Tega

Tega
Bab 53


__ADS_3

Arya Hutama hanya mencoba untuk membuat mata Tristan terbuka, kalau Sarah tidak seburuk seperti apa yang dia pikirkan selama ini. Karena bahkan di mata Rendra dan Arya Hutama sendiri, justru Sarah jauh lebih sopan dan pengertian di bandingkan wanita yang katanya akan selalu hadir saat Tristan mengalami kesulitan.


Tristan belum menyadari apa yang Arya Hutama sadari. Tentang si Shanum itu yang bahkan sekarang sangat jarang menghubungi Tristan. Jika dulu saat kuliah Shanum terus bersama Tristan dan berusaha tegar menerima sikap tempramen Tristan. Tapi sekarang keadaannya sungguh berbeda. Dulu Shanum bertahan karena namanya belumlah seperti sekarang ini. Dulu Shanum hanya gadis yang berasal dari keluarga sederhana yang punya impian tinggi. Seiring waktu Tristan bisa mewujudkan sedikit demi sedikit mimpinya, namun sayang ketika gadis itu berubah menjadi wanita yang sukses sekarang. Dia malah sama sekali tidak memperhatikan Tristan lagi.


Arya Hutama saja bisa menyadari hal seperti itu, tapi karena cintanya. Tristan tak bisa melihat semua itu. Maka Arya Hutama berusaha untuk membuat Tristan lebih dekat dan mengenal pribadi Sarah. Agar Tristan bisa melupakan Shanum dan tulus mencintai dan membina rumah tangga mereka bukan hanya karena keluarga dan perjodohan, tapi benar-benar karena cinta.


Setibanya di restoran yang biasa menjadi tempat makan Tristan. Richard sudah memesan makanan yang biasa Tristan makan, dan dia pun bertanya pada Sarah. Sarah mau makan apa? untuk makan siangnya.


"Nona Sarah, mau pesan apa?" tanya Richard.


"Heh, dia kan hanya numpang makan saja. Tidak perlu tanya dia mau makan apa? biar dia makan apa yang kita makan juga!" seru Tristan.


Richard sampai langsung menoleh ke arah Sarah. Dia tak enak hati sekali, masalahnya Tristan itu bicara ketika pelayan yang mencatat pesanan mereka masih berada di dekat meja mereka.


"Nona...!" ucap Richard pelan karena melihat Sarah hanya tertunduk diam.


Sarah hanya menghela nafasnya panjang, kemudian dia melihat ke arah Richard.


"Em, Richard aku rasa aku harus pergi sekarang. Aku ingat ada pekerjaan yang harus aku kerjakan. Aku pergi dulu ya, selamat makan siang!" ucap Sarah yang merasa kalau dirinya memang akan terus menjadi bahan cibiran Tristan kalia terus berada di tempat itu.


Sarah kemudian berdiri tanpa melihat ke arah Tristan, dia langsung berjalan menjauh dari meja itu. Richard yang tidak enak hati langsung mengejar Sarah.


"Nona, nona...maafkan bos nona. Dia memang...!"


Sarah langsung berhenti dan menepuk lengan Richard perlahan.


"Aku tidak apa-apa. Akan ada sesuatu yang baik yang terjadi setelah ini. Percayalah!" ujar Sarah yang malah tersenyum pada Richard.


Richard benar-benar jadi tidak enak hati pada Sarah. Sudah di rendahkan seperti itu, tapi Sarah masih tersenyum dan tidak terlihat sedih sama sekali.


"Nona...!"


"Kembalilah kesana, atau dia akan kembali berteriak-teriak seperti anak kecil yang minta di suapi makan!" ucap Sarah yang langsung membuat Richard dan dirinya sendiri terkekeh.


Dari mejanya, Tristan yang juga masih memperhatikan kedua orang yang berdiri cukup jauh darinya itu dan malah terlihat mengobrol. Tristan pun semakin di buat kesal.


"Richard!" teriak Tristan.


Sarah dan Richard makin terkekeh lagi, tapi mereka berusaha memalingkan wajahnya ke arah lain sebab tak ingin Tristan melihat mereka sedang menertawakan dirinya. Karena apa yang dikatakan Sarah tadi memang benar, Tristan akan berteriak ketika Richard lama meninggalkan dirinya.

__ADS_1


"Sudah, sana! aku baik-baik saja! tapi setelah kamu kembali ke meja manusia batu itu, katakan padanya persis seperti ini. 'Bos, bagaimana kalau nanti nona Sarah mengadu pada tuan besar' katakan persis seperti itu, Mengerti?" tanya Sarah pada Richard.


"Tapi nona...!" bantah Richard yang takut kalau dia melaporkan hal itu dia akan kena amuk Tristan.


"Richard, katakan persis seperti yang aku bilang tadi. Dan akhir minggu nanti kamu bisa pulang dan menemani adikmu yang merayakan ulang tahun" ucap Sarah sambil menganggukkan kepalanya sekilas.


Richard yang mulai mengerti kode dari Sarah pun langsung tersenyum. Dia tidak menyangka, Sarah menjadikan hinaan bagi dirinya sebuah hadiah untuk Richard.


