Menyadari dirinya salah, Arumi lantas menunduk dengan kedua tangan bertemu di depan.
"Maaf Bu, saya gak bermaksud begitu. Ibu sih kenapa berdiri di situ gak bilang-bilang. Kan saya kaget, jadi spontan saya bilang begitu tadi. Maaf ya Bu!" ucap Arumi menurunkan suaranya satu oktaf lebih rendah.
Bu Sisilia sampai geleng-geleng kepala. Mau marah tapi orangnya sudah minta maaf. Kan jadi bingung. Akhirnya Bu Sisilia pun hanya bisa berdecak kesal.
Mendengar rekan kerjanya tidak masuk lagi, Arumi terlihat tidak senang.
"Hah, kok gak masuk lagi sih Bu. Dua hari lalu dia gak masuk, terus saya semua yang kerjakan pekerjaannya. Masak sekarang gak masuk lagi sih, kalau mau merrid mending cuti aja deh sekalian. Kalau gini kan saya yang repot...!"
Arumi terus mengomel, membuat wajah Bu Sisilia merah padam menahan emosi.
"Arumi!" seru Bu Sisilia mengeluarkan suara nada tinggi yang jarang dia keluarkan sebenarnya.
"Sudah cukup ya, Tano bahkan belum ada ambil cuti satu minggu selama satu tahun ini ya. Kalau kamu... coba kamu hitung sendiri dengan jarimu sudah berapa kali kamu ijin dan cuti. Saya bantu pakai sepuluh jari saya juga masih kurang kan? Sudah jangan banyak protes. Kembali ke ruangan kamu sekarang!" tegas Bu Sisilia yang membuat Arumi tidak berkutik.
Tapi sambil berjalan ke ruangannya, sebenarnya Arumi sedang menghitung berapa kali dia ijin dalam satu tahun ini.
"Satu, dua, tiga... ya ampun. Bu Sisilia berlebihan banget sih. Baru juga ijin 15 hari. Repot deh!" gerutunya sambil masuk ke dalam ruangannya.
***
__ADS_1
Sarah kembali menghampiri Tristan setelah dia sudah selesai bicara dengan Arumi melalui telepon.
"Ada apa?" tanya Tristan.
"Arumi minta bertemu saat makan siang tadi, katanya ada yang penting.
"Oh, baiklah. Bagaimana? masih ingin membeli scraft? tapi aku pikir lebih baik nanti saja. Filmnya sudah akan di mulai!" kata Tristan.
Sarah pun mengangguk setuju, dan mereka berdua pun masuk ke dalam bioskop yang ada di mall tersebut.
Tempat duduk mereka persis ada di depan layar besar yang akan menampilkan film yang akan di putar.
"Film apa yang akan kita tonton?" tanya Sarah yang was-was kalau-kalau film yang akan mereka tonton adalah film horor.
Duduk di depan seperti ini benar-benar akan bikin jantungan pastinya.
"Romance!" jawab Tristan singkat. Dan Sarah juga hanya mengangguk paham.
Lampu mulai di padamkan, dan film pun mulai di putar. Dari judulnya Sarah pikir itu adalah film action romantis. Dan benar saja, banyak sekali scene romantis yang membuat Sarah harus berkali-kali memalingkan wajahnya ke arah lain karena tak ingin melihat scene yang bikin panas dingin tersebut.
Sementara Tristan yang memang ingin membangun suasana romantis dengan Sarah malah sengaja menggenggam tangan Sarah ketika scene romantis di putar lagi di hadapan mereka.
Tristan merasa tangan Sarah sangat dingin. Tristan meraih tangan Sarah tersebut dan membawanya ke hadapan bibirnya. Tangan Tristan yang satu lagi juga ikut memegang telapak tangan Sarah yang dingin itu dan mengusapnya perlahan.
Tristan menghembuskan udara dari mulutnya ke telapak tangan Sarah itu. Sontak saja apa yang dilakukan Tristan itu membuat Sarah tambah panas dingin saja. Sarah ingin menarik tangannya dari genggaman Tristan. Namun Tristan menahan tangan Sarah.
"Tanganmu sangat dingin, aku hanya mencoba menghangatkannya!" bisik Tristan di telinga Sarah.
Tapi bukannya semakin hangat, setelah semua perlakuan Tristan itu Sarah malah semakin salah tingkah saja. Jantungnya bahkan berdetak sangat kencang. Benar-benar tidak bisa di kendalikan.
Bahkan jantung Sarah seperti mau copot ketika Tristan mendadak mencium ujung jemari tangan Sarah itu satu persatu dengan gerakan lambat sambil menatap Sarah dengan begitu lekat.
***
Bersambung...
__ADS_1