Tega

Tega
Bab 154


__ADS_3

Permintaan Sarah tersebut di setujui oleh tuan Arya Hutama. Tuan Arya Hutama bahkan menunjuk pengacara keluarga nya untuk membantu Sarah mengurus perceraiannya.


Sebelum pergi dari rumah sewa sementara panti asuhan bunda Tiara, tuan Arya Hutama mengenalkan Andreas pada Sarah.


"Nak Sarah, ini Andreas. Pengacara keluarga kami, jangan lihat dari usianya yang masih muda. Dia sangat berpengalaman!" kata tuan Arya Hutama yang langsung di angguki oleh Sarah.


Tuan Arya Hutama lalu beralih pada Andreas.


"Andreas, ini menantuku. Bantu dia untuk menyelesaikan apa yang harusnya selesai. Mengerti kamu?" tanya tuan Arya Hutama.


Dan pria muda itu pun mengangguk paham.


"Mengerti tuan!" kata Andreas sangat sopan.


Setelah mengatakan hal itu, tuan Arya Hutama dan Samsudin meninggalkan rumah sewa sementara panti asuhan bunda Tiara. Rendra yang berjalan di belakang mereka, berhenti sebentar di dekat Sarah.


"Sarah, aku tahu kamu wanita yang hebat. Kamu sangat baik, aku yakin kamu pasti bisa memutuskan semuanya dengan baik. Aku memang kakak Tristan, tapi aku berharap semua kebaikan untuk kalian berdua!" ujar Rendra tulus dari dasar hatinya yang paling dalam.


Sarah pun mengangguk.


"Iya kak! terimakasih"


Setelah mendengar jawaban Sarah, Rendra pun berpamitan pada bunda Tiara.


"Maafkan atas semua yang terjadi bunda, tapi aku jika aku boleh mengatakan ini pada bunda. Tristan sudah benar-benar berubah, dia sudah benar-benar mencintai Sarah. Aku sebagai kakaknya bisa melihat hal itu bunda!" kata Rendra.


Rendra mengatakan hal itu karena dia masih sangat berharap tentang hubungan Tristan dan Sarah. Dia benar-benar melihat itu, rasa cinta Tristan setelah dia kembali dari rumah sakit. Dia benar-benar bisa melihat cinta Rendra untuk Sarah itu.


Rendra juga mengatakan hal itu pada bunda Tiara. Karena selama ini apapun perkataan bunda Tiara selalu di turuti oleh Sarah. Meski tak berharap bunda Tiara membujuk Sarah karena Rendra juga menyadari sebagai seorang ibu. Bunda Tiara juga pasti sakit hati pada Tristan. Tapi setidaknya sebagai kakak, Rendra sudah mengatakan apapun yang bisa membantu adiknya itu memperbaiki segala kesalahannya. Dan jika Tristan benar-benar berpisah dengan Sarah, maka Tristan tidak akan dapat memperbaiki semua kesalahannya, dia tidak akan punya kesempatan untuk itu.


"Bunda tak bisa mengatakan apapun nak Rendra, semua biar saya yang putuskan. Anak itu, sejak kecil sudah banyak sekali mengalami ketidakadilan dalam hidupnya, bunda juga ingin dia bahagia. Apapun keputusan Sarah, bunda akan mendukungnya!" kata bunda Tiara membuat Rendra terdiam dan hanya bisa mengangguk paham.

__ADS_1


Setelah semuanya pergi, Andreas dan sekertaris nya Meli, mengajak Sarah bicara di rumah tamu.


Bunda Tiara yang melihat wajah lelah Sarah pun bertanya pada Sarah.


"Nak, apa tidak sebaiknya besok saja di lanjutkan semua ini. Kamu terlihat lelah Sarah?" tanya bunda Tiara yang memang begitu khawatir pada keadaan Sarah.


Tapi Sarah hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya perlahan.


"Tidak apa-apa bunda, semakin cepat ini semua selesai semakin baik kan?" tanya Sarah yang di balas anggukan dari bunda Tiara.


Bunda Tiara pun ikut duduk di sebelah Sarah.


"Begini nona Sarah, apa anda yang akan menggugat tuan Tristan atau tuan Tristan yang akan menggugat anda?" tanya Andreas.


Sarah langsung terdiam mendengar pertama dari Andreas itu. Baru di tanya seperti itu saja, dan di tanyanya di rumah. Sarah sudah merasakan tekanan yang luar biasa sampai membuatnya susah bernafas. Bagaimana kalau yang bertanya hakim dan di tanyakan pertanyaan itu di pengadilan.


