Tega

Tega
Bab 81


__ADS_3

Meski sedikit terkejut karena Tristan juga baru menyadari kalau dirinya secara tidak langsung telah mencium Sarah, dan itu artinya dia sudah dua kali menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya itu. Tristan langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi mode cool lagi.


"Jangan salah paham ya, aku bukannya sengaja ingin kontak fisik denganmu. Aku melakukan itu untuk menyelamatkan mu!" kata Tristan dengan wajah yang nyaris tanpa dosa.


Sarah terdiam, kalau di pikir-pikir lagi apa yang dikatakan oleh Tristan itu memang benar. Tidak mungkin juga dia mau kontak fisik dengan Sarah, yang katanya memang bukan levelnya. Sarah pun memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah ini lah,i lagipula dia selamat juga karena Tristan.


"Tristan, sekali terimakasih... aku tidak menyangka meski kamu tidak menyukaiku kamu masih mau menyelamatkan aku. Benar kata ayah, kamu itu sebenarnya baik!" kata Sarah yang tersenyum pada Tristan.


Melihat senyum tulus Sarah, membuat Tristan terlihat salah tingkah. Mereka berdua cukup lama terdiam dan saling tersenyum. Benar-benar terlihat aman, tentram, damai dan sentosa suasana saat itu.


***


Alan kembali ke keluarganya setelah berpikir dengan sangat panjang dan lama. Rasa sesalnya karena telah mengkhianati Sarah berubah menjadi dendam karena Alan mengetahui Sarah telah menikah dengan Tristan Hutama.


Alan berpikir kalau Sarah tidak mau memaafkan dirinya karena Sarah sudah mendapatkan seseorang yang lebih kaya dan mapan, juga pemilik sebuah perusahaan yang besar. Alan berpikir kalau saat ini Sarah yang dia kenal sangat rendah hati dan baik menjadi silau akan harta.


Alan yang sebenarnya juga masih sangat mencintai Sarah. Malah memutuskan untuk membuktikan pada Sarah, kalau dirinya bisa lebih dari Tristan Hutama.


Alan memang bukan orang biasa, dia dulu kabur dari rumahnya yang seperti istana itu karena tidak mau di jodohkan dengan wanita pilihan orang tuanya. Tristan yang saat itu yakin kalau dirinya bisa hidup tanpa embel-embel nama besar keluarganya, memberanikan diri pergi ke ibukota. Dan saat dia mencari pekerjaan, saat itulah dia bertemu dengan Sarah. Seorang wanita sederhana, yang selalu ada di saat dirinya mengalami kesulitan. Membantunya saat dirinya masih dalam masa sulit sebelum mendapatkan pekerjaan. Mengiriminya makanan sehari dua kali, saat Alan sudah mendapatkan pekerjaan tapi belum mendapatkan gajinya yang pertamanya.

__ADS_1


Penyesalan Alan benar-benar tak terkira, karena kesalahannya yang menganggap selingkuh sekali saja tak akan membuat Sarah tahu, dia juga menyesal karena dia berteman dengan orang-orang yang tidak setia pada pasangannya. Jadi mereka memberikan nasehat dan contoh yang sama sekali tidak baik pada Alan. Seandainya dia tidak mengikuti kata teman-temannya yang mengatakan Sarah itu bucin sekali padanya, selingkuh sekali saja lalu minta maaf, tidak akan membuat Alan kehilangan Sarah.


Tapi nyatanya, Sarah bukanlah tipe wanita yang meskipun sangat mencintai Alan, tapi bisa menerima pengkhianatan. Bagi Sarah kesetiaan itu mutlak. Karena Sarah juga mencintai Alan dengan sepenuh hatinya. Begitu dia tahu pria yang sangat dia cintai, bahkan melebihi siapapun setelah bunda Tiara dan adik-adik panti. Maka hati Sarah langsung begitu terluka. Dia tak menyangka kalau cintanya akan berbalas pengkhianatan.


