Tega

Tega
Bab 132


__ADS_3

Sarah menarik tangannya dari Tristan, Sarah pun lalu pamit ke toilet pada Tristan. Dengan terburu-buru, Sarah pergi dari studio tersebut.


Ketika sudah berada di dalam toilet, Sarah benar-benar harus berusaha keras menetralkan debaran jantungnya yang tak mau di ajak kompromi sejak tadi.


"Ayolah Sarah, dia amnesia. Jangan terbawa perasaan. Ingat pesan Arumi, jangan baper. Atau aku akan terluka nanti!" gumam Sarah sambil terus berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdetak begitu kencang.


Sarah kemudian mengingat lagi apa yang bisa dia gunakan untuk mengingatkan Tristan pada masa lalunya. Sarah berpikir keras, kalau tentang Shanum saja tidak bisa membuat Tristan ingat pada masa lalunya. Lalu apalagi yang bisa.


Sarah menghela nafas berat, karena kalau seperti ini terus dia yang akan kesulitan sendiri. Karena kalau terus di serang dengan keromantisan dan kehangatan serta perhatian yang begitu manis dari Tristan, lama-lama pertahanan Sarah kan juga bisa runtuh. Dan kalau sampai itu terjadi, Sarah tak berani membayangkan betapa sakitnya dia nanti kalau tiba-tiba ingatan Tristan kembali.


"Huh, aku harus bagaimana. Bicara pada ayah, tidak mungkin. Dia malah senang Tristan amnesia. Apa ya?" gumam Sarah masih terus bertanya-tanya apa yang harus dia lakukan.


Namun tiba-tiba ponselnya bergetar. Ponselnya masih dalam mode getar ternyata. Sarah buru-buru meraih ponselnya, dan ternyata panggilan itu berasal dari Tristan.


Sarah sedikit mengernyitkan keningnya, kalau di pikir-pikir lagi. Baru kali ini Tristan melakukan panggilan telepon di ponselnya setelah mereka menikah. Miris bukan!


Sarah pun segera menggeser tombol hijau ke arah atas.


"Iya Tristan!" sapa Sarah.


"Kamu di toilet yang ada di dekat toko pakaian ya?" tanya Tristan.


"Iya!"


"Kalau begitu apa urusanmu di toilet sudah selesai?" tanya Tristan membuat Sarah bingung.


"Ada apa? apa kamu merasa sakit? sebentar aku akan ke sana, kamu dimana?" tanya Sarah yang khawatir kalau Tristan merasa sakit karena memang Tristan masih dalam masa pemulihan.


"Tidak, bukan itu. Aku menunggumu di luar toilet!"


Tut Tut Tut


Panggilan itu langsung terputus, membuat Sarah masih tercengang di tempatnya. Sarah melihat ke arah cermin.

__ADS_1


"Apa lagi coba?" gumam Sarah yang malah tak senang dengan sikap Tristan yang berubah sangat romantis dan perhatian padanya.


Sarah pun segera memasukkan ponselnya ke dalam tas lagi. Lalu mencuci tangannya hingga bersih. Setelah itu dia keluar.


Sarah benar-benar terkejut saat dia membuka pintu toilet, dan Tristan ada di sana, di depannya. Sedang berdiri melihat ke arah toko. Bayangkan saja, seorang Tristan Maulana Hutama, seorang CEO yang begitu arogan dan menilai segala sesuatunya dengan uang dan kekuasaan yang dia miliki. Sekarang berdiri di depan toilet menunggu Sarah keluar. Itu benar-benar sulit di percaya.


"Tristan!" panggil Sarah lalu menghampiri Tristan.


Di tangannya ada sebuah scraft berwarna biru tua, senada dengan tas yang di pakai Sarah saat ini.


Tristan tanpa bicara dulu, langsung mengalungkan scraft itu di leher Sarah.


"Kamu pasti kedinginan kan di dalam studio tadi. Lain kali kita akan nonton di bangku belakang saja, yang tidak terlalu dingin!" kata Tristan sambil merapikan lipatan scraft di leher Sarah.


Sarah tercengang, dia tertegun menatap wajah Tristan yang begitu dekat dengannya sambil merapikan lipatan scraft agar tampak estetik.


'Tristan, seandainya saja kamu melakukan semua ini bukan dalam keadaan amnesia!' batin Sarah sedih.


"Sudah! sangat cocok untukmu!" kata Tristan memuji Sarah.


