Tega

Tega
Bab 63


__ADS_3

Acara selanjutnya, tentu saja pesta dansa. Dan tentu saja di awali dengan pasangan pengantin baru yang baru saja selesai melempar bunga.


"Kenapa juga harus ada acara dansa? lalu kalian ingin aku berdansa dengannya?" tanya Tristan sambil menunjuk ke arah Sarah.


"Aku yakin dia tidak bisa berdansa!" lanjut Tristan.


Arumi yang kebetulan ada di samping Sarah karena sedang mengambil foto dengan sahabatnya itu langsung kesal mendengar apa yang dikatakan Tristan.


"Eh, jangan salah ya tuan Tristan. Aku dan Sarah ini juara satu lomba menari saat tujuh belasan di kantor. Tanya saja sama Bu Sisilia dan yang lain kalau tidak percaya!" bantah Arumi yang kesal karena Sarah di remehkan olah Tristan.


Mendengar pernyataan Arumi barusan, Richard dan Tristan sama-sama tidak percaya.


"Benarkah?" tanya Richard yang tak percaya seratus persen terhadap apa yang di katakan oleh Arumi barusan.


Sarah lantas menarik lengan Arumi mendekat ke arahnya.


"Arumi, ini berbeda. Tarian waktu lomba tujuh belasan itu hanya tarian toktok saja. Ini dansa seperti yang sering kita lihat di film-film barat itu loh Arumi, gerakannya lebih lambat, dan harus saling memahami langkah satu sama lain!" jelas Sarah pada Arumi.


Wajah Arumi seketika menunjukkan ekspresi terkejut.


"Oh, begitukah!" kata Arumi yang langsung menarik Sarah agak menjauh lalu berbisik padanya.


"Kalau begitu bagus, kamu bisa injak kaki suamimu yang galak itu dengan keras!" ucap Arumi yang di susul dengan kekehan.


Melihat Arumi dan Sarah menjauh, apalagi Arumi terdengar tertawa. Tristan punya firasat yang tidak baik.


"Kami persilahkan kepada kedua mempelai untuk maju ke lantai dansa. Setelah itu, silahkan pasangan lain yang mau menemani kedua mempelai kami juga mempersilahkan!" seru pembawa acara itu lagi.


Sarah dan Tristan pun akhirnya melangkahkan kaki mereka berdua ke lantai dansa itu.


"Ini hanya formalitas, jangan terlalu percaya diri aku mau menyentuhmu!" seru Tristan yang tak di tanggapi oleh Sarah.


Sarah melihat ke arah bunda Tiara dan ayah Arya Hutama yang terlihat begitu bahagia mereka mau maju ke lantai dansa bersama. Itu sudah cukup untuk Sarah, menyingkirkan segala emosinya terhadap Tristan.


Selama lima menit musik melantun, semakin ramai pasangan yang ikut turun untuk berdansa. Hingga Kevin yang ingin ikut serta pun menarik-narik tangan Arumi.

__ADS_1


"Kakak cantik, kakak mau menari seperti mereka denganku tidak?" tanya Kevin dengan wajah menggemaskan.


Arumi cukup terkejut karena dia tahu kalau Kevin ini adalah cucu kesayangan dari ayah mertua Sarah.


"Kamu Kevin kan? cucunya tuan Arya Hutama?" tanya Arumi.


Kevin pun mengangguk.


"Seharusnya anak kecil seperti mu tidur saja, ini sudah malam!" kata Arumi yang langsung pergi menjauh dari Kevin.


Kevin pun terlihat kesal lalu menghentakkan kakinya ke lantai. Rendra yang tadinya memang sudah membujuk Kevin untuk meninggalkan pesta ini pun hanya tersenyum kecil dari arah belakang Kevin. Biasanya tidak ada yang berani menolak permintaan Kevin, setelah mengetahui kalau Kevin adalah cucu dari Arya Hutama. Bahkan ayahnya dan Sarah sekalipun, mereka selalu menuruti dan mengikuti apa maunya Kevin.


Tapi Arumi menolaknya bahkan setelah bertanya siapa Kevin. Itu membuat Rendra terkekeh, akhirnya ada juga yang bisa membuat putranya itu kesal.


Rendra lantas menghampiri anaknya itu.


"Kan papa sudah bilang, ini sudah malam. Ayo, kita ke lantai dua. Kevin sudah harus istirahat. Ayah akan menemani mu!" kata Rendra langsung menggendong Kevin menuju lantai dua.


