Tega

Tega
Bab 101


__ADS_3

Keesokan harinya...


Tristan sudah tidak ada di panti begitu Rendra terbangun. Sarah yang tak bisa tidur nyenyak malam itu karena Kevin banyak mengigau pun terlihat sangat letih dan bangun dengan wajah yang tidak segar.


Matanya bahkan sembab, karena semalam dia menangis cukup lama. Bukan karena Tristan. Tapi karena Sarah sedih mendengar Kevin mengigaukan sesuatu yang membuat hati Sarah ikut terluka.


Kevin mengigaukan kalau dirinya juga punya ibu. Dia menyebut beberapa nama, yang Sarah yakini kalau nama-nama itu adalah nama-nama teman sekolah Kevin.


Kevin sepertinya di bully di sekolahnya dan teman-temannya mengatakan kalau Kevin tidak punya ibu. Tak lama setelah Kevin berteriak-teriak seperti itu. Kevin malah menangis. Dan yang membuat hati Sarah ikut sakit dan sedih adalah saat Kevin terisak, air matanya juga mengalir dari kedua sudut matanya yang terpejam.


Malam itu Sarah memeluk Kevin dengan erat, Sarah ikut menangis dan terus membisikkan kalau Kevin tidak sendiri. Ada mama Sarah yang akan selalu menemani Kevin.


Begitu Kevin terbangun, Sarah langsung tersenyum di hadapan Kevin. Sarah memang sengaja menunggu Kevin bangun.


"Selamat pagi sayangnya mama Sarah!" kata Sarah yang coba untuk menyemangati Kevin karena mimpinya semalam.


Kevin mengucek matanya perlahan dan tersenyum juga pada Sarah setelah semua nyawanya terkumpul.


"Selamat pagi mama Sarah! apa semalam mama Sarah tidur nyenyak?" tanya Kevin membuat Sarah tersenyum.


Karena seharusnya yang bertanya seperti itu adalah Sarah kepada Kevin. Bukan Kevin yang notabene nya adalah seorang anak kecil.


Sarah langsung mengulurkan kedua tangannya menawarkan Kevin untuk Sarah gendong.


"Ayo, mama Sarah mandikan!" ucap Sarah menawarkan untuk memandikan Kevin.


Mendengar Sarah berkata seperti itu, Kevin langsung menyilangkan tangannya di depan dadanya.


"Eh, mama Sarah. Ti..dak bo..Leh!"


Ucap Kevin dengan nada tegas, membuat Sarah melongo.


"Heh, memangnya kenapa?" tanya Sarah tak mengerti.


Kevin kembali mengangkat tangannya dan memperlihatkan telunjuk tangan kanannya. Kevin menggeser telunjuknya ke kanan dan ke kiri.


"No, mama Sarah. Kevin sudah besar, Kevin sudah bisa mandi sendiri. Let's go!" kata Kevin yang langsung lompat dari atas tempat tidur menuju ke kamar mandi.


Sarah menghela nafas lega dan tersenyum begitu melihat Kevin tetap bersemangat saat bangun setelah apa yang di alaminya semalam.


Namun setelah menyiapkan Kevin, Sarah terkejut hanya melihat Rendra di ruang tengah. Bahkan selimut yang tadi malam di siapkan Sarah untuk Tristan, masih ada di tempatnya semalam dengan keadaan masih terlipat seperti posisi selimut itu semalam.


Banyaknya juga terlihat rapi, tanpa ada kerutan di sarung bantal yang seharusnya di pakai oleh Tristan.


"Selamat pagi kak!" sapa Sarah.


Rendra yang sedang melipat selimutnya lantas menoleh ke arah Sarah.

__ADS_1


"Selamat pagi Sarah, bagaimana? apa Kevin merepotkan mu?" tanya Rendra.


Sarah pun tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak sama sekali kak, aku senang sekali bisa tidur bersama Kevin. Dia anak yang sangat lucu dan baik!" kata Sarah menjawab pertanyaan Rendra.


Mata Rendra melirik ke arah sofa yang seharusnya di tempati oleh Tristan.


"Semalam dia pergi!" kata Rendra.


Sarah pun mengangguk paham.


"Iya kak, tidak apa-apa. Mari kita sarapan kak, Kevin juga sudah siap. Dia sedang menunggu kak Rendra di meja makan!" kata Sarah.


"Sarah...!"


Panggil Rendra yang masih tidak enak pada Sarah. Meski dia sudah berusaha menjelaskan pada Tristan tentang yang seharusnya terbaik baginya. Namun sepertinya Tristan masih tidak bisa menerima kenyataan itu. Dan memilih pergi dari panti asuhan malam tadi.


Sarah yang di panggil Rendra kembali berbalik, Sarah pun kembali mengembangkan senyuman tulusnya.


