Tega

Tega
Bab 219


__ADS_3

Arumi masih duduk di pangkuan Rendra setelah beberapa r0nde yang mereka lalui tadi.


"Bagaimana keadaan mami kamu sayang? apa kamu sudah menghubunginya?" tanya Rendra.


Arumi lantas mengangguk.


"Sudah mas, tadi pagi setelah mas berangkat kerja. Mami sudah baikan, dia sudah bisa makan makanan kasar. Terimakasih banyak ya mas, untung ada mas Rendra. Kalau tidak bagaimana aku membiayai operasi mami, bagaimana kelanjutan hidup kedua kakakku?" tanya Arumi yang merangkul leher suaminya dan menempelkan pipinya dengan pipi Rendra.


Rendra tersenyum karena tingkah Arumi tersebut. Dia juga merasa sangat bahagia, setelah lima tahun hidupnya dipenuhi bayang-bayang pengkhianatan Gisella, kini dia benar-benar bisa melupakan rasa sakit hatinya itu. Kevin juga meskipun terlihat sangat acuh dan selalu bertengkar dengan Arumi. Justru mereka terlihat sangat dekat. Jika Arumi tidak ada Kevin akan menanyakan Arumi, begitu juga sebaliknya. Jika waktunya Kevin akan pulang dari sekolah, Arumi cepat-cepat ingin menjemputnya.


Rendra lantas menyentuh pipi istrinya itu dengan lembut.


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, kehadiran mu benar-benar sudah mengubah hidupku, hari-hariku dan Kevin kembali ceria karena mu!" kata Rendra.


"Benarkah?" tanya Arumi manja.


"Benar, aku sangat mencintaimu!" kata Rendra yang kembali meraih dagu Arumi dan mendekatkan bibirnya ke bibir Arumi.


Bibir yang membuat seorang Rendra Hutama kecanduan, dan terus menginginkan lebih setiap kali dekat dengan istrinya itu.


***


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kediaman Ari Ricardo. Hera sedang mengamuk di dalam kamarnya. Dia membanting semua barang yang ada di dalam kamarnya. Kepergian ayah dan ibunya angkatnya keluar negeri, membuatnya jadi bebas melakukan apapun yang dia inginkan di rumah besar itu.


"Ini tidak bisa aku biarkan, aku tidak boleh kalah dari wanita bar-bar itu. Enak saja, kalau Alan saja bisa aku taklukkan. Seharusnya Rendra Hutama lebih mudah kan? dia pendiam, tidak banyak bicara, hatinya sangat lembut. Kenapa aku tidak bisa mendapatkannya. Aku akan dapatkan dia dengan cara apapun!" gumam Hera yang lantas meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo!"


"Halo Enzy, dengar aku butuh obat itu. Datanglah ke rumah dan bawakan aku obat itu!" kata Hera pada seseorang yang dia ajak bicara di telepon. Suara itu suara seorang perempuan.


"Berapa banyak?" tanya Enzy.

__ADS_1


"Aku punya 20 juta, berikan aku obat itu sekarang!" kata Hera yang sungguh sangat frustasi.


Hera langsung membanting ponselnya ke atas tempat tidur ukuran king size miliknya. Hera langsung mengusap duduk di tepi tempat tidur dengan mata merah dan nafas yang terlihat memburu.


Dia sangat frustasi, karena selama ini dia tidak pernah gagal mendekati pria. Dan kali ini untuk mendapatkan perhatian dari seorang Rendra Hutama saja, dia malah keduluan sama Arumi yang menurutnya biasa saja.


Setelah lama menunggu, akhirnya perempuan bernama Enzy itu datang membawa sebuah bungkusan kecil. Hera menemuinya setelah asisten rumah tangganya mengatakan ada yang mencari Hera.


Hera langsung menarik tangan Enzy ke taman yang ada di samping kediaman Ari Ricardo.


"Parah kamu, kenapa minta di rumah. Ini rumah ada CCtv-nya kan? awas kalau kamu ketahuan, kamu bawa-bawa namaku ya!" seru wanita bernama Enzy itu.


Wanita yang rambutnya ombre dengan warna hijau tua dan merah, lalu dengan tindikan yang begitu banyak di telinganya bahkan di bibirnya yang sebelah kanan bawah. Lalu dengan jaket tanpa lengan, benar-benar menyiratkan dari penampilannya itu, wanita itu bukanlah satu kelas dengan Hera.


