Tega

Tega
Bab 134


__ADS_3

"Ih Sarahh!" protes Arumi yang terkena muncratan air jus yang di semburkan secara tidak sengaja oleh Sarah.


Bagaimana menjelaskannya ya, di sini Sarah benar-benar terkejut. Sampai dia tidak kuat menelan jus yang sudah dia minum ataupun menahannya di dalam mulut. Jadinya dia malah menyemburkan ke depan air jus itu, karena sangat terkejutnya Sarah mendengar apa yang baru saja di katakan Arumi.


Arumi langsung meraih tissue yang ada di atas meja untuk membersihkan air yang terkena tangannya. Begitu pula Sarah. Dia langsung meraih tissue sebanyak-banyaknya untuk membersihkan mulutnya, juga meja di depannya.


"Sorry Arumi, maaf aku tidak sengaja. Kamu sih mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut!" kata Sarah selanjutnya.


"Habis aku kesal sekali melihat wanita itu. Aku hanya ingin membuat dia berhenti menggoda pria baik. Kalau mau goda saja pria hidung belang di luar sana. Pria baik tidak pantas dengan wanita ular seperti Hera!" keluh Arumi.


Sarah yang sudah selesai membersihkan kekacauan yang dia buat langsung menghela nafas berat. Dia benar-benar tak habis pikir dengan Hera. Apalagi maunya wanita itu. Dan kenapa dia menggoda kak Rendra. Apa harta tuan Ari Ricardo belum cukup baginya. Itulah yang ada di pikiran Sarah.


Tapi Sarah langsung kembali fokus pada Arumi.


"Jadi, maksudmu ingin minta bantuan ku itu untuk apa? aku rasa kak Rendra akan mengerti kok dengan apa yang kamu lakukan. Kak Rendra itu bukan pria yang berpikiran sempit, aku rasa kak Rendra pasti tidak mempermasalahkan hal itu!" jelas Sarah panjang lebar mencoba menenangkan Arumi.


Sarah melihat Arumi seperti terbebani, makanya Sarah berusaha meyakinkan sahabatnya itu. Kalau Rendra Hutama itu adalah orang yang baik, yang tidak akan menganggap apa yang Arumi katakan sebagai masalah.


Tapi Arumi yang mendengar penjelasan Sarah malah langsung cemberut.


"Apanya yang tidak masalah Sarah! apa kamu tahu? setelah si wanita ular itu keluar, aku langsung minta maaf pada tuan Rendra dan mengatakan kalau niat awalnya kesana mengantar obat. Aku kan merasa tidak enak, jadi bicaraku agak gagap. Tapi apa kamu tahu apa yang tuan Rendra katakan padaku?" tanya Arumi dengan wajah serius ke arah Sarah.


"Apa?" tanya Sarah.


"Tuan Rendra bilang ekhem... !" Arumi sedang mulai pemanasan untuk menirukan suara Rendra.


"Kenapa malah jadi gagap begitu? tadi kamu sangat lancar saat kamu bilang pada Hera, kamu adalah calon istriku?"


Sarah langsung terbelalak, dia tidak percaya kakak iparnya yang innocent itu berkata seperti itu pada Arumi.

__ADS_1


"Dia bilang begitu Sarah? aku langsung Kabir dong! dia pasti marah? hah... !" Arumi membuang nafasnya berat.


Sarah terdiam sejenak mencoba mencerna apa yang dikatakan Arumi dengan baik. Kalau dari kacamata Sarah, meskipun Sarah tidak pakai kacamata. Sarah berpikir kalau kakak iparnya itu seharusnya mengucapkan terima kasih pada Arumi. Tapi dari cerita Arumi, Rendra terkesan mempertanyakan tindakan Arumi. Yang artinya Rendra tidak mau menyelesaikan urusan mereka dengan cepat.


Mata Sarah langsung melebar sempurna ketika dia mendapatkan pencerahan dari segala pemikirannya.


"Ah, Arumi aku tahu!" seru Sarah membuat Arumi langsung memperhatikan Sarah.


"Kak Rendra menyukaimu!"


Ucapan Sarah itu serius membuat rahang Arumi nyaris jatuh.