Sarah terdiam cukup lama, dia berpikir kalau Tristan tak akan mungkin menuntut perceraian. Dia tidak mungkin mau menggugat. Maka Sarah pun menjawab.


"Panggil saja saya Andreas nona, anda masih menantu tuan Arya Hutama. Saya juga jadi pengacara karena kebaikan beliau. Tapi saya akan seprofesional mungkin membantu anda nona Sarah!" jelas Andreas pada Sarah.


Sarah lagi-lagi terdiam. Tuan Arya Hutama memang begitu baik.


"Jadi begini nona Sarah, untuk mengajukan gugatan perceraian. Kita perlu melengkapi surat gugatan dan untuk melengkapi surat gugatan maka nona Sarah harus menyertakan alasan kenapa nona Sarah menggugat tuan Tristan, jadi kalau saya boleh tahu, apa alasan nona Sarah menuntut perceraian?" tanya Meli asisten pribadi Andreas.


Sarah lagi-lagi terdiam, dia melihat ke arah bunda Tiara. Sarah berpikir, apakah alasan karena Tristan meninggalkannya demi wanita lain itu bisa dia katakan pada Meli.


Lalu bagaimana jika alasan itu terungkap di pengadilan, kemudian tersebar luas. Bukankah itu akan menjadi aib bagi tuan Arya Hutama. Sarah sungguh tak mau itu terjadi.


Sarah diam dan berpikir, sampai dia berkata.


"Apa alasan karrna memang sudah tidak saling cocok lagi, maksudnya sudah tidak mungkin bersama lagi bisa menjadi alasan bercerai?" tanya Sarah yang sudah memikirkan dengan baik tanpa ingin membuat nama Tristan menjadi jelek di mata orang lain.

__ADS_1


Meli dan Andreas saling pandang untuk beberapa saat.


"Bisa saja nona, tapi kan kalian batu menikah beberapa bulan. Sepertinya akan menjadi pertanyaan nantinya, tapi tidak apa-apa. Kalau memang itu alasannya, kami akan sertakan alasan itu untuk menggugat tuan Tristan!" kata Andreas.


"Kemudian, apakah nona Sarah ingin menuntut sesuatu dari tuan Tristan, harta selama pernikahan atau...!"


"Tidak, tidak ada tuntutan apapun!" kata Sarah.


Meli lagi-lagi melihat ke arah Andreas. Sepertinya dia memikirkan sesuatu tapi tidak bisa dia katakan di depan Sarah.


"Oke baiklah kalau begitu, kami akan lengkapi semuanya. Dan akan mendaftarkan gugatan nona Sarah pada tuan Tristan di pengadilan agama. Kami permisi dulu. Selamat siang!" kata Andreas.


"Selamat siang, terimakasih!" sahut Sarah.


Setelah itu Andreas dan Meli pun pergi dari rumah sewa sementara panti asuhan bunda Tiara. Saat mereka masuk ke dalam mobil, Meli berkata pada Andreas.


"Mas, kenapa aku merasa sebenarnya nona sarah itu masih bingung ya? aku lihat dari matanya, dia seperti tidak ingin melakukan semua ini. Tapi terpaksa melakukannya, aduh aku bingung deh!" kata Meli.


"Aku juga merasa begitu, tuan Rendra bahkan mengirim pesan padaku untuk berusaha agar jangan sampai ketuk palu di pengadilan. Aku juga lihat, kalau tuan Arya Hutama sangat menyayangi nona Sarah. Aku pikir, mungkin masalahnya ada pada tuan Tristan!" kata Andreas menganalisa.


"Ck... kenapa sih, banyak sekali kasus perceraian masalahnya tuh ada sama pria, sama suami. Heran deh, susah banget ya buat para suami itu untuk setia!" kesal Meli.


"Loh, kenapa malah jadi nyalahin suami? kan banyak juga klien kita yang tuntut suaminya karena gak bisa kasih kehidupan yang layak!" bantah Andreas.


Dia sebagai pria, tentu saja tak mau di cap umum seperti itu.


"Ih, kenapa ngomongin kasus lain. Ya kali, Tristan Hutama gak bisa kasih penghidupan yang layak!" kata Meli tak mau kalah.


Andreas hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah asisten pribadi nya itu. Mereka laku meninggalkan tempat itu menuju ke pengadilan agama.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2