
Tristan pun segera meraih ponselnya dari tangan Sarah setelah sang ayah selesai bicara dengan Sarah dan menyetujui permintaan Sarah agar setelah menikah dia dan Tristan bisa tinggal di apartemen Tristan saja.
Sarah mendelik kesal, karena ponselnya di tarik begitu saja. Bukan masalah apa-apa. Nanti kalau ponselnya itu jatuh, pasti yang disalahkan juga Sarah. Dan kalau ponsel itu rusak, Tristan juga pasti minta ganti ruginya sama Sarah. Jadi Sarah tak ingin itu terjadi, karena dia pasti tidak bisa menggantinya.
"Bisa tidak, jangan asal tarik gitu. Kalau jatuh, rusak, bagaimana?" tanya Sarah yang sangat sayang memang pada barang-barang yang menurutnya punya nilai.
"Ini ponselku, apa perduli mu!" sahut Tristan acuh.
Sarah sampai berdecih kesal dengan tingkah Tristan itu.
"Ya sudah, kalau sudah tidak ada lagi yang penting aku keluar! eh.. jangan lupa tampah dua poin yang aku sebutkan tadi. Besok aku ingin lihat berkasnya, kalau tidak aku akan hubungi ayah dan bilang sepertinya aku berubah pikiran!" ucap Sarah sambil berlalu dari ruangan Tristan.
Tristan sampai menatap tajam ke arah pintu dimana Sarah berlalu tadi.
Tristan sampai menunjukkan wajah yang begitu tak percaya, bagaimana bisa wanita yang selama ini ingin selalu dia buat susah bisa memaksanya menambahkan dua poin pada surat perjanjian yang dia buat sendiri.
"Hoh, bagaimana bisa wanita itu... ck... siall!" geram Tristan.
Sementara itu Sarah yang sudah keluar dari ruangan Tristan segera mencari keberadaan Richard. Dia sungguh merasa tidak enak karena tadi sempat membuat Richard terkena pukulan di lengannya tadi oleh Tristan.
Sarah mencari di ruang sekertaris, tapi Sarah tak mendapati keberadaan Richard di sana. Akhirnya Sarah pun bertanya pada salah satu sekertaris Tristan yang alin yang ada di sana.
"Selamat siang, Nurma. Apa kamu melihat Richard?" tanya Sarah baik-baik.
Sarah juga menanyakan hal itu sambil tersenyum dan berdiri di depan meja kerja Nurma dengan sopan, sambil meletakkan kedua tangannya yang bertaut di belakang pinggangnya.
Tapi tatapan Nurma pada Sarah sepertinya menunjukkan kalau wanita yang sudah jadi sekertaris Tristan selama lebih dari dua minggu itu tidak senang pada Sarah. Nurma bahkan hanya melirik Sarah dengan tatapan tidak suka lalu kembali mengerjakan pekerjaannya. Sepertinya memang tak ingin menjawab pertanyaan dari Sarah tadi.
"Nurma, apa kamu mendengarkan aku?" tanya Sarah lagi yang mencoba untuk tetap bisa mendapatkan jawaban dari Nurma dan memang dia tidak berpikir negatif tentang Nurma.
__ADS_1
Sarah mengira karena Nurma terlalu fokus pada pekerjaannya maka itu dia tidak menjawab pertanyaan Sarah.
"Heh, gak lihat apa orang lagi kerja. Lihat gak di sini tuh ada siapa aja? yang gak ada artinya gak ada di sini? gitu aja gak ngerti!" jawab Nurma ketus.
'Astaga, ini kenapa sekertaris baru ketularan penyakitnya di manusia batu sih?' batin Sarah yang terus terang saja terkejut melihat respon Nurma padanya.
Sarah menghela nafas panjang.
"Oh... aku pikir kamu tuli!" balas Sarah yang langsung berbalik dan pergi dari tempat itu.
Mendengar Sarah mengatainya tuli, Nurma langsung membanting mouse yang tadi dia pegang.
"Akh... dasar menyebalkan. Kenapa sih dia yang harus jadi calon istri tuan Tristan. Ngeselin banget, gak lihat apa kalau aku lebih cantik dari dia. Lebih pintar, ngeselin!" gerutu Nurma uang ternyata menaruh hati pada Tristan dan tidak suka pada Sarah.
