
Sarah, Kevin dan tuan Arya Hutama sudah tiba di restoran yang di reservasi oleh Samsudin.
Saat mereka masuk ke dalam restoran tersebut, mereka langsung di arahkan oleh pelayan restoran ke sebuah ruangan privat room.
Sementara Samsudin juga telah memastikan semua makanan dan minuman yang dia pesan aman untuk di konsumsi tuannya. Ketika Sarah, Kevin dan tuan Arya Hutama masuk ke dalam ruangan itu para pelayan sedang menyajikan berbagai macam makanan yang merupakan best seller di restoran tersebut.
Sarah cukup terkesan, namun dia tidak heran lagi karena dia juga sudah banyak menghadiri jamuan mewah seperti ini bersama Arumi dan Bu Sisilia. Jadi soal table manner dia juga tidak mengalami kesulitan.
Kevin sejak tadi terus ingin bersama dengan Sarah. Tuan Arya Hutama yang melihat hal itu juga sangat senang. Karena Sarah cepat sekali bisa akrab dengan calon keponakannya.
"Kakek, aku sudah lapar!" ujar Kevin yang memang sedari tadi terus mengeluh kalau dirinya lapar.
Arya Hutama pun tersenyum kecil mendengar Kevin yang saat mengeluh pun wajahnya begitu menggemaskan.
"Kita makan duluan saja, biar nanti Rendra dan Tristan menyusul!" kata Arya Hutama.
Para pelayan yang mendengar itu segera menyiapkan makanannya. Sarah menyuapi Kevin dengan penuh perhatian. Itu hal mudah baginya karena dia memang sering mengurus adik-adiknya di panti asuhan. Kevin juga makan sangat lahap karena Sarah juga begitu mengerti apa yang di sukai Kevin dan tidak di sukainya dengan mudah.
Kevin bahkan lebih suka makanan dari piring Sarah. Rendra yang memperhatikan itu dari jauh sebelum mendekat ke arah mereka merasa senang melihat Kevin makan dengan lahap begitu. Biasanya dia akan susah di suapi oleh para pengasuhnya.
"Selamat siang ayah, Sarah!" sapa Rendra yang baru datang dan menarik kursi di sebelah Kevin.
Maka secara otomatis mereka duduk berdekatan, bersebelahan. Sarah, lalu Kevin dan di sebelahnya Rendra. Sementara kursi Rendra dengan sang ayah masih ada jarak satu kursi lagi.
"Makan mu banyak sekali, ayah senang melihatnya. Kamu akan cepat tumbuh besar!" puji Rendra sambil mengusap rambut anaknya dengan senang.
Rendra juga akhirnya ikut makan. Suasana terlihat damai dan tenang sebelum seorang pria dengan setelan jasnya datang dan mengacaukan suasana tenang itu.
"Wah.. wah.. sepertinya seharusnya aku tidak usah datang ya? dari sisi ini aku bisa lihat Kevin sudah menemukan keluarga impiannya, benar tidak Kevin?" tanya Tristan yang langsung berdiri di belakang sang ayah.
Sarah langsung terlihat canggung terhadap cibiran Tristan padanya, tapi dia memilih untuk tidak terlalu menanggapi apapun yang dikatakan Tristan dan fokus untuk menyuapi Kevin lagi.
__ADS_1
Rendra juga langsung menghela nafas panjang. Tapi karena tak ingin merusak suasana. Dia juga memilih untuk diam saja dan hanya melihat Tristan dengan sedikit kesal.
Sementara Kevin yang mengira kalau apa yang di katakan uncle-nya itu bukanlah sebuah sindiran malah tersenyum senang setelah makanan yang dia kunyah dia telan.
"Uncle benar, ini seperti impian ku. Aku punya papa dan mama...!"
"Uhukk... uhukk " Rendra sampai tersedak mendengar apa yang dikatakan anak satu-satunya itu.
Sedangkan Sarah hanya bisa menundukkan kepalanya, bukan takut pada Tristan. Tapi Sarah malas melihat wajah Tristan yang sudah pasti akan merusak selera makannya.
