
Tristan terus mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain. Namun karena dinding di dalam ruangan itu memang sebagian besar adalah dinding kaca maka kemanapun arah pandangan Tristan. Tetap saja dia melihat Sarah yang sedang tersenyum karena sedang berbicara oleh Ester, sambil menatap ke arah kaca di depannya.
'Sialll, kenapa wanita ini bisa terlihat begitu cantik. Hanya karena pakaian yang di pakainya. Apa dia akan selalu terlihat cantik kalau memakai pakaian mahal dan berkelas?' Tristan sampai membatin dalam hatinya.
Richard yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Tristan pun akhirnya bertanya lagi pada bosnya itu.
"Bos, belum jawab pertanyaan ku loh! bagaimana penampilan nona Sarah. So cute banget ya bos .. ih gak nyangka deh. Nona Sarah tuh kalau dandan artis-artis Korea aja tuh lewat sis....!" seru Richard yang membuat Tristan terdiam.
Sebenarnya dia setuju dengan pendapat dari Richard itu. Tapi dia harus menjaga gengsinya dong. Maka Tristan pun hanya berdehem pelan.
"Hem, biasa saja. Dia masih seperti dirinya yang biasanya. Biasanya dia kan juga cupu!" ucap Tristan yang langsung berhasil menghilangkan senyuman di wajah Sarah.
Ester yang mendengar Tristan bicara seperti itu malah terkekeh pelan. Kenapa Ester bisa terkekeh, sebab tadi dia sempat melihat tatapan dan wajah terpana dari Tristan saat melihat Sarah yang baru keluar dari ruangan ganti. Ester yakin kalau Tristan sebenarnya mengagumi kecantikan Sarah. Hanya saja dia sangat menjaga image nya untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Dasar batu!" gerutu Sarah dengan suara pelan.
Sarah bukannya mau di puji, tapi setidaknya Sarah ingin Tristan itu menghargai usaha setiap orang yang ingin acaranya berlangsung lancar. Sarah hanya ingin walaupun Tristan tidak mengatakan dia cantik, tapi setidaknya dia bisa mengatakan kalau gaun yang di pakainya ini bagus. Setidaknya itu bisa membuat Ester merasa kerja kerasnya mendapatkan apresiasi. Tapi ini dia malah bilang biasa saja. Rasanya Sarah ingin melepas kerudungnya lalu melemparkannya ke wajah Tristan.
Richard hanya bisa menghela nafas.
'Ih bos ini muka rata... eh salah muka dua! tadi dia seperti kelinci kecil yang menggemaskan saat melihat nona Sarah keluar dari ruang ganti. Eh sekarang dia jadi badak lagi, huh!' gerutu Richard dalam hatinya.
Semakin lama Tristan di ruangan itu, matanya semakin tak mau berpaling dari Sarah. Jadi dia langsung berdiri dan berkata.
"Ini sudah selesai kan? aku masih banyak pekerjaan!" ujar Tristan.
"Sudah tuan Tristan. Silahkan di ganti lagi. Saya akan segera siapkan untuk bisa langsung di kirim setelah di laundry dan dirapikan!" jawab Ester.
Tristan langsung pergi ke ruang ganti lagi dan mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Setelah memakai pakaiannya sendiri. Sambil merapikan dasinya Tristan bertanya pada Richard, yang dengan setia menunggu di sampingnya sambil membawakan jasnya.
"Apa lagi jadwalku setelah ini?" tanya Tristan tanpa menoleh ke arah Richard dan hanya fokus pada cermin di depannya.
"Makan siang dengan nona Sarah, bos!" jawab Richard cepat.
Mata Tristan langsung menoleh tajam ke arah Richard. Dia juga sudah menghentikan aktivitas memasang dasinya padahal belum rapi.
"Apa kamu bilang? untuk apa aku makan siang dengan wanita itu? selera makan ku bisa hilang!" keluh Tristan.
"Tapi tuan besar...!"
"Ck... bisa tidak jangan bawa-bawa ayahku terus?" tanya Tristan menyela Richard.
