
Sarah tertegun karena makanan yang ada di piring Tristan ludes tak bersisa.
"Mau tambah?" tanya Sarah yang langsung membuat Tristan sadar kalau piring yang ada di tangannya sudah kosong.
"Tidak usah, rasanya biasa saja. Lain kali buatlah yang lebih enak!" kata Tristan menutupi rasa malunya karena mengatakan rasa masakan Sarah itu biasa saja tadi dia menghabiskan nya dengan begitu cepat.
Sarah hanya manggut-manggut saja, sambil memberikan gelas berisi air madu.
"Ini minumlah!" kata Sarah.
"Apalagi ini? tidak usah. Aku akan minum obatku saja!" kata Tristan.
Sarah pun langsung mengangkat nampak yang ada di atas meja.
"Ya sudah, akan ku bawa ke dapur lagi! Kamu bisa jalan sendiri tidak?" tanya Sarah yang masih khawatir Tristan tidak bisa jalan sendiri ke lantai bawah.
Tristan pun terdiam, tapi kemudian dia langsung nyolot lagi.
"Aku ini sehat ya, aku juga bukan orang tua jompo yang harus di papah saat berjalan. Kamu ini!" keluh Tristan.
Sarah yang malah dijawab seperti itu saat dia bertanya dengan baik-baik pun hanya menghela nafasnya panjang.
Tanpa bicara dia langsung meninggalkan ruangan itu dengan membawa nampan dan berjalan dengan cepat.
Saat Sarah meninggalkan ruangan itu, Tristan malah kembali diam sambil berjalan menuju pintu.
"Ck... ku pikir aku dan dia akan terus bertengkar seperti biasanya. Kenapa juga dia perhatian padaku, merawatku saat demam, memasak makanan untukku. Ck... ini menyebalkan!" keluh Tristan yang terus bergumam sepanjang dirinya menuruni anak tangga.
Sementara Sarah meletakkan nampan yang dia bawa ke atas wastafel cuci piring untuk kemudian dia cuci. Sarah juga membereskan semua perlengkapan memasak yang dia pakai tadi dan menyimpan lauk yang tersisa untuk di makan siang nanti olehnya. Karena hari ini dia tidak ada rencana mau kemana atau mau apa. Jadi sepertinya dia akan berada di apartemen ini saja.
Tapi baru saja Sarah mencuci tangannya selesai membersihkan dapur. Bel apartemen Tristan berbunyi.
Sarah pun beranjak dari dapur menuju ke pintu utama apartemen Tristan. Sarah melihat dari sebuah layar kecil yang memang akan menampilkan siapa yang ada di luar pintu.
"Ayah!" gumam Sarah yang langsung cepat membukakan kunci pintu karena mengetahui ayah mertuanya yang datang.
"Ayah!" sapa Sarah begitu pintu apartemen Tristan terbuka.
__ADS_1
Sarah langsung menyalami ayah mertuanya dan mencium punggung tangan tuan Arya Hutama dengan sopan.
Sarah melihat ke arah belakang Arya Hutama yang ada juga Samsudin di sana. Sarah menganggukkan kepalanya sedikit dan tersenyum sebagai bentuk sapaan untuk Samsudin.
"Silahkan masuk ayah!" kata Sarah.
Sambil berjalan masuk, Arya Hutama berkata.
"Auranya juga berbeda ya Samsudin, kalau rumah itu sudah ada nyonya nya di dalamnya?" tanya Arya Hutama pada Samsudin.
Sarah hanya tersenyum menanggapi pertanyaan ayah mertuanya itu pada asistennya yang memang di maksudkan untuk memuji Sarah.
"Silahkan duduk, aku akan buatkan minuman untuk ayah dan paman Samsudin!" kata Sarah selanjutnya dia pergi ke arah dapur.
Tristan yang tadi mendengar bel apartemennya berbunyi juga penasaran siapa yang datang. Begitu Tristan selesai mandi dan berganti pakaian dia pun keluar dari kamarnya. Dari pintu kamarnya saja, bisa terlihat siapa yang duduk di sofa ruang tamu.
"Ayah, ada apa?" tanya Tristan tanpa menyalami ayahnya dan langsung duduk di salah satu sofa ruang tamu yang kosong.
