
Beberapa hari berlalu, dan Sarah pun sudah tidak lagi bekerja di kantor. Kehamilannya sudah memasuki usia empat bulan, Tristan benar-benar melarangnya dengan keras untuk terus pergi ke kantor.
Apalagi ada ibu Widya, ibu Widya selalu mendukung Tristan. Jadi dia juga meminta Sarah untuk menuruti keinginan suaminya dan lebih banyak olahraga ringan di rumah kalau dia bosan.
Dan hari ini, adalah jadwal Sarah memeriksakan kondisi kehamilannya ke dokter. Tristan dan Widya sangat antusias, begitu pula dengan tuan Arya Hutama, Rendra, Arumi dan Kevin. Karena kata dokter di pemeriksaan terakhir kali, genital janin Sarah bisa di ketahui saat usia kehamilannya 16 minggu, dan sekarang usia kehamilan Sarah sudah hampir 18 minggu. Tentu semua anggota keluarga sangat antusias dan ingin segera mengetahui anak yang di kandung oleh Sarah itu laki-laki atau perempuan.
Bahkan Damar Adhikara yang sejak semalam di beritahu bahwa hari ini Sarah akan melakukan USG genital janinnya, juga sangat antusias. Sejak pagi dia terus menghubungi dan mengirim pesan pada Widya. Agar istrinya itu segera memberitahu hasilnya padanya nanti.
Tristan, Sarah dan Widya keluar dari apartemen Tristan. Sementara Tika tinggal di apartemen untuk merapikan, membersihkan rumah dan menyiapkan makan siang nanti. Mereka akan bertemu dengan tuan Arya Hutama dan yang lain di rumah sakit.
Saat mereka akan menuju ke arah lift. Tak sengaja mereka bertemu dengan Brian Kim. Sebenarnya itu bukan sebuah ketidaksengajaan. Semua itu sudah di rencanakan oleh Brian Kim, dia memang menunggu di koridor untuk bisa bertemu dengan Sarah.
"Selamat pagi, Tante Widya!" kata Brian Kim yang memutuskan untuk menyapa Widya karena dia yang paling ramah dan baik.
Ketiganya lantas menoleh ke arah Brian Kim. Begitu mengetahui yang menyapa mereka adalah Brian Kim. Tristan langsung menggenggam tangan Sarah dengan erat.
"Eh, nak Brian. Darimana?" tanya Widya yang sama sekali tak menaruh curiga.
Widya memang seperti itu, dia memang selalu positif thinking pada setiap orang. Sama seperti Sarah, tapi kalau sudah kesal pada seseorang, dia juga akan sama dengan Sarah yang tak segan berhadapan langsung satu lawan satu.
"Dari bawah Tante, baru habis sarapan di resto bawah. Tante sama Tristan dan Sarah mau kemana?" tanya Brian Kim yang sudah mulai sok akrab dengan semuanya.
"Oh, ini kami mau memeriksa kehamilan Sarah..!"
Jeger
Belum selesai Widya bicara, Brian Kim alias Jerry Alando terkejut bukan main. Matanya langsung melihat ke arah Sarah yang sejak tadi hanya fokus pada Tristan saja.
'Sarah, kamu hamil?' tanya Brian Kim dalam hatinya.
__ADS_1
Tatapan mata Brian Kim menjadi sangat sendu, terlihat berkaca-kaca dan sangat sedih.
"Sa..Sarah hamil?" tanya Brian Kim.
Tristan yang memang sejak awal tak suka dengan Brian Kim mulai merasakan sedikit keanehan. Tristan merasa kalau pria yang dia sebut dengan pria plastik itu seperti tak senang dan cenderung sedih mendengar berita kehamilan Sarah yang di sampaikan oleh Widya.
"Iya nak Brian, Alhamdulillah. Tante senang sekali, hari ini kami akan USG genital janinnya Sarah. Tante sudah tidak sabar mengetahui cucu pertama Tante ini laki-laki atau perempuan!"
Seperti itulah Widya, dia benar-benar seperti calon nenek pada umumnya yang begitu sangat excited untuk mengetahui calon cucu pertamanya itu laki-laki atau perempuan.