Dan Alan pun sangat membenci Hera, dia bersumpah akan membuat hidup wanita yang telah membuatnya kehilangan Sarah itu menderita saat dia kembali nanti. Meski ketika Alan mengambil keputusan untuk kembali ke keluarganya. Itu artinya dia harus menerima konsekuensinya.


Saat ini Alan sudah berada di depan sebuah rumah besar yang bahkan pagarnya saja terbuat dari campuran emas murni sepertinya. Begitu mengkilap dan di beri teralis besi di sekitar pagar itu.


(Kalau gak di kasih teralis, bisa-bisa di c0ngkelin sama orang yang lewat hiasan emas yang ada di pagar rumah besar itu)


Alan berdiri hanya membawa sebuah tas ransel di punggungnya, dia meninggalkan mobil dan semua pakaiannya yang lain di apartemennya. Dia benar-benar kembali ke rumah itu dengan apa yang dia pakai dan dia bawa saat keluar dari rumah besar itu.


Saat Alan tengah berdiri mematung di depan gerbang sambil berpikir. Pengawal penjaga rumah yang ada di pos yang letaknya di sebuah tower yang tingginya sekitar lima meter dari tanah. Melihat keberadaan Alan. Pengawal itu lantas menggunakan teropong untuk melihat dengan jelas siapa yang berdiri di depan pintu gerbang itu.


Mata pengawal itu melebar dan segera meletakkan teropongnya dan langsung meraih HT yang ada di atas meja di hadapannya begitu tahu kalau orang yang berdiri di depan gerbang itu adalah Alan. Salah satu tuan muda kediaman Kusuma Wijaya.


"Perhatian, penjaga gerbang. Cepat buka gerbangnya, tuan Jerry sedang ada di depan pintu!" kata pengawal penjaga tower itu.


Penjaga gerbang yang mendengar berita itu pun langsung meletakkan HT-nya di lengannya yang memang ada tempat untuk memasang alat komunikasi tersebut.

__ADS_1


Setelah itu dia langsung bergegas menuju ke dekat pintu gerbang, lalu menekan tombol yang berada di panel dekat pintu gerbang yang bisa membuka pintu gerbang itu secara otomatis. Karena jika di buka dengan cara manual, akan butuh sekitar tiga orang untuk mendorong gerbang yang sangat berat itu.


Pintu gerbang kediaman Kusuma Wijaya itu memang di design agar bisa menahan benturan, yang kalau di ibaratkan. Ditabrak truk tronton dengan kapasitas dua ton dengan kecepatan 100 km/jam saja. Tidak akan bisa membuat pintu gerbang itu lecet biar sedikit saja.


Begitu pintu gerbang itu terbuka, seorang pengawal lain langsung berlari menghampiri Alan dan langsung membungkukkan badannya memberi hormat pada Alan.


"Selamat datang tuan muda, silahkan masuk!" kata pengawal itu.


Alan masih diam dan menatap jauh ke rumah besar yang sudah dia tempati sejak dirinya dilahirkan sampai usianya dua puluh tiga tahun.


Rumah yang pernah dia tinggalkan, karena dia tidak mau dijodohkan dengan wanita yang sama sekali tidak dia sukai. Wanita itu masih kerabat jauhnya, wanita yang sejak kecil hidup dalam aturan rumah tangga yang bisa di bilang sangat kolot. Gaya dan penampilannya pun begitu polos dan bisa di bilang cupu. Karena itu Alan tidak mau menerima perjodohan itu. Dan memilih pergi meninggalkan segala fasilitas mewah dari orang tuanya.


Saat Alan sedang melihat tidak ada yang berubah dari rumahnya itu. Seorang penjaga dari jauh, yang sangat dia kenal menghampiri Alan. Pria yang Alan kenal sebagai asisten pribadi ayahnya. Namanya Tarmizi.


"Selamat sore tuan muda, tuan besar dan nyonya sedang menunggu anda di dalam! Silahkan!" ujarnya dengan ekspresi wajah yang begitu datar.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2