
Arumi yang sejak pagi tidak bersemangat bekerja pun hanya malas-malasan saja di meja kerjanya.
Bu Sisilia yang melihat hal itu pun langsung menghampiri Arumi.
"Kamu tahu kenapa setiap tahun Sarah selalu menjadi karyawan teladan?" tanya Bu Sisilia.
Arumi yang tadinya meletakkan kepalanya di atas meja, seperti otot dan tulang lehernya mendadak tidak ada pun langsung mengangkat kepalanya dengan cepat, begitu mendengar suara Bu Sisilia.
Arumi bahkan berdiri dengan sikap siap seperti pasukan baris berbaris.
"Siap Bu, karena Sarah memang best!" jawab Arumi seperti apa yang ada di kepalanya.
"Ck... kamu tahu kan, kenapa kamu malah malas-malasan. Apa kamu tidak mau satu kali saja menyandang gelar itu. Bonusnya kan lumayan Arumi, satu bulan gaji. Itu lumayan kan?" tanya Bu Sisilia.
'Yah, si ibu. Segitu di bilang lumayan. Aku kerja juga kan biar gak keliatan nganggur aja di rumah. Kalau aku pulang kampung, nanti aku di nikahin sama tuan Takur. Padahal kan uang segitu juga cuma jatah jajan aku aja seminggu!' batin Arumi yang memang keturunan ningrat sebenarnya, di kampung halamannya.
Melihat Arumi yang sepertinya malah asik dengan dunianya sendiri dan tak menghiraukan apa yang dikatakannya. Bu Sisilia lantas menepuk lengan Arumi.
Plakk
"Aduh!"
Pekikan itu bukan berasal dari Arumi yang tangannya di pukul oleh Bu Sisilia. Tapi pekikan itu berasal dari Bu Sisilia yang kesakitan saat tangannya memukul lengan Arumi.
Bu Sisilia bahkan langsung mengusap dan meniup telapak tangannya yang terasa panas akibat menepuk lengan Arumi tadi.
"Yah, si ibu. Kan sudah saya kasih tahu. Jangan tepak lengan saya, kan ibu sakit kan tangannya?" tanya Arumi dengan wajah mengejek.
Bu Sisilia berdecak kesal.
"Saya kan lupa, lagian kamu ini perempuan kenapa badannya kekar begini sih? mana ada cowok yang mau?" tanya Bu Sisilia yang sepertinya sangat berpengalaman masalah hal seperti ini.
Bagaimana tidak, Bu Sisilia itu sudah punya dua orang anak saat usianya baru masuk kepala tiga.
Dengan wajah polosnya, Arumi malah melihat ke arah seluruh tubuhnya. Dia bahkan memutar tubuhnya untuk melihat bagian belakang tubuhnya.
__ADS_1
"Emang kenapa Bu, saya gak kekar-kekar amat sih ini. Sama seperti ibu Sisilia kan, bagian belakang besar dan tidak tepos. Lalu bagian depan ukuranya juga lumayan. Bahkan lebih besar dari ibu kelihatannya...!"
"Eh..!"
Bu Sisilia langsung menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya yang dia silangkan di depan dada.
"Aih Arumi, saya gak ngerti deh sama kamu. Harusnya jadi perempuan itu lemah lembut, makeup yang cetar membahana gitu loh, tuh Sarah kan dia lemah lembut dan rajin. Makanya dia bisa jadi menantunya tuan Arya Hutama!" jelas Bu Sisilia lagi.
"Tapi dia juga gak makeup Bu, dia itu makeup nya tipis-tipis. Sama seperti saya!" bantah Arumi.
Bu Sisilia tampaknya sudah mau naik darah setelah berbicara beberapa menit dengan Arumi. Bu Sisilia pun memegang kepalanya yang mulai terasa pusing.
"Ah, saya kok malah pusing ya bicara sama kamu. Bagaimana bisa Sarah delapan jam lebih bisa berada di samping kamu?" tanya Bu Sisilia sambil memegang kepalanya dan sesekali dia juga memijat pelipisnya.
Arumi malah terkekeh.
"Itulah yang menarik dari saya Bu, kalau gak se-frekwensi ya bakalan susah!" jawab Arumi dengan bangga.
Bu Sisilia sampai mengernyitkan keningnya keheranan.
