Tega

Tega
Bab 48


__ADS_3

Sarah dan Richard sudah masuk ke dalam ruangan CEO. Yang artinya mereka saat ini berada di dalam ruangan Tristan.


Tristan yang melihat kedatangan Sarah dan Richard, lantas segera menghampiri Sarah dan memberikan ponsel milik Tristan pada Sarah.


"Apa?" tanya Sarah yang pura-pura tidak tahu untuk apa dia di panggil ke ruangan bosnya yang juga adalah calon suaminya yang di kehidupannya yang lalu mungkin adalah kulkas dua pintu atau bahkan sebuah batu.


Sarah melakukan itu sengaja, kali ini bukanlah Tristan yang akan memerlukan bantuannya. Sepanjang jalan dari ruangan divisi keuangan, sampai di lift tadi Sarah bahkan sudah memikirkan akan seperti apa dia mengerjai Tristan yang butuh bantuannya untuk mengatakan pada sang ayah, kalau setelah menikah nanti mereka akan tinggal di apartemen Tristan dan bukan di kediaman Hutama.


Mendengar pertanyaan dari Sarah itu, Tristan langsung mematikan mode suara di ponselnya agar sang ayah tidak mendengar apa yang dia bicarakan.


Setelah mematikan mode bersuara, Tristan dengan cepat memukul lengan Richard yang juga terlihat bingung karena Sarah menanyakan apa yang harus dia lakukan. Padahal tadi Richard sudah menjelaskannya.


Plakkk


Tristan lantas memukul lengan Richard dengan lumayan kuat. Sarah melihat ke arah Richard dan dia terlihat tidak enak hati karena sudah membuat Richard menerima pukulan dari Tristan itu.


"Aku sudah bilang padamu untuk menjelaskan apa yang harus dia katakan pada ayah begitu dia sampai di sini bukan? kenapa dia masih bertanya?" tanya Tristan kesal.


Richard yang tahu kalau Sarah hanya berpura-pura pun hanya bisa menghela nafasnya panjang.


"Maaf bos, tadi kan bos bilang harus cepat bawa nona Sarah kemari. Jadi aku bawa dulu kemari, aku tidak sempat jelaskan bos!" bohong Richard pada Tristan agar Tristan tidak menyalahkan Sarah.


Sarah jadi merasa sangat tidak enak pada Tristan. Mungkin lain kali dia akan pikirkan hal lain untuk mengerjai Tristan tapi tidak melibatkan Richard atau orang lain.


"Ck... kamu keluar saja sana!" seru Tristan yang terlanjur kesal pada Richard.


Tristan lalu menarik tangan Sarah dan mengajaknya untuk duduk di sofa. Sarah pun menarik tangannya kembali, namun lagi-lagi Tristan berusaha menarik Sarah.


"Eh, apa-apaan sih. Oh ya, sekalian aku mau tambahkan di perjanjian pernikahan itu. Aku tidak mau ada kontak fisik!" tegas Sarah.


Dia sudah memikirkan hal ini sebagai syarat agar dia membantu Tristan bilang pada Arya Hutama ingin tinggal di apartemen Tristan saja.


"Siapa kau sampai ingin tawar menawar denganku, kau kira kau punya hak untuk itu?" tanya Tristan dengan tatapan kesal pada Sarah.


"Ya sudah, kalau begitu jangan harap aku mau mendengarkan mu. Aku akan pergi saja!" gertak Sarah yang sebenarnya hanya berpura-pura akan berbalik.


Tristan yang sudah sedari tadi menunggunya untuk bisa menjelaskan pada sang ayah yang masih terhubung di panggilan telepon ponselnya pun mendengus kesal.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah... lagipula siapa yang ingin menyentuhmu. Bukan level ku!" kesal Tristan yang terpaksa mengiyakan dan menyanggupi persyaratan tambahan yang harus mereka cantumkan dalam surat perjanjian pernikahan.


"Ih, kamu lupa. Barusan kamu menarik tanganku dari sana ke sini! lupa?" tanya Sarah yang mempraktekkan berdiri di tempat yang tadi dia berada lalu ke arah dimana dia berdiri setelah tangannya di tarik oleh Tristan tadi.


