Tega

Tega
Bab 215


__ADS_3

Tristan dan Sarah pulang dengan hati yang begitu bahagia. Sayangnya ini sudah malam, kalau tidak mereka pasti akan langsung ke kediaman Hutama untuk memberitahukan kabar bahagia ini pada tuan Arya Hutama.


Tristan begitu bahagia, sedangkan Sarah terlihat lebih excited sangking tidak menyangka sama sekali apa yang terjadi padanya itu.


Sarah begitu terharu, dia terus menyentuh perutnya yang masih rata. Dia akan menjadi seorang ibu, ada kehidupan lain di dalam perutnya dan itu adalah anaknya. Sarah tak dapat mengungkapkan apa yang dia rasakan saat ini.


Tristan benar-benar sangat senang. Bahkan saat turun dari mobil tadi Tristan berniat menggendong Sarah. Hanya saja Sarah tidak ingin seperti itu.


Di perjalanan pulang tadi, Tristan juga banyak menawarkan makanan ini dan itu pada Sarah. Tapi dari semua makanan dan minuman yang di tawarkan oleh Tristan. Sarah sama sekali tidak tertarik dengan semua itu. Dia hanya ingin cepat sampai apartemen dan tidur.


Begitu sampai di apartemen, Sarah lantas langsung bersih-bersih, ganti piyama dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Tristan yang juga baru selesai berganti pakaian, langsung membuatkan su5u untuk ibu hamil yang dia beli di rumah sakit tempat mereka periksa tadi.


Saat Tristan menebus obat di apotek, dia melihat ada beberapa kotak su5u untuk ibu hamil yang di jual di apotek itu. Maka dia langsung membelinya.


Tristan membaca dengan seksama petunjuk pembuatan minuman kesehatan untuk istri dan calon anaknya itu. Begitu Tristan selesai membuatnya, Tristan langsung membawanya ke dalam kamar untuk di berikan kepada Sarah.


"Sayang, kamu tadi kan tidak jadi makan malam. Dan kamu tidak mau makan apapun. Setidaknya minum su5u ini agar ada asupan yang masuk ke dalam tubuhmu!" kata Tristan sudah seperti dokter yang memeriksa Sarah tadi.


Sarah hanya tersenyum, dia lantas bangun dan duduk sambil menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.


"Terimakasih Tristan!" kata Sarah lalu meraih gelas yang di berikan Tristan padanya.


Sarah meminum minuman yang di buatkan Tristan. Dan ternyata minuman itu bisa masuk ke tenggorokan dan perutnya dengan lancar.


Sarah pun meminum minuman itu sedikit demi sedikit sampai hampir habis. Tristan lalu duduk di sebelah Sarah lalu mendekat ke perut Sarah. Sambil mengusap perut datar Sarah, Tristan berkata.


"Anak papa pintar sekali, jangan membuat mama mual lagi ya sayang!" kata Tristan yang langsung mencium perut Sarah dan membuat Sarah terkekeh.


"Sayang, sekarang istirahat lah. Besok pagi, kita akan beritahukan kabar baik ini pada ayah juga pada ayah dan ibumu!" kata Tristan meraih gelas dari tangan Sarah lalu membantu Sarah berbaring.


Tristan meletakkan gelas itu kembali ke dapur, kemudian dia makan malam. Setelah itu dia kembali ke kamar dan melihat Sarah sudah terlelap. Tristan menyelimuti Sarah lalu mencium kening dan perut istrinya. Setelah itu dia baru tidur.

__ADS_1


***


Keesokan harinya, di kota batu. Sidang putusan untuk kasus Mulya sedang di gelar karena sebelumnya Mulya menyatakan naik banding pada putusan sidang yang sebelumnya. Damar Adhikara dan Widya juga tampak hadir di sana. Sedangkan Inka juga di temani Yumi dan Raes datang ke sidang putusan akhir tersebut.


Inka ingin sekali menghampiri Damar Adhikara dan Widya. Namun sayangnya Raes melarangnya.


