
Sekitar lima menit setelah mobil yang di kemudikan oleh Tristan meninggalkan area perumahan elite dimana kediaman Arya Hutama berada.
Tristan tiba-tiba saja menepikan mobil yang dia kemudikan. Sarah yang sudah menduga hal itu akan terjadi hanya bisa menghela nafasnya panjang. Untung saja dia membawa ponsel yang dayanya sudah terisi penuh. Juga uang tunai yang cukup untuk membayar taksi online, atau angkutan umum yang lainnya.
"Turun!" perintah Tristan pada Sarah.
Tanpa bicara, atau menoleh ke arah Tristan. Sarah yang tak ingin adu mulut atau bertengkar dengan Tristan yang pastinya akan membuang banyak tenaganya memilih untuk langsung membuka pintu mobil Tristan dan keluar dari dalam mobil.
Tristan yang tidak menerima bantahan ataupun pertanyaan kenapa dia menyuruh Sarah turun pun menjadi bingung sendiri.
'Kenapa dia menurut sekali?' tanya Tristan dalam hatinya bingung.
Brakk
Sarah pun membanting pintu mobil Tristan dengan keras. Dan setelah itu, dengan santainya Tristan mengemudikan mobilnya lagi meninggalkan Sarah sendirian di tepi jalanan yang cukup sepi karena memang sudah larut malam.
Sarah hanya bisa berdecak kesal setelah mobil Tristan menjauh dan semakin tidak terlihat lagi.
"Huh, untung saja aku sudah kebal dengan duka kehidupan ini. Pahit, perih hidup mana yang belum aku rasakan...!" Sarah pun jadi mendramatisir kondisinya saat ini.
"Di buang orang tuaku sendiri di panti asuhan, di bod0hi sahabat sendiri, di khianati kekasih, di tik4m dari belakang... hanya di tinggal di jalan seperti ini, huh... ini sama sekali bukan apa-apa!" gumam Sarah sambil meraih ponselnya dari dalam tas.
Niat hati awalnya ingin memesan taksi online. Tapi dia cukup trauma dengan kejadian tempo hari. Alhasil dia memilih untuk menghubungi Arumi saja.
"Halo Sarah, kamu belum tidur?" tanya Arumi dengan suara yang terdengar seperti orang yang baru bangun tidur.
"Arumi, apakah aku membangunkan mu?" tanya Sarah yang tidak enak hati karena mendengar suara Arumi yang terdengar lelah.
"Ah... iya. Aku baru setengah jam yang lalu tidur. Ada apa? apa kamu sedih lagi karena pria bren9sek bernama Jerry Alando itu?" tanya Arumi menduga-duga.
Sarah pun kembali mengingat kalau di kantor hari ini pekerjaan Arumi sangatlah banyak karena Tano tidak masuk kerja. Sarah pun akhirnya memutuskan untuk tidak jadi meminta bantuan pada Arumi.
"Oh, tidak Arumi. Aku hanya merindukan mu, ha ha ha terdengar garing ya?" tanya Sarah sambil terkekeh canggung.
__ADS_1
"Ha ha ha, kamu lucu sekali Sarah. Terkadang aku juga seperti itu. Apa kamu tidak bisa tidur?" tanya Arumi yang tidak tahu kalau Sarah saat ini bahkan belum sampai di panti.
"Aku rasa aku akan tidur sebentar lagi. Ya sudah, lanjutkan mimpi indah mu ya. Selamat malam, have a beautiful dream!" ujar Sarah.
"You too!" sahut Arumi.
Sarah pun memutuskan panggilan teleponnya dengan Arumi. Setelah itu dia kembali mengusap wajahnya. Mau tidak mau, kali ini dia harus memesan taksi online. Meski masih sedikit tr4uma pada kejadian malam saat dia akan di culik dulu.
Namun baru akan membuka aplikasi taksi online, sebuah mobil berhenti di depannya. Membuat Sarah terkejut bukan main.
"Tuan Rendra...!"
Benar sekali, mobil itu adalah mobil Rendra yang di pakai olehnya ketika menjemput bunda Tiara dan Sarah dari panti asuhan.
Kaca jendela mobil itu pun terbuka, memperlihatkan senyum seorang pria tampan yang sangat ramah terlihat jelas dari senyumnya itu.
"Masuklah Sarah! aku akan mengantarmu pulang!" seru Rendra.
