Tega

Tega
Bab 115


__ADS_3

Sarah menunggu di depan gerbang sekolah Kevin sampai bel masuk sekolah Kevin berbunyi.


Setelah itu dia baru masuk ke dalam mobil dan meminta supir untuk kembali ke rumah sakit.


Tapi di perjalanan, ponsel Sarah berdering. Begitu Sarah melihat siapa yang memanggil, Sarah langsung buru-buru menggeser icon telepon berwarna hijau ke arah atas.


"Iya Bun...!"


"Sarah sayang, kamu dimana? ini Arumi sama Hera sedang jambak-jambakan... ini di pinggir jalan lagi, ya ampun!" keluh Bunda Tiara dari seberang sana.


Sarah terkejut mendengar hal itu.


"Bunda dan Arumi memang sedang ada dimana?" tanya Sarah yang merasa kalau Hera tidak mungkin ke panti asuhan bunda Tiara lagi.


"Di toko buah nak, dekat rumah sakit. Bunda mengajak Arumi yang semalam menginap di panti untuk menjenguk nak Tristan. Gak di sangka malah ketemu Hera di sini!" kata bunda Tiara.


"Oh, tunggu ya Bun. Ini Sarah juga hampir sampai di sana!"


"Cepat ya Sarah!" kata bunda Tiara.


Sarah langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Pak supir, cepat pak! ke toko buah yang ada di dekat rumah sakit!" seru Sarah.


"Baik nona!" sahut supir itu yang kemudian mempercepat laju kendaraan yang dia kemudikan.


Sementara itu, Arumi dan Hera benar-benar tak memperbolehkan siapapun memisahkan mereka. Sewaktu pelayan toko buah itu hendak memisahkan mereka, Hera malah menendang kaki pelayan itu hingga tersungkur di lantai.


Bunda Tiara juga tak berani karena mereka benar-benar mendorong bahkan menendang siapapun yang mendekati mereka. Bunda tak berani mengambil resiko dengan penyakit encok dan rematik yang dia derita.


"Hera, Arumi... ya Tuhan... sudah nak!"


Bunda Tiara hanya bisa terus meminta keduanya untuk berhenti. Hanya bisa melalui ucapan saja.


"Mbak... udah dong. Kalau berantem jangan di toko saya dong!" keluh si pemilik toko yang sudah melihat beberapa buahnya jatuh berantakan dari etalase karena saling dorong dan saling jambak antara Arumi dan Hera.


Namun ucapan bunda Tiara dan juga si embak pemilik toko buah itu sepertinya tak di hiraukan oleh Hera dan Arumi yang masih sama-sama kesal karena ucapan dan sindiran dari masing-masing sebelumnya.


"Kamu pikir aku gak berani sama kamu, hah mentang-mentang badan kayak Rambo. Kamu pikir aku takut!" teriak Hera yang menarik rambut Arumi yang agak kusut.


"Heh, kalau berani gak usah adu jambak dong. Sini kita muscle fight!" seru Arumi yang memang tidak suka kalau berantem itu jambak-jambakan.


"Heh, ini juga udah adu otot! dasar cewek freak!"


"Dasar perempuan gak tahu malu!" balas Arumi.


"Kamu yang gak tahu malu!"


"Gak nyadar, situ lupa. Situ udah rebut pacar orang. Gak tahu malu, gak laku situ. Kan si Alan juga udah di pecat kan. Dia keluar dari semua grup kantor. Emang enak di tinggalin setelah abis-abisan tuh jadi bekasan...!"

__ADS_1


"Aku sobek ya mulut kamu!" gertak Hera yang tak suka mendengar apa yang di katakan oleh Arumi. Meski semuanya itu adalah kenyataan.


"Sobek aja kalau bisa, belum juga aku bilang sama semua orang, terutama sama mama papa angkat kamu kalau kamu nilep uang anak-anak panti!"


"Hah, jangan asal ngomong ya!" kesal Hera yang kartunya di ketahui oleh Arumi.


Mereka pun lanjut dengan saling cakar, bahkan wajah mereka, riasan mereka dan rambut mereka sudah tidak berbentuk lagi.


Bunda Tiara makin cemas saja, karena di pemilik toko meminta agar bunda Tiara cepat-cepat meminta untuk pergi.


"Bu, kalau mereka masih kayak gini. Saya telepon polisi ya!" ancam pemilik toko.


Bunda Tiara makin panik lagi. Untung saja tak lama setelah itu bunda Tiara melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan toko buah tersebut. Bunda Tiara menghela nafas lega begitu melihat Sarah keluar dari mobil itu.


Sarah langsung mengambil ember yang ada di pojokan toko. Yang masih ada kain pel di dalamnya. Sarah lantas mengeluarkan kain pel tersebut dari ember dan mengangkat ember tersebut mendekat ke arah Hera dan Arumi.


Byurrr


Duel keduanya langsung berhenti begitu Hera terguyur oleh Sarah. Dan muncr4tan air itu juga mengenai Arumi.


"Agkhhh!"


Pekik Hera yang langsung mengibaskan tangan dan menyeka wajahnya.


"Apaan nih?" pekiknya lalu berbalik ke arah belakang.