"Gampang, nanti kalau aku suruh pelayan hapus semua rekaman hari ini. Ini uangnya, ini bagus kan?" tanya Hera pada wanita itu.


"Ada harga ada rupa non! tenang aja, itu kualitas nomer dua!" jawab Enzy.


"Yey, harga promosi beda dong sama harga biasa!" jawab Enzy santai.


"Dasar!"


"Santai non, aku pergi ya. Kalau butuh barang lagi, telepon aja. Tapi lain kali jangan di rumah kayak gini, ngeri. Situ kan anak orang kaya, nanti yang ada ortu situ bebasin situ, kita yang kena! lain kali di jalan aja kayak biasa!" ucap Enzy tak senang karena Hera memesan barangnya di rumah.


"Iya bawel, udah pergi sama!" kata Hera.


Setelah Enzy pergi, Hera langsung bergegas ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya itu. Entah apa yang dia lakukan di dalam sana, tapi sepertinya hal itu tidak ingin diketahui oleh orang lain. Karena bahkan tirai jendelanya saja dia tutup sangat rapat.


Para pelayan yang tadi melihat kedatangan dan kepergian Enzy, lantas saling bergosip.


"Eh bi, lihat itu yang baru keluar dari pagar? ih masak iya nona Hera temenan sama cewek kayak gitu?" tanya salah satu asisten rumah tangga bagian kebun.

__ADS_1


"Iya, tadi saya juga lihat nona kasih yang banyak banget sama cewek itu. Terus cewek itu kasih bungkusan kecil ke nona, jangan-jangan itu yang yang di larang itu ya?" tanya bibi bagian dapur.


"Yang di larang apa bi?" tanya asisten rumah tangga bagian laundry.


"Yang itu, yang kata bang haji itu loh, yang lagunya 'dulu aku suka padamu dulu aku memang suka... ya ya ya' yang itu loh!" kata di bibi sampai menirukan lagu yang dia maksud.


"Oh itu N4rcoba ya bi?" tanya asisten rumah tangga bagian laundry.


"Ih, bukan n4rcoba Esih, N4rboba!" kata asisten rumah tangga bagian kebun.


"Ih pada ngawur, bukan atuh boba mah es. Itu loh yang sering nongol di acara Amb4rita itu loh!" kata si bibi lagi.


"Ah gak tahu ah, tapi kasihan ya tuan sama nyonya. Nasib sih ya padahal keduanya orang yang sangat baik. Menikah puluhan tahun malah tidak punya anak, sekalinya adopsi dari panti, dapatnya anak yang begitu. Selalu bikin tuan dan nyonya kena masalah, kemarin nyonya bahkan di labr4k kan sama ibu-ibu yang katanya suaminya selingkuh sama nona Hera!" kata asisten rumah tangga bagian kebun.


"Iya ya, kasihan nyonya sama tuan. Semoga saja nona Hera cepat kena batunya, supaya dia cepat sadar. Kasihan, tuan sama nyonya sudah tua, siapa yang nantinya akan mengurus mereka!" kata si bibi.


"Kan ada kita bi, kita akan ngurus tuan dan nyonya, kan tuan dan nyonya selalu baik sama kita!" kata Esih sambil tersenyum.


Sedangkan di tempat berbeda, Ari Ricardo dan Fitria sedang menjalani proses pemeriksaan kesehatan mereka di sebuah rumah sakit besar di Singapura. Fitria merasa kalau akhir-akhir ini kesehatannya sangat tidak baik.


"Bagaimana hasilnya dok?" tanya Ari Ricardo cemas.


"Tidak ada yang serius tuan, hanya saja nyonya Fitria terlalu stress dan itu sangat tidak baik. Sebaiknya hindari masalah yang berat dan membuatnya stresss!" kata dokter itu.


Setelah dokter itu pergi, Ari Ricardo bertanya pada Fitria.


"Kamu kenapa ma, aku sudah sangat panik. Apa yang membuatmu stresss?" tanya Ari Ricardo.


Tapi Fitria tidak bilang, dia hanya menggelengkan kepalanya. Kalau dia bilang dia stress karena ada yang melabr4knya karena kelakuan Hera. Ari Ricardo pasti akan mengamuk pada Hera. Dan Fitria tidak mau itu terjadi.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2