Sarah yang merasa lebih aman jika Rendra yang mengantarkan dirinya pun langsung membuka pintu mobil Rendra itu dan masuk ke dalamnya.
Sepanjang perjalanan, Sarah memilih untuk menoleh ke arah jendela mobil di sebelahnya saja. Rendra juga sepertinya sangat canggung untuk bertanya sebenarnya ada masalah apa antara Sarah dengan Tristan hingga menurut Rendra sikap Tristan itu sangat tidak biasa pada Sarah. Meskipun Tristan memang kasar, tapi Rendra merasa perlakuan dan sikap Tristan pada Sarah itu terlalu berlebihan, terlalu kasar dan terlalu Apriori.
Karena itu saat Tristan bilang akan mengantar Sarah pulang dan Sarah menatap dirinya sebelum pergi. Rendra merasa sepertinya Sarah tidak percaya sama sekali pada Tristan. Karena itulah Rendra ingin memastikan Sarah baik-baik saja, karena itu Rendra mengikuti mobil Tristan dengan jarak yang lumayan jauh.
Ternyata benar, baru keluar dari kediaman Arya Hutama kurang dari sepuluh menit saja. Tristan bahkan meninggalkan Sarah di pinggir jalan.
"Sarah!" panggil Rendra pelan.
"Ya tuan Rendra!" sahut Sarah yang langsung menoleh canggung ke arah Rendra.
Rendra kembali tersenyum, sambil sesekali melirik ke arah Sarah sekilas lalu kembali fokus ke arah depan lagi.
"Panggil saja kakak, sama seperti Tristan!" ujar Rendra.
__ADS_1
Sarah pun mengangguk patuh. Dia benar-benar tidak mau membuat masalah sedikit pun demi adik-adik panti asuhan bunda Tiara.
"Bolehkah aku bertanya padamu?" tanya Rendra yang terkesan sangat berhati-hati saat bicara dengan Sarah.
"Soal apa kak?" tanya Sarah mencoba membuat Rendra lebih bisa terbuka dan mengatakan apa yang ingin dia tanyakan tanpa ragu.
"Apa kamu dan Tristan memiliki masalah? maksudku, Tristan memang kasar Sarah, aku akui itu. Tapi sikapnya padamu...!"
"Dia mengira aku sengaja merencanakan semua ini kak!" jawab Sarah menyela pertanyaan Rendra.
Sarah tentu saja mengerti apa maksud Rendra, siapa pun yang melihat cara tristan memperlakukan Sarah pasti punya pemikiran yang sama. Ada dendam apa Tristan pada Sarah.
Sementara Rendra yang mendengar jawaban Sarah itu agak heran dan bingung dalam waktu yang bersamaan.
"Maksud mu?" tanya Rendra lagi yang ingin tahu lebih jelas lagi.
"Aku bekerja di perusahaan Arya Hutama Grup, lalu aku menolong Kevin, lalu aku bertemu dengan mu di malam itu. Tuan Tristan pikir, kalau aku sengaja merencanakan semua ini untuk bisa dekat dengan ayah, kamu dan Kevin. Agar bisa masuk menjadi anggota keluarga Arya Hutama. Dia pikir aku melakukan semua ini hanya untuk uang dan nama belakang!" jelas Sarah panjang lebar pada Rendra.
Rendra terlihat menghela nafas berat dan panjang.
"Maafkan Tristan, Sarah. Aku yakin dia bisa berpikir tentang semua itu karena dia belum mengenalmu dengan baik. Aku yakin, kamu adalah wanita yang baik. Bahkan Kevin saja suka padamu...!"
Rendra kembali menjeda kalimat yang ingin dia sampaikan.
"Oh ya, maafkan atas apa yang dikatakan Kevin tadi ya Sarah." pinta Rendra tulus.
"Tidak apa-apa kak, ayah sudah menceritakan semuanya tentang Kevin. Aku juga sangat menyukainya, dia anak yang manis dan menggemaskan!" ucap Sarah sambil tersenyum gemas mengingat Kevin.
Rendra terlihat mengembangkan senyuman yang sangat lebar. Dia senang ada yang sayang pada putranya, karena putranya memang kurang kasih sayang dari sosok seorang wanita yang menyayangi nya, sosok seorang ibu.
'Andai Gisella bisa menyayangi Kevin seperti mu, Sarah!' lirih Rendra dalam hatinya.
***
__ADS_1
Bersambung...