"Sudah.. sudah.. pokoknya kamu kerjakan pekerjaan kamu dengan benar. Kalau sudah selesai, antar ke ruangan pak Handoko. Harus selesai hari ini juga!" tegas Bu Sisilia.
Bu Sisilia sampai melotot mendengar apa yang Arumi katakan. Karena dia tidak mau benar-benar hipertensi dan kolesterolnya naik karena bicara dan berdebat dengan Arumi. Bu Sisilia pun memilih pergi menjauh dari Arumi.
"Kok bisa ya, Sarah betah lama-lama sama Arumi. Apa dia memang kurang darah, jadi dia dekat Arumi biar tensinya normal?" gumam Bu Sisilia sambil berjalan meninggalkan ruangan divisi keuangan.
***
Hujan turun lumayan deras, tapi untungnya tidak terjadi badai.
Di dalam kabin kamarnya, Tristan terus menerus mengeluh tentang keputusan ayahnya yang menyiapkan perjalanan lewat laut untuk mereka ini.
Tristan dan Sarah memang berada dalam satu kabin kapal yang sama. Sebab itu juga sudah di atur oleh tuan Arya Hutama. Kabin kamar yang lain sudah di isi oleh kru kapal itu.
Sarah yang sejak tadi menonton film kartun di televisi digital di kamar tersebut hanya bisa memegang kepalanya karena meski volume televisi itu sudah dia besarkan beberapa kali, tapi tetap masih kalah dengan suara omelan Tristan.
__ADS_1
"Ck... menyebalkan!"
Itulah akhir kalimat Tristan yang sejak tadi sudah tak terhitung oleh jemari Sarah.
"Tristan, daripada kamu ngomel gak jelas. Mendingan duduk dan nonton film kartun saja! kamu mau mengomel juga tidak bisa melawan apapun yang ayah katakan dan atur kan? mau keluar juga sedang hujan. Duduk, nonton film dan makan keripik. Itu lebih baik Tristan!" ujar Sarah yang sudah tidak tahan dengan omelan Tristan yang membuatnya terganggu saat menonton film kartun kesukaan dan adik-adik panti.
Tristan yang masih gengsi duduk di dekat Sarah pun memilih berjalan memutar dan duduk di kursi tinggi yang ada di belakang Sarah.
Setelah beberapa saat menonton, Tristan yang bosan pun mulai bicara.
"Film apa itu, ingat umurmu wanita freak. Malu sama umur kamu nonton film kartun begitu!" protes Tristan.
Sarah lagi-lagi harus menghela nafasnya. Ternyata memang dirinya tidak di takdirkan hidup tenang kalau ada Tristan di dekatnya.
"Ini bagus, ini mengajarkan kita untuk tidak melihat sesuatu itu dari luarnya saja. Dia memecahkan banyak mister dan kasus loh, kita bisa belajar cara pikir tidak praktis dari film ini. Don't judge a book by the cover!" jelas Sarah.
"Mana ada hal seperti itu, covernya bagus maka kita akan tertarik beli. Covernya abal-abal apalagi isinya, siapa juga yang mau beli. Itu strategi pemasaran, realistis. Berhenti menonton film seperti itu, karena di realita tidak akan ada hal seperti itu. Di kehidupan real, yang cepat tanggap dan cepat mengambil keputusan yang akan berhasil!" terang Tristan.
Sarah langsung terdiam, dia merasa kalau apa yang dikatakan Tristan itu benar. Terkadang Sarah merasa kalau sebenarnya Tristan itu tidak seperti kelihatannya.
"Sudah ganti saja!" seru Tristan membuyarkan lamunan Sarah.
"Ganti apa?" tanya Sarah.
Tristan pun melihat ke arah tak yang berisi banyak DVD.
"Yang ini saja!" kata Tristan menyerahkan sebuah film bergenre action namun ada tulisan keramat di bawah pojok kiri DVD itu.
Tulisan keramat yang artinya orang-orang di bawah umur tidak boleh melihatnya.
"Tidak mau, lihat tulisan ini!" kata Sarah menunjuk tulisan keramat itu.
Tristan lantas berdecak kesal.
"Memang berapa usiamu? kamu sudah boleh melihatnya kan? dasar wanita freak!" ujar Tristan yang memuat Sarah memilih mundur menjauh dan duduk di kursi yang paling jauh dari Tristan.
__ADS_1
***
Bersambung...