Kebanyakan ibu-ibu kan seperti itu ya, sudah heboh duluan. Tetangga yang tadinya tidak tahu apa-apa bahkan tidak bertanya, sampai tahu sendiri karena kehebohan seorang ibu bercerita tentang betapa excited dirinya karena sangat anak akan memiliki anak juga. Alias dia akan menjadi seorang nenek.
(Menurut pengalaman author sendiri, dulu uminya author, sampai ke tukang becak yang di temui pas lagi sama-sama ngantri di pinggir jalan di kasih tahu kalau anaknya lagi hamil. Pas ke pasar beli sayuran juga gitu, beli ikan langsung bilang buat anaknya yang lagi hamil, sampai di kasih tahu berapa bulan hamilnya, sampai di kasih tahu ngidam apa aja. Padahal itu tukang ikan juga kan gak mau tahu ya sebenarnya tentang semua hal itu, love umi banyak-banyak).
Dan begitulah Widya, sampai memberitahu apa yang ada di pikirannya pada Brian Kim yang sebenarnya sudah menyembunyikan tangannya yang terkepal di belakang punggungnya.
Sarah hanya mengangguk sambil tersenyum, sementara Tristan masih tetap cuek.
"Tapi kelihatannya kamu tidak senang?" tanya Tristan terus terang.
Sarah dan Widya lantas sama-sama menegur Tristan.
"Mas!"
"Tristan!"
Dan pertanyaan Tristan itu, langsung membuat Brian Kim merubah ekspresi wajahnya dengan cepat menjadi terlihat senang.
"Oh, bukan begitu. Aku sangat senang. Aku hanya ingat mantan istriku, dia juga hamil saat dia meninggal bersama dengan bayi kami!" lirih Brian Kim berpura-pura sedih dan entah sejak kapan Jerry Alando bisa berakting.
__ADS_1
Tapi ketika dia berkata seperti itu, air mata bahkan sudah mengalir dari sudut matanya.
Sarah langsung menggenggam tangan Tristan dengan cepat. Dia menjadi takut, ada perasaan yang tidak nyaman saat Brian Kim mengatakan semua itu, tentang istrinya yang meninggal saat berusaha melahirkan anaknya.
Tristan mengerti ketakutan Sarah. Dia lantas merangkul Sarah ke pelukannya.
Sementara Widya, dia terlihat kasihan pada Brian Kim.
"Sabar ya nak Brian, kamu tidak cerita tentang itu semalam!" kata Widya.
"Aku akan sangat sedih kalau mengingatnya Tante, maaf aku malah menunjukkan kesedihanku pada kalian. Maafkan aku!" kata Brian Kim benar-benar seperti orang yang sangat baik dan pengertian.
"Tidak apa-apa, kamu yang sabar ya. Mendiang istri dan anak kamu pasti sudah tenang di sana!" kata Widya.
Karena melihat Sarah semakin tidak nyaman, Tristan pun berkata.
"Bu, kita sudah hampir terlambat temu janji dengan dokter!" kata Tristan.
"Oh iya, sampai ketemu lagi nak Brian!" kata Widya.
Mereka bertiga lantas masuk ke dalam lift menuju basemen. Sementara Brian Kim melihat ke arah lift itu dengan tatapan tajam.
'Seharusnya kita yang hidup menjadi keluarga bahagia seperti itu Sarah. Seharusnya kamu mengandung anakku bukan anak Tristan, seharusnya yang menikah denganmu adalah aku bukan Tristan. Aku akan lakukan apapun untuk membuat mu kembali padaku Sarah!' seru Brian Kim alias Jerry Alando di dalam benaknya.
Sementara itu, Sarah masih terus menggenggam erat tangan Tristan. Dia banyak mendengar hal seperti itu, hal yang sama dengan apa yang dikatakan Brian Kim tadi. Dia benar-benar sangat cemas, tapi dia bukan mencemaskan dirinya. Dia mencemaskan bayinya. Dia benar-benar tidak ingin sampai hal yang buruk terjadi pada bayinya.
***
Bersambung...
__ADS_1