Sarah terus membuang nafasnya dengan kasar. Entah kenapa dia merasa kantor tempatnya bekerja ini sudah tidak se-damai dulu lagi. Sejak kedatangan Tristan dan orang-orang yang dia rekrut menggantikan orang-orang lama yang sudah pensiun atau memilih berhenti karena pak Subagio pensiun. Kantor ini jadi seperti arena fear factor. Penuh kejutan tapi bagi yang tidak tahan banting atau kuat mentalnya maka pasti akan memilih untuk resign sebelum di pecat.
Karena memang Sarah ingin bertemu dengan Richard untuk minta maaf. Akhirnya Sarah memutuskan untuk menghampiri Richard. Tapi karena Richard masih bicara dengan seseorang di telepon, Sarah berdiri agak jauh di belakang Richard menunggu pria itu selesai menelpon.
"Iya nek, aku akan coba minta ijin akhir pekan ini pada bos ku. Tapi kalau bos tidak memberi ijin. Aku minta maaf ya nek. Aku tidak bisa pulang untuk merayakan ulang tahun Chika. Tapi aku akan selalu mendoakannya agar...!"
Tapi Richard menghentikan ucapannya karena sepertinya yang dia ajak bicara di telepon menyela ucapannya.
"Iya nek, aku mengerti. Bukan hanya Chika yang hanya punya aku saja sebagai kakaknya, tapi aku juga hanya punya dia semata wayang adikku. Tapi pekerjaan ku...!"
Richard kembali menghentikan perkataannya. Sarah yang memperhatikan itu sepertinya mengerti, kalau orang yang dia hubungi itu adalah neneknya dan yang sedang mereka bicarakan adalah ulang tahun seseorang yang bernama Chika. Yang kalau dari yang Sarah dengar, itu adalah adik Richard. Analisa Sarah itu membuatnya manggut-manggut karena dia yakin kalau analisanya itu benar.
Tapi tak lama kemudian Sarah langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
'Eh, kenapa aku malah nguping gini sih?' batin Sarah yang merasa apa yang dia lakukan itu tidak benar.
__ADS_1
Sarah yang merasa sudah mendengar privasi Richard pun memilih berbalik untuk segera pergi dari sana. Tapi baru dia berbalik, dia malah keselandung kakinya sendiri.
"Eh...!" suara itu keluar begitu saja dari mulut Sarah.
Mendengar suara di belakangnya, tentu saja Richard langsung berbalik.
"Maaf nek, nanti aku hubungi lagi ya. Aku sayang nenek!" ucap Richard yang langsung memutuskan panggilan telepon dan menyimpan ponselnya ke saku jasnya lagi.
"Nona, kamu tidak apa-apa?" tanya Richard yang malah menanyakan kondisi Sarah yang terlihat akan terjatuh.
"Oh, aku tidak apa-apa Richard. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud menguping pembicaraan mu, tadi aku mencari mu dan tak sengaja mendengar kamu menelepon saat aku menghampiri mu!" jelas Sarah panjang lebar.
"Tidak apa-apa nona, tapi kenapa nona mencari ku?" tanya Richard penasaran.
Sarah langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi ekspresi wajah yang terlihat sangat menyesal.
"Richard, aku mau minta maaf. Aku tidak bermaksud membuat Tristan memukulmu tadi. Apa itu sakit?" tanya Sarah dengan raut wajah cemas sambil sekilas melihat ke arah lengan Richard.
Mata Richard melihat ke arah pandangan sekilas Sarah itu lalu ke arah wajah Sarah lagi. Kemudian dia terkekeh.
"Ha ha, sama sekali tidak nona. Itu tidak ada apa-apanya. Aku bahkan pernah di suruh menyelam dan tidak boleh timbul ke permukaan air kalau belum bos suruh dan berlari mengikuti mobil bos ketika dia marah. Ini belum apa-apa!" sahut Richard yang benar-benar memasang ekspresi wajah biasa saja.
Sarah sampai menelan salivanya dengan susah payah.
'Hah, berlari mengejar mobil? menyelam dan tidak boleh timbul sebelum di suruh. Hah, Tristan itu manusia atau monster. Mengerikan!' pikir Sarah yang mulai bergidik membayangkan Tristan melakukan semua itu pada Richard.
***
Bersambung...
__ADS_1