Tega

Tega
Bab 79


__ADS_3

Namun pada akhirnya sekarang Sarah dan Tristan sedang berada di belakang pulau, di atas sebuah batu besar yang cukup lebar dan aman untuk mereka berdua jadikan tempat duduk sementara mereka menunggu umpan yang mereka pasang pada kali pancing mereka di mangsa oleh ikan.


Di dalam gudang penyimpanan itu memang ada beberapa joran dan kail pancing bahkan ada juga beberapa fishing lure yang sedang mereka pakai sebagai umpan untuk memancing.


Cuaca panas siang itu tidak menyurutkan semangat Tristan dan juga Sarah. Apalagi tempat mereka menunggu umpan itu di mangsa ikan sangat teduh. Ada dua buah pohon kelapa saling berdekatan yang seolah memberikan Sarah dan Tristan atap agar tidak kepanasan.


Sarah yang sebelumnya memang tidak pernah memancing pun mulai merasa bosan.


"Tristan, apa memang selama ini?" tanya Sarah yang duduk sambil menopang dagunya sambil melihat ke arah tali pancingnya tenggelam.


Tapi belum juga di jawab oleh Tristan pertanyaannya itu. Sarah bahkan sudah bicara lagi sangking merasa sangat bosan.


"Tristan, di kulkas masih ada ikan. Aku rasa kalau kamu mau makan ikan, lebih baik yang di kulkas saja. Sejak tadi tidak ada ikan yang menyambar umpan mu. Atau jangan-jangan di tempat ini malah tidak ada ikannya?" tanya Sarah panjang lebar tanpa melihat ke arah Tristan.


Sarah terus bicara sambil menopang dagunya dengan tangan satu, dan tangan satunya lagi memegang joran pancing. Sementara pandangannya terfokus pada tempat dimana tali pancingnya tenggelam.


Sedangkan Tristan yang sejak tadi memang mulai terus memperhatikan Sarah pun tersenyum kecil melihat Sarah terus menggerutu karena memang sudah setengah jam lebih umpan mereka tidak ada yang di makan ikan.


Sarah sempat menyarankan untuk pindah lokasi saja, pindah tempat memancing. Tapi Tristan menolaknya, karena tempat yang mereka tempati sekarang adalah yang paling aman dan yang paling teduh. Tentu saja meskipun niatnya mau memancing, Tristan juga tidak mau menghitamkan kulit putihnya yang seperti orang Korea itu.


"Tunggu saja dan diam lah. Ikannya akan pergi jika mendengar suaramu yang cempreng itu!" kata Tristan menanggapi omongan Sarah.


"Oh ya? kata bunda Tiara suaraku ini sangat lembut tahu!" bantah Sarah yang memang dia berkata terus terang. Bunda Tiara memang pernah berkata seperti itu pada Sarah.


"Pasti hanya bunda Tiara kan yang berjaga begitu?" tanya Tristan.


Sarah pun terdiam, tapi Sarah terdiam bukan karena Tristan mengatakan hanya bunda Tiara saja yang bilang suaranya bagus. Itu artinya yang lain sebenarnya merasa kalau suara Sarah itu jelek. Hanya saja karena bunda Tiara adalah orang yang sudah seperti ibunya, yang membesarkan dan merawatnya sejak kecil. Maka bunda Tiara pasti akan sangat menyayangi juga membesarkan hati Sarah.

__ADS_1


Namun sebenarnya bukan itu alasan Sarah terdiam. Sarah diam karena dia baru menyadari kalau sejak tadi, sejak selesai sarapan pagi tadi. Tristan memang berbeda, maksudnya sikapnya dan kata-katanya pada Sarah sedikit lebih baik. Meski masih tetap tidak enak di dengar. Namun lebih baik daripada yang sebelum-sebelumnya.


Sehingga tidak memancing keributan yang berarti antara Sarah dan Tristan.


Khawatir Tristan demam atau sakit, Sarah pun menoleh ke arah Tristan yang tengah melihat ke arahnya juga.


