
Damar Adhikara sejak pagi sudah tiba di rumah sakit. Hari ini adalah hari dimana hasil tes DNA yang dia lakukan diam-diam bahkan tanpa sepengetahuan Widya dia lakukan.
Inka masih sangat depresi karena kehilangan anaknya dengan Alan. Makan pun tak mau, jangankan makan, yang dilakukan oleh Inka tiga hari ini hanya menangis dan menangis saja. Wajahnya pucat, semakin kurus dan terlihat sudah tidak punya semangat hidup lagi.
Widya juga tak berhenti menjaga Inka, dia bahkan tidak pulang selama tiga hari ini dari rumah sakit.
Mulya juga sama, dia terus menemani Widya tapi itu hanya alasan saja. Yang sebenarnya tentu saja dia ingin menemani anak kandungnya yang sedang dalam keadaan depresi berat itu.
Tapi yang menyakitkan hati kedua ibu itu adalah, di dalam kesedihan Inka, dan depresinya itu. Inka masih terus menanyakan Jerry Alando.
Widya rasanya mau meledak, apalagi Mulya. Sudah di perlakukan seperti itu masih saja mencari Alan. Widya tak habis pikir dengan Inka.
Steven dan Anika juga sudah tak pernah datang, kabar dari orang kepercayaan Damar, mereka benar-benar menyusul Jerry Alando ke Jakarta.
Damar Adhikara yang tahu pasti kalau Widya pasti belum sarapan karena makanan yang dia pesan masih utuh lantas mendekati Widya yang sedang duduk di samping tempat tidur pasien Inka yang masih menangis saja sejak tadi.
"Bu, makan dulu!" kata Damar pada Widya, sambil menepuk bahu istrinya itu jangan lembut dan sayang.
Dengan raut wajah sedih, Widya tampak menatap suaminya. Matanya masih berkaca-kaca. Damar memang belum mengatakan sepatah katapun pada istrinya tentang kecurigaannya bahwa Inka bukan anak kandung mereka.
Jadi Widya masih sangat sedih, ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya menderita lahir dan batin seperti itu.
"Ayah, Inka.. bagaimana mengatakan padanya agar melupakan pria jahat itu. Dia terus menangis. Menunggu Jerry datang dan menyemangati dirinya. Mana mungkin itu terjadi, justru pria itu yang menyebabkan semua ini!" lirih Widya berusaha membagi beban pikiran dan hatinya sedang suaminya.
"Bu, biarkan dulu dia seperti ini. Dokter akan merawatnya...!"
"Ayah, kenapa berkata seperti itu?" tanya Widya sedih karena Damar seolah tak begitu perduli pada penderitaan yang putrinya sedang rasakan saat ini.
__ADS_1
"Bu, kita mau bagaimana? kita sudah jelaskan kepadanya. Kalau tidak ada gunanya sedih untuk pria itu, tapi dia tetap tidak mau mendengar iya kan? Kata dokter dia memang harus tenang dulu, maka biarkan saja dulu deh seperti ini. Toh di sini ada dokter, ada perawat, dia tidak akan kenapa-napa!" kata Damar yang sebenarnya mengatakan semua itu untuk memancing reaksi Mulya yang ada dia sebelahnya.
Widya hanya diam sambil mengernyitkan keningnya heran. Dia rasa ada yang tidak beres dengan suaminya. Pasalnya dulu Damar adalah orang yang paling mencintai dan menyayangi Inka, jangankan sampai menangis baru matanya berkaca-kaca saja Damar sudah akan mengabulkan semua permintaan dari putrinya itu. Tapi yang ada di hadapan yang sekarang, suaminya itu bahkan terkesan tidak perduli sama sekali meski dari tadi anaknya itu terus menangis.
"Tuan.. kenapa berkata begitu. Setidaknya bujuk lah ndoro putri tuan, ndoro putri biasanya akan selalu mendengarkan apa perkataan dari tuan. Setidaknya...!"
Namun sebelum Mulya bisa menyelesaikan apa yang ingin dia katakan kepada tuannya. Damar sudah menyelanya terlebih dahulu.
"Apa hak mu memerintah ku!" seru Damar membuat Widya terkejut bukan main.