"Sejak awal aku melihatmu, aku sudah tahu nona. Kamu adalah wanita yang berhati sangat baik!" ucap Richard yang sangat terharu pada apa yang Sarah lakukan untuknya dan adiknya.


Setelah Sarah berbalik dan keluar dari restoran. Richard pun kembali ke meja Tristan.


"Kenapa mengejarnya? kamu menyukainya? kalau begitu katakan pada ayahku, kamu yang mau menikahinya. Itu juga bagus, jadi aku tidak perlu menikahi wanita freak itu!" kesal Tristan yang malah bicara panjang lebar tak menentu.


Richard sampai bingung kenapa bosnya itu kalau dengan Sarah, emosinya selalu naik level.


"Bos, nanti kalau nona Sarah mengadu pada tuan besar bagaimana?" tanya Richard persis seperti apa yang Sarah katakan pada Richard tadi.


Mata Tristan langsung melebar. Dia melupakan hal itu. Dia lupa kalau dia memang sudah keterlaluan. Dan tidak menutup kemungkinan Sarah akan mengadu lagi pada ayahnya seperti yang sudah-sudah. Itu memang anggapan Tristan, Tristan selalu menganggap semua amarah ayahnya dan juga Rendra itu akibat aduan Sarah. Padahal bukan.


Tapi pikiran Tristan yang seperti itulah yang saat ini sedang Sarah manfaatkan untuk membantu Richard.


"Kenapa aku tidak memikirkan hal itu, ini benar-benar menyebalkan!" keluhnya kemudian.


"Ck... bayar semua pesanannya tadi, ayo kita temui wanita itu!" ajak Tristan yang langsung berdiri dan berniat mengejar Sarah.


Rasa laparnya mendadak hilang. Karena takut Sarah mengadu pada ayahnya tuan Arya Hutama. Richard bergegas cepat membayar makanan yang dia pesan tadi ke kasir lalu mengejar Tristan.


Di luar restoran, Tristan sedang melihat ke kanan dan ke kiri mencari Sarah yang dia rasa pasti belum jauh dari restoran itu.


Begitu di luar, Richard langsung menemukan Sarah yang berdiri dekat gerbang arah keluar.


"Bos, itu nona Sarah!" seru Richard menunjuk ke arah dimana Sarah berada.


Tristan langsung berjalan dengan langkahnya yang panjang karena kakinya lumayan panjang.


"Hei, wanita freak!" panggil Tristan dengan wajah galak.


Sarah hanya menghela nafas sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Sementara Richard hanya mengikuti Tristan. Richard tidak menyangka, kalau Sarah bisa memprediksikan apa yang akan bos nya itu pikirkan dan lakukan.

__ADS_1


"Jika kau mengadu pada ayahku tentang masalah ini, kau akan dapatkan akibatnya yang lebih buruk dari sekedar lembur tanpa gaji!" gertak Tristan.


"Aku tidak takut, aku bahkan sudah sering melakukannya kan!" balas Sarah.


"Ck... kau!" pekik Tristan.


"Apa?" tanya Sarah tanpa rasa takut bahkan dengan dagu yang sedikit terangkat di depan Tristan.


"Kalau begitu masuk dan makan!" kata Tristan yang tak ingin sampai Sarah mengadu pada sang ayah.


"Makan saja sendiri!" ketus Sarah.


"Lalu apa yang kamu mau?" tanya Tristan yang sudah mulai menyerah.


Tapi saat Tristan bertanya seperti itu, cara bertanya Tristan juga tidak seperti orang yang sedang perduli. Cara bicara dan ekspresi wajahnya benar-benar masih sangat galak.


"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau akhir pekan ini kamu yang bekerja lembur? Kau harus meliburkan Richard selama dua hari di akhir pekan ini. Dan kerjakan semuanya sendiri, bagaimana?" tanya Sarah yang membuat Tristan geram.


Kalau di film kartun, mungkin sekarang akan terlihat ada asap mengepul di puncak kepala Tristan.


"Beraninya kau...!"


Sementara dari belakang Tristan, Richard sampai melongo tak percaya Sarah bisa meminta hal itu pada Tristan.


"Terserah, kalau tidak mau lakukan itu. Aku telepon ayah sekarang!" ujar Sarah yang langsung meraih ponselnya dari dalam tas.


Melihat Sarah meraih ponselnya, Tristan jadi gelagapan.


"Heh, baiklah. Richard Sabtu Minggu kau libur pekan ini. Sudah, simpan ponselmu!" ketus Tristan.


Rahang Richard nyaris jatuh, apa yang dia pikirkan selama satu minggu ini tentang bagaimana caranya meminta ijin pada Tristan agar dia bisa hadir di ulang tahun sang adik. Dapat di selesaikan dalam satu jam oleh Sarah. Richard benar-benar semakin respect pada Sarah.


Sarah pun menyimpan ponselnya, dan menghentikan sebuah taksi konvensional yang lewat.


"Ingat ya, lembur dan kerja sendiri!" seru Sarah sebelum masuk ke dalam mobil taksi itu dan meninggalkan Tristan yang tensi darahnya pasti saat ini sudah naik lagi.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2