"Hei, Tristan. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Sarah yang khawatir perubahan sikap Tristan itu karena Tristan sakit sehingga tidak punya energi untuk ribut dengan Sarah.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Sarah, Tristan malah mengerutkan keningnya bingung.


"Maksudmu apa?" tanya Tristan.


"Kamu sakit?" tanya Sarah lagi.


"Ck...!" Tristan hanya berdecak kesal lalu membuang wajahnya ke arah lain.


Sarah yang berpikir kalau dia salah bicara, lalu kembali memalingkan wajahnya dan kembali melihat ke arah tali pancingnya tenggelam.


Tapi sebaliknya, Tristan yang memang tadi sudah punya niat untuk menjalin hubungan lebih baik dengan Sarah pun rasanya jadi menyesal telah berpikir seperti itu.


'Sepertinya wanita freak ini memang bukan golonganku. Yang benar saja, aku sudah menurunkan gengsiku dan bersikap lebih baik padanya. Tapi dia menanggapi seolah aku ini sakit, atau mungkin dia berpikir seperti yang sering di ucapkan oleh Richard itu. Obatku habis, astagaa!' keluh Tristan dalam benaknya.


Saat mereka sedang sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Tiba-tiba saja Sarah merasa kalau joran pancing yang dia pegang mulai bergerak dan seperti sedang di tarik ke arah air.


"Eh...!" pekik Sarah yang terkejut.


Sarah bahkan lantas langsung berdiri, dan berusaha menarik pancingnya dengan kuat. Karena Sarah merasa tidak tahu apa yang harus dia lakukan, Sarah pun berusaha untuk memanggil Tristan.

__ADS_1


"Tristan, ini aku harus bagaimana?" tanya Sarah yang memang tidak pernah memancing sebelumnya selama hidupnya.


Tristan yang memang sudah berdiri sejak tadi, sejak Sarah memekik pertama kalinya sebelum berdiri juga langsung berdiri dan berusaha untuk membantu Sarah.


Tristan berdiri tepat di belakang Sarah, dan langsung memegang pancingan yang Sarah pegang. Tangan Tristan menggenggam salah satu tangan Sarah yang memang pegangan pancingan. Dan satu lagi berusaha memutar tali pancing agar tertarik dan ikan itu bisa mereka naikkan ke permukaan.


Sarah yang merasa Tristan terlalu dekat dengannya pun menoleh ke arah Tristan dan berkata.


"Tristan, apa harus sedekat ini. Mundur sedikit tidak bisa ya...!"


"Diam dulu, lihat ikannya sudah naik!" kata Tristan yang berhasil menarik ikan ke permukaan air.


Sarah yang awalnya ingin protes pun malah jadi penasaran apakah ikannya benar-benar bisa di tarik kepermukaan. Dan ketika Sarah melihat ke ujung pancingan. Sarah langsung terkesima, ikan yang ukurannya lumayan besar itu mengepak-ngepakkan tubuhnya seperti tidak mau naik ke permukaan dan masih berusaha lepas dari kail.


"Wah... ikannya besar!" pekik Sarah senang.


Sarah yang begitu antusias malah bergerak kesana kemari sangking excited melihat keberhasilannya pertama memancing ikan.


Tanpa Sarah sadari gerakannya itu mengganggu pria yang berada di belakangnya. Meskipun Tristan tidak suka pada Sarah, namun dia juga laki-laki biasa. Nalurinya sebagai pria mana bisa bertahan, jika di depannya ada bagian belakang Sarah yang bergerak tidak karuan mengganggu bagian depan Tristan.


Alhasil Tristan kehilangan konsentrasi, dan dia berhenti memutar tali pancing, dan byurrr...


Ikan itu terlepas dan kembali masuk ke air. Sarah yang melihat hal itu pun langsung cemberut dan berbalik menghadap ke arah Tristan.


Namun saat berbalik dia menyadari jika wajah mereka terlalu dekat. Sarah yang terkejut lantas mundur, tapi...


Byurrr...

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2