Melihat sikap Tristan itu, Arya Hutama menghela nafasnya sendiri. Sarah memang jauh lebih sopan daripada anaknya sendiri.
"Ayolah ayah, tidak mungkin ayah datang tanpa tujuan bukan. Ayah kan orang sibuk!" balas Tristan lagi.
Samsudin yang berdiri di belakang Arya Hutama saja sampai menggelengkan kepalanya sekilas mendengar jawaban Tristan itu.
Sarah yang baru datang dari dapur dengan nampan pun melihat Samsudin yang berdiri di belakang Arya Hutama, karena dia merasa Samsudin itu lebih tua dan memang sudah tua, bahkan lebih tua dari penjaga panti yang sudah paruh baya.
"Paman Samsudin kenapa tidak ikut duduk?" tanya Sarah membuat Samsudin langsung menoleh ke arah Sarah.
"Hei, kamu seperti pramusaji sejak pagi. Kenapa terus membawa nampan sejak tadi?" tanya Tristan yang iseng saja sebenarnya.
Tapi mendengar Tristan berkata seperti itu pada Sarah. Tuan Arya Hutama malah tersenyum senang, dia merasa kalau Tristan dan Sarah menjadi semakin dekat saja. Makanya Tristan bahkan berkata seperti itu, dan itu menunjukkan kalau Tristan memperhatikan apa yang dilakukan dan di pegang Sarah sejak tadi.
"Memang harus begini membawanya!" sahut Sarah yang menoleh sekilas ke arah Tristan.
Setelah meletakkan satu persatu cangkir dan tatakan cangkir di atas meja. Sarah menyimpan nampan itu di bawah meja.
"Ayah, silahkan di minum. Paman, silahkan duduk dan di minum!" kata Sarah.
__ADS_1
"Duduk lah Samsudin!" perintah Arya Hutama.
Arya Hutama berkata seperti itu, karena dia tahu. Kalau dia tidak meminta Samsudin untuk duduk. Maka asisten pribadi nya itu tidak akan duduk.
Setelah semuanya meminum teh buatan Sarah. Arya Hutama langsung memulai perkataan kenapa dia sampai datang ke apartemen anaknya.
"Samsudin, berikan pada mereka!" kata tuan Arya Hutama.
Samsudin lantas mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam tasnya. Dan dua buah voucher bulan madu sepertinya.
"Ini hadiah pernikahan dari ayah untuk kalian berdua. Sebuah bungalow di pulau Belitung. Mobil baru untuk Sarah, akta kepemilikan perusahaan yang sekarang Tristan pimpin atas nama kalian berdua. Dan kalian bisa menikmati tour bulan madu kalian selama satu minggu. Bagaimana?" tanya tuan Arya Hutama.
Mendengar hadiah yang di berikan ayah mertuanya padanya, Sarah sampai tak sanggup lagi berkata apapun.
Sementara Tristan terlihat tidak senang.
"Ayah, kenapa harus dengan nama Sarah dan aku?" tanya Tristan.
"Karena kalian kan suami istri. Apapun milikmu tentu menjadi milik Sarah juga kan!" tegas tuan Arya Hutama.
"Baiklah, tapi aku menolak tour bulan madunya!" kata Tristan dengan tegas.
Sarah pun tidak perduli sebenarnya.
"Sayang sekali, karena sebenarnya tour bulan madu itu adalah tiket mu mendapatkan perusahaan. Kalau tidak mau ya sudah, perusahaan tidak akan jadi milik mu, maksudku milik kalian!" ucap Arya Hutama membuat Tristan benar-benar kesal.
"Ayah, apa-apaan sih. Kenapa sampai bulan madu kami juga ayah yang tentukan?" tanya Tristan memprotes keputusan ayahnya.
"Ya sudah, kamu boleh putuskan mau kemana. Tapi tidak keluar negeri. Karena Sarah tidak punya Visa. Jangan berpikir untuk pergi ke Paris!" tegas Arya Hutama.
"Ayah!"
"Aku ayahmu Tristan, aku tahu apa yang ada di otakmu. Sore ini kalian berangkat ke pulau Belitung. Atau perusahaan tidak akan pernah menjadi milik kalian!"
***
Bersambung...
__ADS_1