Tristan malah tertawa senang,
"Ha ha ha, lihatlah ayah. Apa ayah akan melanjutkan rencana pernikahan ini? aku akan terkesan merebut mimpi Kevin, kenapa ayah tidak nikahkan saja wanita pilihan ayah ini dengan Kak Rendra?" tanya Tristan yang langsung membuat Rendra meletakkan sendoknya lalu menatap tajam ke arah Tristan.
Brakk
Tuan Arya Hutama sampai menggebrak meja karena begitu emosi setelah mendengar apa yang Tristan katakan tadi. Kevin yang sampai tersentak langsung di peluk oleh Sarah.
Kevin yang matanya sudah memerah dan berkaca-kaca karena melihat kemarahan sang kakek pun menganggukkan kepalanya saat Sarah mengajaknya turun dari kursi lalu keluar dari ruangan itu.
Sarah menggandeng tangan Kevin dan berusaha menghiburnya, namun sebelum benar-benar keluar Sarah sempat melihat sekilas ke arah Tristan.
'Benar-benar kekanak-kanakan!' batin Sarah melihat tidak senang ke arah Tristan.
Sampai di luar privat room itu, Samsudin yang duduk bersama Richard di salah satu kursi di meja yang juga dia pesan terkejut melihat Sarah keluar bersama Kevin. Samsudin langsung berdiri dan menghampiri Sarah.
"Nona, ada apa? mau ke toilet ya?" tanya Samsudin.
Sarah pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak pak Samsudin, hanya saja aku dan Kevin harus keluar dari ruangan itu!" jawab Sarah.
__ADS_1
Samsudin pun mengerti, Richard yang ikut menghampiri Sarah juga langsung bertanya.
"Aku tadi dengar suara seperti meja di pukul, ada apa nona, apa bos ku membuat masalah lagi?" tanya Richard penasaran.
Sarah langsung memberi isyarat pada Richard dengan melirikkan matanya pada Kevin. Richard yang mengerti maksud Sarah pun langsung menutup mulutnya.
"Augh... iya iya, aku paham!" ujar Richard yang membuat Samsudin mengelus dadanya.
Samsudin lalu mempersilahkan Sarah dan Kevin untuk duduk di meja yang ada di dekat mereka. Tapi Sarah malah minta bergabung dengan Samsudin dan Richard.
"Nona Sarah memang so cute, aku suka deh!" ucap Richard dengan gaya khasnya yang membuat Kevin terkekeh.
"Paman Icad seperti boneka balon yang menari di mall itu!" seru Kevin membuat Richard ternganga.
Sarah pun tak kuasa menahan tawanya karena ternyata apa yang di pikirkan Kevin tentang Richard sama persis dengan apa yang dipikirkan oleh Arumi. Keduanya merasa kalau Richard itu seperti boneka tabung menari yang ada di counter dan di mall mall.
Sementara suasana di luar privat room Hadi sangat ceria. Karena Richard dan Kevin. Suasana di dalam private room malah jadi menegangk4n karena ucapan Tristan tadi.
Setelah menggebrak meja dan melihat Sarah membawa Kevin keluar, Arya Hutama tetap diam dan menatap tajam ke arah Tristan.
Rendra juga sama, dia menatap adiknya itu dengan begitu kesal.
Tristan yang merasa tersudut pun hanya memilih diam.
"Jika apa yang kamu katakan itu akan menyakiti orang lain. Maka lebih baik kamu diam, Tristan!" seru Arya Hutama yang sudah mulai kehabisan kesabarannya karena Tristan.
Tristan masih diam, dia bahkan tak berani melihat ke arah sang ayah.
"Kalau memang tidak suka pada pilihan ayah dan ingin menikah dengan wanita pilihan mu sendiri maka silahkan, tapi jika kamu melakukan itu. Maka detik itu juga kamu bukan lagi anggota keluarga Hutama, dan jangan pernah panggil aku dengan sebutan ayah lagi!" tegas Arya Hutama.
***
__ADS_1
Bersambung...