
Brukk
Brakk
"Hei! jangan di banting seperti itu dong, nanti kalau rusak memangnya kalian mau ganti?" pekik Renata yang tak terima semua barang-barang branded miliknya di keluarkan dengan paksa dari rumah besar mereka.
Tapi orang-orang dari pihak bank dan para penagih hutang itu tidak merespon satu pun perkataan Renata. Mereka tetap melempar semua tas, sepatu, pakaian Renata dari rumah itu.
Renata yang kesal pun menarik jaket petugas itu dan mendorongnya.
"Dengar tidak sih! punya telinga tidak?" pekik Renata emosi.
Renata yang biasa hidup seenaknya, kata-kata nya selalu di dengar. Begitu dia di perlakukan seperti ini, dia jadi sangat tidak senang.
Tapi pria petugas itu malah menatap tajam ke arah Renata.
"Masih bagus ya barang-barang mu ini tidak di sita juga oleh perusahaan dan bank. Bos kami masih mempertimbangkan kebaikan nona Arista dan sumbangsih nya untuk perusahaan. Jika tidak kalian bahkan akan keluar dari rumah ini dengan pakaian yang melekat di badan kalian saja!" geram petugas itu yang merasa pekerjaan nya di ganggu oleh Renata.
Mendengar apa yang dikatakan oleh petugas itu. Renata semakin kesal.
"Kau...!"
"Renata, sudah!" kata Arista sambil menarik lengan Renata.
"Jangan tahan aku Arista, orang ini kurang ajar sekali. Dia belum tahu siapa aku!" kata Renata yang sepertinya melupakan sesuatu.
__ADS_1
"Memangnya siapa kamu Renata?" tanya Arista yang lantas melepaskan tangannya dari lengan kakaknya itu.
"Kamu bukan Renata Wijaya yang dulu, yang makan saja di layani, apapun di layani, tinggal perintah, bahkan tissue yang kamu pakai juga harus yang berharga di atas satu juta. Sekarang semua sudah berbeda, Renata sadarlah. Kita ini bukan lagi kita yang dulu, papi kabur. Mami masuk rumah sakit. Kita di usir dari rumah kita karena papi ketahuan menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang untuk membantu pria bernama Jerry Alando itu. Lantas apa yang bisa kita banggakan sekarang? kita bahkan tidak punya uang sepeserpun. Rekening di bekukan, mobil di sita. Masih bagus mereka mau mendengarkan aku, dan tidak menyita barang-barang pribadi kita!" kata Arista.
Renata dengan mata berkaca-kaca langsung terduduk di tanah.
"Kenapa semua ini terjadi pada kita, suamimu menceraikan mu karena tak mau terkena masalah. Lalu mas Nathan, dia juga meninggalkan aku. Kenapa semua jadi begini Arista!" keluh Renata sembari tertunduk namun tetap berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir jatuh.
Renata adalah sosok yang tak pernah ingin terlihat lemah di mata orang lain. Apalagi orang-orang yang menjadi musuhnya. Arista menepuk bahu kakaknya itu dan berkata.
"Sudahlah, ini sudah konsekuensinya. Harta yang di dapat dari menipu, menyalahgunakan wewenang, menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Pasti akhirnya akan seperti ini. Lebih baik kamu bereskan barang-barang mu. Kita pergi ke rumah Bibi Nida. Raja dan Ratu sudah ada di sana!" kata Arista dengan tenang.
Arista berusaha tetap tenang, meski kepalanya serasa mau meledak. Bisa-bisanya papinya meninggalkan mereka semua dan membawa aset yang tersisa. Bahkan sama sekali tidak perduli pada Yuliana yang masuk rumah sakit karena serangan jantung.
"Maksudmu tinggal di ruang Bi Nida? yang benar saja Arista, perkampungan kumuh itu, gang sempit yang bahkan tidak bisa di lewati satu buah mobil saja? apa kamu bercanda Arista?" tanya Renata yang jelas tak ingin tinggal di tempat pelayannya itu.