"Plis deh Sarah, ya kali tuan Rendra suka sama cewek bar-bar macam aku begini. Lihat tuh mantan istrinya yang lemah gemulai seperti putri keraton. Hais... sudahlah. Pokoknya kamu tolong bantu aku saja ya, kalau kamu ketemu sama tuan Rendra nanti. Tolong jelaskan padanya, aku gak punya niat tidak baik saat itu. Justru niatku baik, ingin menyelamatkan dia dari buaya betina yang baru lepas dari kandang. Tolong ya Sarah, aku bisa terbebani kalau begini. Masalahnya tuan Rendra itu orang baik, kalau orang jahat sih bodok amat. Ya Sarah!" pinta Arumi setelah berasumsi panjang lebar di depan Sarah.


Sarah pun mengangguk paham, dia berusaha membuat Arumi lebih tenang.


"Baiklah, aku akan ke kantor kak Rendra dan menjelaskannya pada kak Rendra!" kata Sarah lagi.


"Ah Sarah, kamu memang yang terbaik!" ucap Arumi senang.


Mereka pun menghabiskan beberapa waktu lagi untuk membicarakan hal lain. Lebih tepatnya mereka membicarakan apa yang terjadi di perusahaan selama Sarah tidak bekerja. Sampai jam makan siang Arumi habis, Arumi pun kembali ke kantornya. Dan Sarah, seperti janjinya pada Arumi. Sarah akan pergi ke kantornya Rendra Hutama.


Sementara itu, Tristan sudah tiba di perusahaan yang dia pimpin. Beberapa orang yang masih ada di kantor memberikan salam dan menyapa Tristan. Tapi bukan Tristan namanya, kalau dia membalas sapaan mereka.


Tristan hanya terus berjalan dengan cepat menuju ke tempat yang ingin dia tuju sejak awal. Ruangan kantor Richard Meyer, asisten pribadi kepercayaan Tristan.


"Ya ampun, kapan sih bos kita itu balas sapaan kita?" tanya seorang karyawati paruh baya yang tadi menyapa Tristan tapi tidak di anggap oleh Tristan.


"Sabar ya Bu Badar, emang tuan Tristan kan begitu. Jangankan ibu, sekertaris nya saja jarang di ajak bicara!" sahut salah seorang karyawati dari divisi lain sambil mengusap bahu wanita yang hampir pensiun kerja itu.

__ADS_1


Wanita paruh baya yang sudah mau pensiun itu hanya bisa menunduk sedih. Sebenarnya keinginan nya sangat sederhana. Hanya ingin bersalaman dengan anak dari orang yang telah membuat kehidupannya lebih baik dengan menerima wanita yang minum pendidikan itu bekerja di perusahaan itu. Tapi kalau hal itu tidak kesampaian sampai waktunya dia pensiun. Yah, dia bisa apa.


Meninggalkan wanita tadi, Tristan sudah sampai di depan pintu ruangan Richard.


Ceklek


"Richard!" panggil Tristan.


Tristan sudah berusaha menghubungi Richard, tapi nomernya tidak aktif.


Salah seorang sekertaris Tristan yang sedang makan siang mendapat kabar kalau Tristan ke kantor. Pandu langsung berlari secepat yang ia bisa meninggalkan makan siangnya di kantin perusahaan, dan langsung menuju ke lantai dimana kantor Tristan dan Richard berada.


Tak menemui Tristan di kantornya, Pandu langsung berlari ke arah kantor Richard. Dan benar saja. Ternyata Tristan ada di sana.


"Selamat siang tuan Tristan!" sapa Pandu.


Tristan pun langsung menoleh ke arah Pandu.


"Kamu? dimana Richard?" tanya Tristan.


"Tuan Richard sedang observasi lokasi proyek dengan PT Diamond, tuan!" jawab Pandu.


"Kapan dia kembali? kenapa tidak bisa di hubungi?" tanya Tristan.


"Tuan Richard akan kembali besok, mungkin tidak ada signal atau ponselnya kehabisan daya, tuan!" jawab Pandu yang memang sudah terlatih untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari bosnya yang luar biasa datar itu.


Tristan terdiam sebentar, dia bahkan tidak tahu Richard menyimpan dokumen perjanjian pernikahannya dengan Sarah dimana.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2