"Jangan lakukan itu Inka, kamu akan membuat keributan nanti. Setidaknya kalau mau bertemu dengan mereka maka kamu bisa datang saja ke rumah mereka. Tidak di sini!" kata Raes.


Dengan mata berkaca-kaca, Inka pun menurut pada Raes. Dia tahu Damar Adhikara dan Widya memang sangat membenci ibu kandungnya Mulya karena memang apa yang suda dia lakukan membuat Damar Adhikara dan Widya berpisah dengan anak kandung mereka dalam waktu yang sangat lama.


Dan pada akhirnya, keputusan yang tadinya delapan tahun kurungan penjara di potong masa tahanan, dan dia malah naik banding. Malah sekarang menjadi sepuluh tahun. Bertambah dua tahun dari yang seharusnya.


Mulya tambah histeris, tapi dia sudah tidak punya uang lagi untuk terus membayar pengacara. Pengacara Mulya juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka sudah bilang pada Mulya untuk menerima saja ketentuan itu. Mulya tampak kesal, tapi dia tidak bisa berbuat apapun juga sama seperti pengacaranya.


Sedangkan Inka juga hanya bisa mengisi di pelukan Raes. Sekarang dia benar-benar hanya bisa bersandar pada Raes.


Sebelum Mulya di bawa penjara, Damar Adhikara dan Widya di berikan kesempatan untuk bertemu dengannya di ruang tunggu tahanan jika ingin menunggu giliran sidang.


Widya sengaja menghidupkan speaker ponselnya di depan Mulya.


"Sarah sayang!" panggil Widya begitu senang mendengar suara Sarah.


"Bu, ibu dan ayah apa kabar?" tanya Sarah.


"Ibu dan ayah baik-baik saja nak, kamu sendiri bagaimana? Tristan juga bagaimana kabarnya?" tanya Widya.


"Aku dan Tristan baik juga bu. Aku... aku ingin memberi kabar pada ibu. Kalau aku.. aku hamil Bu!" kata Sarah.


Widya tak bisa menutupi kebahagiaannya. Di lansung menutup mulutnya excited. Matanya juga langsung berbinar. Widya langsung memegang lengan Damar Adhikara.


"Kamu hamil nak, Alhamdulillah!"

__ADS_1


"Ayah, Sarah hamil. Kita akan jadi nenek dan kakek, kita akan punya cucu yah!" kata Widya sangat bahagia.


Mendengar apa yang di katakan oleh Widya. Mulya tampak semakin kesal. Dia bahkan mengepalkan tangannya dengan kuat.


Damar Adhikara juga langsung meraih ponsel yang di pegang Widya.


"Sarah, nak. Alhamdulillah. Ini sungguh kabar yang sangat baik. Ayah dan ibu akan segera kesana nak!" kata Damar Adhikara tak sabar ingin bertemu dengan Sarah.


"Iya ayah, ayah dan ibu sehat-sehat ya!"


"Tenang saja nak, ayah pasti akan sehat dan lebih sehat lagi. Ayah masih mau menggendong cucu ayah dan mengajarkan dia naik sepeda!" kata Damar Adhikara.


Terdengar suara Sarah tertawa.


"Iya ayah!"


"Kamu juga jaga kesehatan ya nak. Banyak-banyak istirahat. Jika ingin sesuatu yang tidak ada di sana, bilang pada ayah dan ibu!" kata Damar Adhikara lagi.


"Baik ayah!" kata Sarah.


"Da sayang!" kata Widya yang melihat supir penjara sudah memberi isyarat pada mereka kalau waktu bertemu dengan Mulya sudah hampir habis.


"Da ibu, ayah. Sampai jumpa!" kata Sarah.


Widya lantas kembali menyimpan ponselnya, dan berjalan menghampiri Mulya. Setelah tepat di hadapan Mulya, Widya lantas berkata.


"Kamu dengar, itu tadi Sarah anak kami. Oh... maksud ku anak yang pernah kamu beri nama Tari!" kata Widya membuat mata Mulya terbelalak tak percaya.


'Mereka menemukannya, tidak mungkin!' batin Mulya kesal.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2