Suaminya tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Damar Adhikara biarpun terkena tegas tapi dia tidak pernah bersikap kasar kepada orang lain. Apalagi membentak, maka Widya pun merasa begitu terkejut karena untuk pertama kalinya Widya melihat suaminya membentak Mulya. Pelayan yang sudah lebih dari 26 tahun bekerja untuk mereka.
Mendengar bentakan Damar, Mulya langsung diam dan menundukkan kepalanya. Tapi di dalam hatinya Mulya tidak menaruh kecurigaan apapun. Mulya hanya mengira kalau tuannya itu marah karena memang sedang terjadi masalah besar dalam keluarganya.
Pertama, pabrik kebanggaan miliknya diambil alih, pabrik yang sudah dia bangun selama bertahun-tahun diambil alih oleh menantunya sendiri dengan cara menipu. Lalu yang kedua, anak yang dia sayangi dicampakkan dan di usir. Bahkan di aniaya oleh orang yang sangat di cintai oleh anaknya itu sampai keguguran dan bahkan depresi. Lantas bagaimana bisa Damar masih bersikap tenang seperti biasanya. Mulya mengira memang itu penyebabnya.
Tok tok tok
Dan di saat yang bersamaan, datanglah seorang perawat setelah mengetuk pintu.
"Selamat pagi, tuan Damar Adhikara. Saya kemari bermaksud ingin menyerahkan hasil tes DNA tuan Damar Adhikara dengan nona Inka Prastiwi!" kata perawat itu sambil berjalan mendekati Damar Adhikara dan menyerahkan sebuah amplop yang masih tersegel kepada Damar.
Widya dan Mulya begitu terkejut mendengar apa yang perawat itu katakan barusan.
"Ayah, tes DNA? maksudnya apa?" tanya Widya bingung.
Mulya juga terlihat sangat terkejut, tapi dia hanya mampu diam dan menundukkan kepalanya saja. Dia mundur ke dekat tempat tidur pasien Inka.
__ADS_1
Inka yang mendengar apa yang barusan dikatakan oleh perawat tersebut juga menoleh ke arah ayahnya.
"Ayah? tes DNA? untuk apa?" tanya Inka pelan karena memang kondisinya sangat lemah.
Damar Adhikara belum menjawab, dia ingin memastikan dulu bagaimana hasilnya baru dia akan mengatakan apa alasannya melakukan tes DNA pada Widya dan Inka.
Begitu Damar Adhikara membuka amplop putih itu. Mulya sudah ketar-ketir, keringat dingin sebesar biji jagung sudah mengalir di pelipisnya. Tangannya bahkan gemetaran.
Dan begitu Damar membaca hasil tes DNA yang ada di tangannya. Mata Damar langsung memerah.
Damar Adhikara tidak langsung bicara, tapi pria paruh baya itu langsung menghampiri Mulya dan melemparkan kertas hasil tes DNA itu pada Mulya.
Brett
"Jelaskan semua ini Mulya! bagaimana bisa hasil tes DNA Inka tidak cocok dengan ku, tapi malah 99 % cocok denganmu!" bentak Damar yang sudah sangat emosi.
Bagaimana tidak emosi, 26 tahun dia telah memberikan kasih sayang setulus hati, memberikan perhatian dan apapun pada putri orang lain. Sedangkan putrinya sendiri, di tidak tahu putrinya ada dimana.
Mulya sudah terisak sambil menundukkan kepalanya. Sedangkan Widya langsung berdiri berjalan perlahan dan meraih kertas hasil laporan tes DNA yang dilakukan suaminya diam-diam tanpa sepengetahuan nya.
Air mata Widya mengalir begitu melihat apa yang tertulis di laporan hasil tes DNA tersebut.
"Inka bukan putri kita, ayah? artinya Tari? ya Tuhan...!" Widya terduduk lemas di lantai. Dia tidak menyangka semua ini.
Sedangkan Damar Adhikara masih menatap penuh marah pada pembantu yang tidak tahu diri yang sudah di tolong sejak kematian suaminya. Di perlakukan seperti layaknya saudara tapi malah membuat Damar dan Widya terpisah dari anak kandung mereka.
***
__ADS_1
Bersambung...