"Lalu maumu apa? tinggal di hotel? silahkan! tapi apa kamu punya uang, atau mau kamu jual itu semua barang-barang branded kamu itu? tidak malu pada teman-teman sosialita mu itu?" tanya Arista sedikit kesal.
Karena baginya dia tidak mau lagi lama-lama berada di tempat ini. Banyak sekali hal buruk yang dia alami di rumah besar ini.
Renata terdiam, dia juga tidak mau teman-temannya tahu masalahnya ini. Bisa tidak punya muka lagi dia di depan semua teman-temannya.
"Cepat Renata, atau kamu cari taksi sendiri dan bayar sendiri!" gertak Arista kesal.
"Iya iya, sabar!" kata Renata yang tak punya pilihan lain.
__ADS_1
Setelah merapikan semuanya, mereka naik taksi menuju ke rumah pelayan mereka Nida. Sebenarnya rumah itu yang membelikan Arista untuk Nida. Dan Nida juga menjadikannya rumah kontrakan. Karena sekarang Arista tidak punya tempat tinggal, maka Nida mempersilahkan Arista tinggal disana. Tapi Arista memang meminta Nida merahasiakan semua itu. Karena kalau ketahuan itu aset Arista, bank juga akan mengambilnya. Untung saja surat rumah itu atas nama Nida.
Mereka berhenti di depan gang perkampungan itu. Sebab mobil memang tidak bisa masuk. Nida sudah menyiapkan sebuah gerobak yang dia pinjam dari mushola yang ada di sana, supaya Arista dan Renata tidak susah payah bolak-balik saat membawa barang-barang mereka dari depan gang sampai rumah. Karena jarak dari depan gang sampai rumah sederhana itu lumayan jauh. Sekitar 200 meter lebih.
"Ih, apa-apaan sih. Masak iya barang-barang mewah di angkut pakai gerobak butut begini?" tanya Renata yang lagi-lagi protes pada apa yang akan di lakukan Arista.
Arista hanya bisa mengacuhkan Renata lalu meletakkan semua barang-barangnya dan kedua anaknya ke dalam gerobak.
"Ya ampun Arista, itu sepatu ratu ditumpuk-tumpuk gitu, nanti lecet. Mahal banget kan itu?" tanya Renata lagi.
"Sudah diam Renata, semakin lama kita menghentikan taksi ini di sini, argonya tetap akan jalan, dan semakin besar juga kamu harus membayar ongkos nya, kamu punya uang?" tanya Arista yang langsung membuat Renata menurunkan semua barang-barangnya dan meletakkannya di gerobak yang di bawa Nida.
Drama Renata tak berhenti sampai di situ saja. Setelah mereka sampai di rumah Nida, Renata langsung berlari ke luar lagi.
"Kenapa non, mau minum? atau mau apa?" tanya Nida.
"Ih bibi, itu kamar pengap banget sih! itu serius kamar buat aku, ya ampun bi, itu cuma dua kali tiga meter, gak ada AC nya, gak ada jendelanya, kasurnya keras kayak baru. Ya ampun...!" keluh Renata yang rasanya sangat tidak bisa hidup seperti ini.
Bagaimana bisa dia yang biasa tunggal di kamar yang luasnya 10 kali 10 meter dengan AC yang begitu sejuk, dengan jendela yang begitu banyak, dengan tempat tidur yang begitu empuk. Tinggal di kamar yang seperti dia sebutkan tadi. Rasanya Renata benar-benar ingin menangis dengan kehidupannya yang sekarang ini. Bagaimana bisa semua jadi begini.
"Sabar ya non, memang hanya adanya kamar itu yang kosong! atau mau pindah ke rumah bibi. Tapi dekat kandang ayam!"
"Whattt!"
***
__ADS_1
Bersambung...