Sementara pasangan pengantin baru yang sudah melalui beberapa menit dengan canggung itu pun masih tampak canggung.


Sarah pun menoleh ke arah Tristan, tapi pandangan mereka malah bertemu.


Satu detik... dua detik... tiga detik...


"Wah, sungguh pemandangan yang romantis. Siapa yang ingin melihat tuan Tristan mencium istrinya?" seru pembawa acara yang langsung membuyarkan momen langka barusan.


Sarah langsung menjauh dari Tristan, ketika pembawa acara itu bicara seperti itu.


Tapi sorak sorai dari para tamu dan keluarga dekat membuat Tristan dan Sarah semakin tidak merasa nyaman. Arumi yang berada di kerumunan tamu malah ikut bersorak.


"Cium... cium!" sorak Arumi sambil bertepuk tangan.


Richard yang ada di dekat Arya Hutama dan bunda Tiara bahkan sudah berdiri dan ikut memeriahkan tepukan tangan para tamu yang lain.


"Bos, kamu pasti bisa... ayo bos!" teriakan Richard membuat bunda Tiara malu sendiri mendengarnya.

__ADS_1


Tuan Arya Hutama menyadari kalau bunda Tiara sepertinya tidak nyaman dengan semua seruan itu.


"Bunda, mereka sudah sah menjadi suami istri. Juga tidak masalahkan, kalau Tristan mencium istrinya?" tanya tuan Arya Hutama yang memang ingin Tristan lebih dekat dengan Sarah.


"Wah, masih malu-malu ternyata. Bagaimana ini?" tanya pembawa acara seolah menjadi kompor untuk para tamu agar lebih kencang meneriaki Tristan dan Sarah agar menuruti apa yang mereka katakan.


Tristan yang memiliki ego tinggi tentu saja tak mau di anggap remeh. Dia langsung menarik pinggang Sarah dan mencium Sarah dengan tiba-tiba.


Kedua mata Sarah terbuka lebar, saat bibir pria yang selalu mengucap kata-kata kasar dan menyebalkan untuknya itu menyentuh bibirnya. Bahkan melakukan gerakan yang tidak Sarah duga, ciuman itu sangat kuat dan menuntut.


Seruan para tamu dan sahabat langsung berganti menjadi tepukan tangan yang meriah. Sarah yang masih berada di dalam dekapan Tristan pun tak bisa menahannya lagi, Sarah langsung mendorong Tristan menjauh dan dia menarik dirinya menjauh dari Tristan. Mata Sarah menatap kesal pada Tristan.


'Apanya yang tidak akan ada kontak fisik, di suruh cium saja dia malah mencium seperti itu. Aku hampir kehabisan nafas!' kesal Sarah dalam hatinya.


Sementara Tristan yang ditatap dengan kesal oleh Sarah. Malah terlihat merutuk1 dirinya sendiri.


'Kenapa bisa seperti itu, kenapa aku malah ingin lebih. Sialll!' keluh Tristan yang ingin mem4ki dirinya sendiri sampai bisa bersikap seperti itu tadi.


Acara demi acara pun akhirnya di lalui dengan lancar. Sepanjang acara selanjutnya, Tristan dan Sarah tak saling pandang atau sapa. Hingga acara berakhir pada pukul sembilan malam. Bunda Tiara dan yang lain mengantarkan Sarah ke mobil Tristan karena mereka akan langsung pergi dan tinggal di apartemen Tristan.


"Bunda, aku pergi ya. Seperti janjiku aku akan tetap ke panti saat akhir pekan. Bunda jaga kesehatan ya!" ucap Sarah sambil memeluk bunda Tiara.


Di sisi mobil yang lain, Richard yang sudah memasukkan koper Sarah ke dalam mobil Tristan pun menghampiri bosnya itu.


"Bos, selamat ya. Tapi santai saja bos, jangan kasar-kasar malam pertama nya ya!" sindir Richard dengan suara pelan yang hanya bisa di dengar Tristan.


"Malam pertama apa? jangan asal ngomong kamu!" kesal Tristan dengan suara pelan juga.


"Ah, bos suka gitu deh. Itu tadi aja bos cium nona Sarah gitu banget, pasti nanti malam...!"


"Aughk!" pekik Richard karena tangannya di pukul oleh Tristan.


"Bicara yang tidak-tidak lagi, ku potong gajimu!" kesal Tristan yang langsung masuk ke dalam mobil.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2