"Sarah!" teriak Hera marah.


"Kurang ajar ya kamu!" pekik Hera tak terima dengan apa yang sudah di lakukan Sarah padanya.


"Apa? mau lagi?" gertak Sarah yang kembali memposisikan ember yang dia bawa seolah mau mengguyur Hera lagi.


"Awas kamu!" gertak Hera yang langsung bergegas menuju ke mobilnya.


"Heh, jangan main kabur aja. Ini ganti dulu...!"


Sarah mengehentikan si embak pemilik toko yang hendak mengejar Hera.


"Sudah mbak, biar saya yang ganti semuanya!" kata Sarah membuat pemilik toko buah itu mengangguk setuju.


Setelah mengganti semua kerugian, Sarah melihat ke arah Arumi. Sarah menghela nafas berat.


Sebelum Sarah bertanya, Arumi pun langsung menjelaskan.


"Si perempuan aneh itu duluan Sarah, aku sama bunda mau beli buah, mau di bawa ke rumah sakit. Tuh orang malah ngata-ngatain bunda, ngata-ngatain kamu. Katanya kita tuh gak usah beli buah di sini, beli aja di pasar yang bisa di tawar. Kan minta di solder tuh mulut tuh perempuan satu!" ungkap Arumi.


Sarah pun hanya bisa mengusap lengan Arumi. Lalu Sarah melihat ke arah bunda Tiara.


"Bunda gak papa kan?" tanya Sarah cemas.

__ADS_1


Bunda Tiara lantas menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Tapi melihat bentuk Arumi sekarang, tidak mungkin mereka ke rumah sakit dengan penampilan Arumi seperti itu.


"Ya sudah, aku pulang saja. Bunda, bunda pergi menjenguk Tristan dengan Sarah saja ya!" kata Arumi yang menyadari penampilannya akan membuat orang-orang di rumah sakit memandangnya aneh nanti.


"Kamu tidak apa-apa Arumi, kalau tidak bunda temani kamu saja, besok baru kita ke rumah sakit lagi!" tawar bunda yang tak enak pada Arumi.


"Begitu?" tanya Arumi memastikan dan segera di angguki oleh bunda Tiara.


"Baiklah kalau begitu!" ucap Arumi.


Mereka pun bersama-sama berjalan keluar dari toko buah tersebut.


"Belum ada perkembangan ya Sarah?" tanya Arumi sambil berjalan di samping Sarah.


Sarah hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Melihat Sarah yang terlihat sedih, Arumi pun menepuk bahu Sarah.


"Sabar ya Sarah, kamu pasti lelah menunggu kepastian dari manusia abstrak itu...!"


"Arumi!" tegur bunda Tiara.


"He he... maaf bunda. Habis aku masih emosi, lagi sehat aja dia kabur tuh ke luar negeri. Giliran sakit, Sarah yang ngurusin. Kemana itu perempuan yang dia kejar-kejar itu. Nyebelin, sudah punya istri malah pergi...!"


"Arumi!" tegur bunda Tiara lagi.


Bunda Tiara juga menepuk bahu Sarah perlahan.


"Sarah, yang kuat ya nak. Yang sabar, bunda percaya takdir baik akan segera menghampiri anak bunda yang baik ini!" ucap bunda Tiara dengan penuh harap.


"Aamiin!" sahut Arumi dengan suara lantang.


Mereka pun lantas terkekeh bersama, bunda Tiara pergi bersama Arumi. Mereka tidak jadi ke rumah sakit. Dan Sarah, masuk ke dalam mobil menuju ke rumah sakit lagi.


Setibanya di rumah sakit, Sarah pun langsung berjalan dengan langkah pelan menuju ke kamar rawat Tristan.


Pertemuannya dengan Hera membuatnya selalu mengingat segala kecurangan yang dilakukan oleh Hera padanya. Dia terus berharap agar teman masa kecilnya itu mendapatkan hidayah, menjadi lebih baik. Karena papa dan mama angkatnya itu sangat baik. Sarah khawatir Hera akan membuat malu keduanya. Sarah kasihan pada tuan Ari Ricardo dan nyonya Fitria.


Tanpa terasa Sarah pun sudah tiba di depan pintu kamar rawat Tristan. Meski memang dia sudah sangat lelah, namun dia tidak bisa begitu saja meninggalkan Tristan sebelum Tristan sadar. Sarah juga tidak tega pada tuan Arya Hutama dan Kevin.


Ceklek


Sarah membuka pintu itu perlahan. Dan apa yang Sarah lihat di depan matanya membuat Sarah tertegun dan mematung sejenak. Apa yang dia lihat tepat di depan matanya saat membuka pintu benar-benar membuatnya terkejut.


"Sarah, Tristan sudah sadar!" kata tuan Arya Hutama dengan antusias.


Mata Sarah langsung berkedip begitu melihat Tristan yang sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidur yang di atur sedemikian rupa. Pria tampan itu melihat ke arahnya dengan tatapan yang tak dapat Sarah artikan.


'Dia sudah sadar, inikah saatnya aku pergi meninggalkan keluarga ini?' tanya Sarah dalam hatinya, mendadak Sarah bahkan bingung harus senang atau sedih.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2