
Tak berselang lama, bunda Tiara pun harus pergi meninggalkan Sarah dan Tristan di ruang tengah karena ada tamu yang datang.
Sarah masih sibuk bermain dengan Hani. Tristan yang merasa bosan sendirian pun mencoba mencari ponselnya. Namun saat dia mencari di sakunya, ternyata dia melupakan. Kalau ponselnya tertinggal di mobil.
"Sarah, aku akan ambil ponsel ku di mobil!" kata Tristan yang langsung keluar dari ruang tengah.
Namun Tristan lewat pintu samping, karena dia tahu di depan ada tamu. Jadi dia juga masih menghargai privasi bunda Tiara. Karena itu dia keluar lewat pintu samping. Sarah pun menghela nafas panjang, dia sebenarnya senang dengan semua perubahan Tristan yang memang lebih positif ini. Tapi dia sadar, kalaupun Tristan berubah menjadi lebih baik, itu juga baik. Namun tak akan merubah hubungan mereka yang hanya sebatas kompromi tertulis dan saling membantu saja.
Bunda Tiara yang sudah selesai dengan urusannya kembali ke ruang tengah.
"Sarah, mana nak Tristan?" tanya bunda yang meraih Hani dari Sarah.
"Di luar Bun, dia sedang ambil ponselnya di mobil!" jawab Sarah sesuai dengan yang dikatakan oleh Tristan tadi padanya.
"Oh, kalian akan makan siang di sini kan?" tanya bunda Tiara.
Sarah yang memang tidak tahu akan makan siang di panti pun mengangkat bahunya sekilas.
"Aku sih mau Bun, tapi tidak tahu dengan Tristan. Mau aku tanyakan padanya?" tanya Sarah.
"Iya Sarah, tanyakan ya. Soalnya kan banyak anak panti juga, kalau kalian mau makan siang di sini. Kamu kan bisa bereskan ruang di samping itu supaya nak Tristan lebih nyaman!" kata bunda Tiara.
Sarah pun mengangguk patuh.
"Iya Bun!" jawab Sarah yang langsung pergi keluar berniat menghampiri Tristan di mobilnya.
Tristan yang sudah mendapatkan ponselnya, tak langsung masuk ke dalam panti. Dia iseng memeriksa ponselnya, siapa tahu ada telepon penting dari Richard untuk urusan pekerjaan. Namun dia tampak terkejut melihat ada panggilan tak terjawab dari Shanum.
"Shanum!" lirih Tristan.
__ADS_1
Hampir tiga hari ini Tristan sama sekali tidak memikirkan Shanum. Tristan mengusap wajahnya kasar.
"Maafkan aku Shanum, astaga! ada apa denganku. Bagaimana bisa setelah mendapatkan kembali ponselku. Aku bahkan tidak ingat untuk menghubungi Shanum!"
Tristan terus menggerutu, bergumam menyalahkan dirinya sendiri yang sudah beberapa hari tidak menghubungi Shanum karena berada di pulau, dan ketika sudah berada di kota pun tak juga menghubungi kekasihnya itu.
Dengan cepat Tristan pun menghubungi Shanum.
"Aku pikir kamu sudah melupakan aku!" lirih Shanum dari seberang sana.
Mendengar kalimat pertama yang di sampaikan Shanum adalah kalimat seperti itu. Tristan mengusap rambutnya dengan kasar. Tristan benar-benar merasa bersalah pada Shanum.
"Maafkan aku, setelah acara pernikahan itu ayah mengirim ku dan Sarah ke pulau yang tidak ada jaringannya. Aku tidak bisa menghubungi mu...!"
"Pantas saja, ratusan kali aku menghubungi nomer mu tidak bisa. Tristan, apa kamu tahu, aku sangat cemas. Aku benar-benar takut kehilanganmu. Apa kamu... apa kamu sudah menyentuh wanita itu?" tanya Shanum dengan suara yang terdengar sedih.
