Tega

Tega
Bab 198


__ADS_3

Leni berbalik ketika mendengar suara Sarah.


"Sayang, mau apa?" tanya Tristan yang memang sudah tidak mau lagi berurusan dengan Shanum.


"Tristan, pergilah duluan ke mobil. Aku ingin bicara sebentar dengannya!" kata Sarah.


Tristan langsung menurut pada Sarah. Sarah lalu mengajak Leni bicara di dekat tempat parkir. Di sebuah tempat, dimana dia dan Leni bisa duduk dan bicara di dekat sebuah pohon pisang mini.


"Jadi siapa namamu?" tanya Sarah.


"Aku Leni kak!" kata Leni.


"Aku Sarah!"


"Aku minta maaf atas apa yang terjadi pada Shanum. Tapi Tristan sekarang sudah menjadi suamiku, dia bilang padaku sudah melupakan semua tentang Shanum. Bukan bermaksud aku ingin bahagia di atas penderitaan Shanum, tapi sebenarnya apa yang sudah terjadi? aku bicara begini, karena yang aku dengar dari Richard. Shanum itu sangat cerdas dan mandiri, dia juga sudah sukses bukan di luar negeri? lalu kenapa bisa jadi seperti ini?" tanya Sarah yang sangat penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada Shanum.


Seperti kata Sarah, dia tidak mau bahagia di atas penderitaan wanita lain. Dia jelas istri sah Tristan, meskipun tidak ingin berurusan lagi dengan Shanum, tapi jika Shanum memang mengalami kesulitan. Sarah sebagai sesama manusia juga tidak bisa menutup matanya begitu saja.


"Kak Shanum sebenarnya sangat mencintai kak Tristan, aku juga minta maaf harus mengatakan hal ini, aku tahu kak Sarah istri sah kak Tristan, tapi memang begitu kenyataannya. Di luar negeri kak Shanum hampir saja mendapatkan kesuksesan, mendapatkan apa yang selama ini dia perjuangkan. Kak Shanum dan aku pergi dari rumah karena di usir oleh ayah kak Shanum yang terus mengatakan anak wanita itu tidak ada gunanya, untuk apa sekolah tinggi-tinggi. Untuk apa mengejar mimpi, toh jadinya nanti hanya sebuah pabrik penghasil keturunan. Kak Shanum bekerja keras untuk mematahkan anggapan dari ayahnya itu. Dan kak Shanum benar-benar nyaris selangkah lagi pada impiannya itu. Namun karena menolak seorang pria yang menyukainya. Kak Shanum kehilangan segalanya. Saat dia kembali, ternyata kak Tristan juga sudah melupakannya...!"


"Tristan tidak melupakannya, tapi Shanum sendiri yang membuat Tristan melakukan itu. Tristan pergi di saat semua orang mendesaknya, dia mengambil resiko kehilangan segalanya demi Shanum. Apa kamu tahu? Tristan bahkan sudah di coret dari hak waris ayah Arya Hutama, apa kamu tahu dia juga sama seperti mu untuk menyambung hidup, tanpa embel-embel nama Hutama di belakang namanya. Tristan pernah menjadi pelayan kafe!" jelas Sarah membuat Leni terdiam mematung.


"Jika ada yang harus di sesali dalam hal ini adalah, kenapa Shanum memilih karirnya daripada Tristan! Pria yang rela meninggalkan istrinya, keluarganya, dan semua hartanya demi Shanum!" jelas Sarah.


"Aku tidak bohong satu kata pun padamu, Tristan benar-benar melakukan itu. Tapi sekarang, dia suamiku, milikku. Aku akan membantumu, aku punya sedikit tabungan...!"


"Tidak usah kak Sarah, aku masih punya pekerjaan!"


"Leni, tabungan ku ini memang tidak seberapa. Tapi ini bisa kamu pakai untuk modal usaha. Sembari kamu menjelaskan dengan perlahan pada Shanum. Buat dia bangkit, dia wanita yang cerdas dan mandiri. Dia benar-benar mengagumkan, tapi lain kali kalau ada pria lain yang mencintainya dengan tulus. Jangan pernah lepaskan pria itu, demi apapun!" kata Sarah panjang lebar.