"Tidak apa-apa kak. Terimakasih banyak kak Rendra sudah berusaha membantuku dan Tristan. Tapi yang namanya perasaan itu tidak bisa di paksakan. Biar saja semua terjadi seperti seharusnya!" kata Sarah.


Perkataan Sarah itu membuat Rendra menghela nafasnya lega. Setidaknya dari apa yang adik iparnya itu katakan. Rendra tahu, kalau Sarah tidak terpengaruh dan terlalu sedih akibat Tristan yang terus ingin mempertahankan hubungannya dengan Shanum.


Setelah mereka sarapan, Rendra mengantarkan Kevin ke sekolah. Dan dia pun akan berangkat ke kantor. Demikian pula dengan Sarah. Dia juga berangkat ke kantor.


Setibanya Sarah di kantor, dia di sambut oleh Richard yang juga baru turun dari mobilnya di depan lobby kantor.


Sarah kemudian berbalik dan melihat ke arah Richard yang terlihat tidak sedap di pandang wajahnya saat dia menghampiri Sarah dengan buru-buru. Masalahnya wajah Richard terlihat seperti seorang yang kehilangan benda berharga, atau seperti Arumi yang kehilangan post card salah satu dari ketujuh anggota Bangtan favoritnya.


"Ada apa? kenapa dengan wajahmu?" tanya Sarah ketika merasa aneh saat melihat wajah Tristan yang seperti mau menangis dan seperti menahan sakit perut dalam waktu yang bersamaan.


Bukannya merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih baik dan enak di pandang. Richard malah semakin terlihat kebingungan.


"Aduh bagaimana aku menjelaskannya ya, oh emji... apa yang harus aku katakan?"


Sarah malah semakin kebingungan melihat Richard yang semakin heboh sendiri dengan dramanya.


"Hei Richard... hei..!" ujar Sarah sambil menarik pergelangan tangan Richard yang sejak tadi terus bergerak ke sana kemari tidak karuan.


"Ada apa?" tanya Sarah lagi namun sepertinya Richard masih sangat panik.


"Oke, oke... sekarang coba diam, jangan bergerak!" seru Sarah.


Setelah Richard diam, Sarah kembali berkata.


"Oke, sekarang tarik nafas...!"

__ADS_1


Setelah Sarah berkata seperti itu, Richard pun mengikuti apa yang di katakan oleh Sarah. Richard menarik nafasnya dalam-dalam.


"Nah, sekarang hembuskan perlahan!"


Richard juga mengikuti lagi apa yang dikatakan oleh Sarah. Dia menghembuskan nafasnya perlahan.


"Lebih baik kan? lakukan beberapa kali lagi?"


Kata Sarah, dan Richard menurutinya lagi.


Setelah mengulangi beberapa kali, Richard pun kini terlihat lebih tenang.


"Sudah tenang kan? sekarang katakan! kenapa pagi-pagi begini kamu panik sekali. Apa ada yang melamar kamu?" tanya Sarah sengaja bercanda agar Richard tak lagi panik.


"Oh emji, nona Sarah. Ini bukan waktunya bercanda. Ini tuh berita menggemparkan. Aduh, bagaimana kalau tuan besar tanya, aku harus jawab apa?"


Sarah makin heran saja, kenapa Richard malah panik lagi setelah tadi sudah sedikit tenang.


"Apanya yang menggemparkan? apa Kim SeokJin akan jadi brand ambassador di perusahaan ini?" tanya Sarah yang menduga-duga.


Karena menurut Sarah, yang paling bisa menggemparkan jagat perusahaan ini adalah kalau Kim SeokJin menjadi brand ambassador di perusahaan ini.


"Nona Sarah, kenapa masih bercanda sih?" tanya Richard mulai tak habis pikir dengan apa yang di katakan Sarah.


"Terus apa dong? dari tadi kamu heboh sendiri. Tapi dari tadi aku gak tahu apa yang sedang kamu cemaskan sebenarnya. Kenapa sih?" tanya Sarah.


Richard terlihat menghirup nafas panjang dan menghembuskan nafasnya panjang pula.


"Nona Sarah, bos...!"


Richard menjeda kalimatnya lagi, membuat Sarah yang awalnya tidak serius menanggapi sikap Richard, saat ini menjadi lebih serius lagi.


"Tristan kenapa?" tanya Sarah dengan ekspresi wajah serius.


"Bos... bos...!"


"Iya Richard, Tristan kenapa?" tanya Sarah yang semakin penasaran.


Richard sebenarnya masih bingung harus mengatakan apa yang ingin dia katakan. Tapi Richard merasa memang harus mengatakannya sekarang juga pada Sarah.


"Bos..."


Sarah mulai melipat kedua tangannya di depan dada dan wajahnya benar-benar sangat serius.


"Bos, pergi ke Paris!"


Deg

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2