Pertanyaan yang tiba-tiba muncul di otaknya itu malah membuat Sarah ingat akan suatu hal. Dia ingat pada surat perjanjian pernikahan yang dia tandatangani dengan Tristan.


"Sarah, kita menikah karena di jodohkan. Itu aku tahu, tapi sekarang aku benar-benar mencintai mu!" jawab Tristan yang sebenarnya mengatakan apa yang memang ada di dalam hatinya.


Sarah nampak lega awalnya Tristan tahu pernikahannya karena perjodohan. Tapi mendadak galau lagi, karena Tristan bilang cinta lagi padanya. Dia pikir Tristan mulia ingat, tapi ternyata tidak.


"Tristan, ada yang ingin aku tunjukkan padamu. Kita ke kantor mu sekarang ya!" ajak Sarah.


Sarah ingin mengajak Tristan ke kantornya untuk menemui Richard. Karena hanya Richard, Tristan dan Sarah yang mengetahui tentang perjanjian pernikahan mereka.


Tristan yang merasa kalau tujuan Sarah mengajaknya ke kantor adalah untuk bicara tentang perjanjian pernikahan yang dokumennya di simpan saat ini oleh Richard. Mencoba untuk tidak mengabulkan apa rencana Sarah tersebut.


"Sarah, aku ingin menghabiskan waktu denganmu. Kenapa tidak belanja saja, seperti di film tadi. Membeli baju couple aku rasa bisa kita coba juga!" kata Tristan menolak keinginan Sarah.

__ADS_1


"Tristan tapi...!"


"Sarah, lagipula satu jam lagi kamu harus bertemu dengan Arumi kan? sambil menunggu waktu itu, Kuta belanja saja. Ayo!" kata Tristan yang langsung menggenggam tangan Sarah dan langsung mengajaknya berjalan dari tempat itu.


Meskipun kali ini gagal, tapi Sarah tidak akan menyerah. Atau lebih baik dia minta saja Richard membawa dokumen itu ke apartemen. Agar tidak terjadi keributan juga di kantor. Kalau Tristan tahu yang sebenarnya.


'Nah, lebih baik begitu saja. Aku akan minta Richard membawa dokumen itu ke apartemen!' batin Sarah.


Tristan benar-benar mengajak Sarah shoping, dia membelikan banyak barang untuk Sarah. Meski Sarah sudah menolaknya, tapi tetap saja Tristan membayarnya.


Banyak pakaian, tas, bahkan sepatu. Tristan pernah mendengar kalau wanita sangat suka di belanjakan. Jadi dia mencoba memakai cara ini untuk menarik perhatian Sarah.


Mereka bahkan ke sebuah toko dengan merek terkenal yang satu barangnya saja bisa setara dengan gaji pekerja biasa selama dua tiga bulan. Hanya untuk sebuah jepit rambut saja, Tristan harus merogoh kocek yang cukup dalam.


"Tristan ini terlalu mahal!" ujar Sarah menolak secara halus.


"Tidak apa-apa, ini pantas untukmu!" kata Tristan yang langsung memakaikan jepit rambut itu di kepala Sarah.


Sarah pun tak bisa menolak lagi.


"Sudah.. sudah.. ini sudah banyak. Ruang di lemariku sudah tidak cukup!" kata Sarah beralasan.


"Kalau begitu kita beli lemari baru!" sahut Tristan.


"Tristan sudah, aku bahkan tidak bisa membawa semua ini!" kata Sarah lagi.


"Nyonya Tristan, kenapa kamu memikirkan hal itu. Ada suamimu di sini!" kata Tristan yang meraih semua paper bag belanjaan mereka dan membawanya di kedua tangannya.


Sarah benar-benar kehabisan kata-kata. Tanpa terasa waktu makan siang pun tiba. Tristan mengantarkan Sarah ke restoran tempatnya ada janji temu dengan Arumi.


"Sarah, aku pulang duluan. Aku tidak mau mengganggu. Kalian pasti ingin bicara antar wanita saja kan?" tanya Tristan yang di angguki Sarah.


Tristan pun meninggalkan Sarah setelah reservasi meja untuk istrinya itu. Tristan membawa semua belanjaan nya ke dalam mobil. Namun tujuan Tristan bukan untuk pulang ke apartemen. Tapi arah mobilnya malah menuju ke perusahaannya. Tempat di mana Richard bekerja.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2