"Tidak Shanum, kita sudah bicarakan hal ini bukan. Aku bahkan sudah katakan padanya untuk mengurus urusan kami masing-masing. Sudah ku tegaskan padanya, kami tidak akan saling bicara jika tidak ada orang lain di sekitar kami! kamu jangan khawatir Shanum, Sarah bukan tipeku. Aku tidak akan pernah menyukainya, apalagi menyentuhnya!" jelas Tristan yang sudah mulai kembali ke ekspresi datar seperti semula.
"Aku juga sangat mencintaimu Shanum. Cepatlah kembali, aku sangat merindukanmu!" kata Tristan dengan sangat tulus dan penuh kasih sayang.
"Aku akan kembali sebentar lagi, kamu tahu kan acara penghargaan itu tinggal beberapa bulan lagi. Saat aku mendapatkannya, aku akan kembali padamu dengan membawa penghargaan itu. Aku ingin membuatmu bangga, aku ingin bisa menjadi wanita satu-satunya yang layak bersanding dengan seorang Tristan Hutama!" kata Shanum.
Tristan langsung ceria mendengar kata-kata manis dari Shanum. Cintanya dan rindunya kembali menggunung pada kekasihnya itu.
"Aku percaya kamu bisa, aku akan selalu menunggu mu!"
"Aku mencintaimu Tristan!"
"Aku juga mencintaimu Shanum!"
__ADS_1
Setelah menutup telepon, dan menyimpan ponselnya di saku. Tristan pun berbalik.
Deg
Tristan tidak menyangka kalau Sarah sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan.
Pandangan mata mereka saling bertemu, saling mengunci satu sama lain. Mata lebar Tristan menatap mata sayu Sarah yang berkaca-kaca.
"Sejak kapan kamu berdiri di situ Sarah?" tanya Tristan gugup.
"Sejak kamu mengatakan pada kekasihmu kalau aku bukan tipemu, kamu tidak akan pernah menyukai ku dan kamu tidak akan pernah menyentuhku...!"
"Sarah!"
"Aku kemari karena bunda Tiara ingin aku menginap. Anak-anak panti rindu padaku. Aku akan menghubungi ayah, kamu bisa pergi sekarang!" kata Sarah yang langsung berbalik dan berjalan cepat menuju rumah sewa panti sementara.
Tristan hanya diam di tempatnya. Entah kenapa dia merasa kalau Sarah kesal dan marah padanya.
Sarah masuk ke dalam kamar salah satu anak panti yang kosong. Sarah mengunci pintu dan menangis sambil duduk di lantai dan bersandar pada pintu kamar itu.
"Kenapa aku sedih, kenapa aku harus marah dan kesal saat Tristan bicara begitu manis pada kekasihnya. Istri ini hanya status saja bagiku, kenapa rasanya sedih sekali!" kata Sarah yang berusaha untuk menenangkan hatinya yang rasanya terluka.
"Kenapa aku terus begini, mas Alan mengkhianati aku, hubungan berpacaran ku sangat menyedihkan, bahkan mengenaskan. Lalu pernikahan ku, pernikahan ini juga sama menyedihkannya... Apa aku memang tidak pantas untuk mendapatkan cinta yang tulus! seperti itukah? Bahkan orang tuaku juga membuangku" lirih Sarah.
Sarah menundukkan wajahnya. Dia menahan suara tangisnya. Dia juga tidak mengerti kenapa dia menangis dan air matanya tak mau berhenti setelah mendengar Tristan dan Shanum saling mengatakan cinta dan rindu. Itu membuatnya teringat pada semua luka dan kesedihan masa lalunya.
Sementara Tristan masih tetap berdiri di tempatnya. Tapi beberapa saat kemudian, dia masuk ke dalam mobilnya dan pergi. Karena mungkin hal itu adalah hal yang terbaik yang bisa dia lakukan.
***
__ADS_1
Bersambung...