"Ck... ini berbeda. Sudah jangan banyak bicara, cepat duduk. Aku harus katakan sesuatu padamu!" ujar Tristan yang tak punya banyak waktu untuk menjelaskan sebab ayahnya sedang menunggu.


Sarah yang melihat peluang dirinya bisa mengajukan beberapa syarat pun mulai menjalankan aksinya.


"Aku akan duduk, tapi kamu harus berjanji dulu. Tambahkan dua poin penting dariku di surat perjanjian pernikahan yang kamu buat itu!" ucap Sarah berusaha memanfaatkan kesempatan yang ada.


"Tadi minta satu, kenapa sekarang jadi dua?" tanya Tristan kesal.


"Mau tidak? tidak mau juga tidak apa-apa, aku akan pergi. Aku masih banyak pekerjaan!" ucap Sarah membuat Tristan menggaruk kepalanya yang terasa pusing.


"Baiklah, apa satu lagi?" tanya Tristan.


"Setiap hari Sabtu akan pulang ke panti dan menginap di sana!"


"Apa perduli ku!" balas Tristan yang merasa syarat yang kedua ini begitu mudah untuk dia sanggupi.


"Terserah, sekarang dengar! ayah sedang menghubungi ku. Aku mau kamu katakan pada ayah, kalau setelah menikah kamu ingin tinggal denganku di apartemen...!"


"Siapa yang ingin tinggal denganmu di apartemen?" tanya Sarah menyela lagu ucapan Tristan.


Wajah Tristan sudah mulai merah menahan amarah.


"Bicara satu patah kata lagi, lihat apa yang bisa aku lakukan padamu!" kesal Tristan.


Sarah langsung memberi isyarat seperti mengunci mulut dan langsung melempar kuncinya ke arah belakang.


Tristan berdecak kesal melihat tingkah Sarah itu.


"Ck... kekanak-kanakan!" gerutu Tristan.


"Pokoknya kamu harus katakan pada ayah, kalau tinggal di apartemen lebih praktis. Kita kan sama-sama bekerja. Jadi jarak antara kantor dan apartemen yang dekat akan sangat memudahkan mobilitas kita...!" Tristan lalu terdiam.


Tristan berpikir kenapa dia malah bicara panjang lebar pada Sarah.

__ADS_1


"Pokoknya pikir alasannya lah. Heran, kenapa aku yang harus pikirkan alasannya!" keluh Tristan.


Sarah pun hanya menganggukkan kepalanya perlahan.


"Kenapa cuma manggut-manggut, paham tidak?" tanya Tristan.


Dan lagi-lagi Sarah hanya manggut-manggut seperti tadi.


"Apa kamu bisu?" tanya Tristan kesal.


Sarah lalu meraih sesuatu dari belakang kepalanya dan seolah membuka kunci mulutnya.


"Tadi kamu yang suruh aku diam, gimana sih?" tanya Sarah yang membuat Tristan darah tinggi.


Sarah mempelajari hal itu ketika Indah, adik pantinya sedang bercanda dengan adik panti yang lain. Dan para adik panti yang lain itu berhasil membuat Indah kesal bahkan nyaris menangis karena ulahnya yang sama persis Sarah lakukan pada Tristan itu.


Tristan mengacak rambutnya kasar.


"Berhenti bertingkah begitu, cepat bicara pada ayahku!" ujar Tristan yang langsung memberikan ponselnya pada Sarah.


Sarah pun menerima ponsel milik Tristan.


"Halo, selamat siang ayah!"


"Sarah! nak, kenapa tidak mau tinggal di rumah ayah?" tanya Arya Hutama terdengar sedih.


"Maaf ayah, kami memang akan tinggal di apartemen. Tapi setiap akhir pekan kami akan berkunjung ke tempat ayah, pintu apartemen Tristan juga selalu terbuka untuk ayah..!"


Mata Tristan langsung melotot ke arah Sarah mendengar apa yang Sarah katakan.


"Begitu ya... baiklah. Tinggal di sana juga baik, agar kalian saling mengenal. Ayah dan Kevin akan sering berkunjung, tidak apa-apa kan?" tanya Arya Hutama.


"Tentu saja ayah, kapanpun ayah dan Kevin boleh datang!" tambah Sarah yang membuat Tristan menunjukkan ekspresi ingin makan orang di depan Sarah.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2