Richard lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat di depan Tristan.
"Maaf bos, ini perintah tuan besar. Mulai hari ini sampai satu minggu ke depan. Bos harus selalu makan siang dengan nona Sarah. Kata tuan besar, ini untuk membentuk chemistry antara kalian yang menikah karena di jodohkan!" jelas Richard panjang lebar yang membuat kepala Tristan rasanya mau pecah.
"Hah...!" Tristan mendengus kesal.
Dia akhirnya harus duduk lagi di sofa. Niatnya yang ingin lekas meninggalkan butik ternyata tak bisa dia laksanakan dengan cepat. Karena. masih harus menunggu Sarah yang masih berganti pakaian.
Richard lantas meraih dasi yang ada di lantai dan memegangnya seperti dia memegang jas Tristan yang ada di lengannya.
"Terimakasih banyak kak Ester!" kata Sarah yang terlihat sangat akrab dengan Ester.
Tristan hanya melirik tajam dengan ekspresi wajah tidak bersahabat ketika Sarah masih berbincang dengan Ester.
"Sarah, pokoknya kapanpun kamu butuh masukan atau ingin bercerita apapun. Kamu bisa menghubungi ku ya!" ucap Ester yang juga sepertinya sangat akrab dengan Sarah.
__ADS_1
Tristan yang melihat dua wanita itu bercakap-cakap dan sepertinya tidak akan selesai dengan cepat lantas berdiri dan langsung berkacak pinggang.
"Hei, bisa cepat tidak. Aku masih banyak jadwal!" kata Tristan yang lebih dulu berjalan keluar meninggalkan butik.
Richard pun langsung melambaikan tangannya ke arah Sarah.
"Nona Sarah ayo, kak Ester cantik. Makasih banyak ya untuk hari ini!" seru Richard yang langsung menyusul Tristan.
Sarah pun berpamitan dan banyak mengucapkan terimakasih pada Ester yang telah banyak memberitahu padanya kalau ketika wanita itu menjadi seorang istri maka dia harus pandai makeup. Bukan untuk orang lain, tapi untuk menyenangkan suami. Selain harus makeup sederhana di rumah untuk membuat suami betah memandang, makeup tebal atau sesuai kebutuhan juga di perlukan agar tidak membuat suami malu saat di ajak pergi makan malam dengan rekan bisnis atau sekedar pergi ke kondangan.
Ester juga tadi sempat mengajarkan beberapa caranya dan makeup apa yang cocok dengan wajah dan kulit Sarah.
Ketika akan masuk ke dalam mobil Tristan, Tristan sudah ada di kursi belakang. Di kursi penumpang bagian belakang. Sementara Richard masih menunggu Sarah di samping pintu mobil untuk membukakan pintu untuk Sarah. Setelah itu, Richard yang akan mengemudikan mobil.
Namun saat Sarah datang menghampiri mereka, lalu Richard membukakan pintu mobil penumpang bagian belakang. Tapi saat Sarah akan mendekat ke arah Richard. Tristan lantas berseru.
"Heh Richard, kenapa kamu membuka pintu itu untuk dia? Siapa yang mengatakan dia boleh duduk di sini?" tanya Tristan dengan suara kian meninggi.
Sarah benar-benar tak habis pikir dengan pria yang akan dia nikahi satu Minggu lagi itu. Jalan pikiran dan tingkahnya benar-benar bisa membuat orang darah tinggi.
Sarah pun tersenyum pada Richard.
"Aku duduk di depan saja Richard!" kata Sarah yang langsung membuka sendiri pintu mobil bagian depan. Di samping kursi pengemudi.
Sarah masuk dan langsung duduk diam, setelah memasang sabuk pengamannya. Dia lantas langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Richard yang juga menutup pintu mobil dengan lemas lantas melihat ke arah Sarah.
'Semoga saja nona Sarah punya stok sabar yang tak terbatas!' gumam Richard dalam hatinya sebelum mengemudikan mobil meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
***
Bersambung...