__ADS_1


Mata Leni berkaca-kaca. Sepertinya sekarang dia tahu kenapa Tristan bisa berpaling dari Shanum yang bertahun-tahun mengisi hidupnya demi Sarah. Karena Sarah memang baik. Dia menjelaskan apa yang terjadi dengan sederhana. Tapi begitu mengena.


Sarah meminta nomer rekening Leni. Dan mengirimkan setengah dari tabungannya pada Leni. Sarah juga tahu kalau Leni adalah gadis yang baik. Buktinya sampai Shanum bangkrut dan berapa pada titik terendahnya. Leni tidak meninggalkan Shanum dan malah bekerja keras demi Shanum.


"Aku pasti akan menggantinya...!"


"Tidak Leni, anggap ini hadiah dari seorang kakak untuk adiknya!"


Mata Leni yang sejak tadi berkaca-kaca akhirnya menangis juga.


"Boleh aku memelukmu?" tanya Leni hati-hati.


"Tentu saja!" kata Sarah yang langsung merangkul dan memeluk Leni.


Tristan yang menyaksikan di dalam mobil hanya bisa menghela nafasnya panjang. Mau bagaimana lagi, istrinya memang sudah di tebak. Tapi Sarah tetaplah wanita terbaik yang pernah Tristan kenal.


"Kamu angkat adik baru lagi?" tanya Tristan menebak saja.


"Kok tahu?" tanya Sarah.


Tristan malah mengangkat alisnya begitu mendengar tanggapan Sarah itu.


"Jadi benar? kamu akan ijinkan dia tinggal di panti? lalu Shanum juga?" tanya Tristan tak habis pikir.


"Sayangnya aku harus membuatmu kecewa, karena Leni akan buka usaha dan hidup bersama Shanum jauh darimu!" kata Sarah sambil memakai sabuk pengaman nya.


"Apa maksudnya membuatku kecewa? aku justru senang. Kamu tahu tidak, memberi kesempatan mantan masuk lagi ke kehidupan rumah tanggamu, bisa menjadi awal yang tidak baik!" kata Tristan.


"Benarkah?" tanya Sarah pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Kamu tidak khawatir?" tanya Tristan.


"Aku khawatir, tapi aku tidak perlu cemas. Karena aku percaya padamu!" ucap Sarah yang lantas membuat Tristan tersenyum senang.


Mereka berdua akhirnya kembali ke perusahaan.


***


Di tempat lain, Damar Adhikara sudah menyerahkan kasus Mulya pada pengacaranya. Dia dan Widya ingin pergi ke Jakarta untuk mencari tahu keberadaan putri mereka Tari.


Kalau dulu mereka begitu percaya kalau Tari memang di culik. Tapi sekarang mereka benar-benar tidak percaya akan hal itu. Damar Adhikara dan Widya yakin kalau Mulya pasti sengaja membuang Tari. Damar Adhikara bahkan sudah membawa beberapa orang yang mereka percaya untuk ikut, di antaranya para detektif profesional di kota batu.


Sebelum berangkat ke Jakarta, Damar Adhikara menemui Yumi di rumah sakit.


"Ayah, ayah mau kemana?" tanya Inka.


"Inka, aku tahu kamu sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Kamu juga tidak tahu apapun tentang apa yang dilakukan oleh ibu kandungnya. Tapi tetap saja, kami sudah berusaha memberikan yang terbaik padamu, meskipun seharusnya itu untuk anak kandung kami, anak kandungku. Jadi Yumi, ini adalah kartu yang berisikan 500 juta. Anggap ini adalah yang terakhir yang bisa aku berikan padamu dan Inka! Selanjutnya jika terjadi apapun pada Inka, maka jangan pernah hubungi aku. Hubungi saja ibu kandungnya, Mulya!" kata Damar Adhikara yang menyerahkan sebuah kartu pada Yumi lalu meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh atau berpamitan pada Inka.


"Ayah... ayah tidak. Ayah jangan pergi. Jangan tinggalkan aku ayah. Aku tidak mau ayah pergi, ayah...!"


Yumi langsung menahan Inka yang mau turun dari tempat tidur.


"Sudah nona, sudah... terimalah kenyataan ini nona. Nona Inka bukan anak kandung tuan dan nyonya Adhikara!"


"Tidakkkk!"


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2