Tega

Tega
Bab 263


__ADS_3

Melihat pintu utama terbuka, semua orang yang ada di pintu gerbang mengarahkan pandangannya ke arah yang sama.


Gisella sudah sangat senang, dia pikir itu pasti Rendra yang akan membukakan pintu untuknya. Hingga sebuah senyuman kecil terulas di bibir wanita cantik yang usianya sudah menginjak kepala tiga tersebut. Tapi senyuman itu begitu cepat menghilang, langsung memudar ketika dia melihat bahwa yang keluar bukan orang yang diharapkan melainkan seorang wanita dengan jaket bermerek dan piyama tidurnya.


Wanita itu berjalan sangat cepat dan terlihat dari ekspresi wajahnya, sesekali wanita itu terlihat seperti sedang menggerutu, karena bibirnya terlihat kumat kamit dengan wajah yang begitu serius.


Gisella tampak menghela nafasnya berat. Dia bahkan mendengus kesal.


"Kenapa malah preman pasar sih yang keluar?" tanya Gisella kesal.


Gisella berkata seperti itu karena mungkin dia lupa kalau Arumi adalah istri Rendra, jadi dia juga tinggal di tempat itu. Secara Arumi adalah menantu tertua di kediaman Hutama. Jadi dialah yang mengurus masalah rumah tangga, dan masalah seperti ini, keributan di malam-malam begini juga termasuk masalah rumah tangga. Tentu dia yang harus pertama melihatnya dan kalau bisa dia juga yang menyelesaikannya.


Setelah berada di dekat gerbang, Arumi melihat ke arah Gisella dengan memicingkan matanya.


"Ck... heh siang betina, ngapain kamu bikin rusuh malam-malam di rumah orang? mau di panggilkan satpam, mau di laporkan ke polisi atau mau gimana? hayo tinggal bilang!" kata Arumi sambil berkacak pinggang di depan gerbang yang belum terbuka.


Gisella lantas turun dari mobilnya. Dia ingin memperlihatkan kelasnya pada Arumi. Tapi sayang udara di luar begitu dingin, dia akhirnya merasa menggigil kedinginan. Jadi, tadinya Gisella yang mau jalan ke arah gerbang dengan gaya, malah mengusap-usap lengannya yang memang tidak tertutup dengan kedua tangannya terus menerus.


"Heh, preman pasar! gak ada urusannya sama kamu. Aku mau ketemu mas Rendra. Cepat minta para pelayan ini membuka pintu!" kata Gisella.


"Ha ha ha kamu bilang apa? preman pasar? Ha ha ha itu panggilan yang bagus!" kata Arumi yang membuat Gisella mengernyitkan keningnya bingung.


Bukan hanya Gisella yang sebenarnya mengernyitkan keningnya bingung. Para penjaga gerbang dan satpam juga bingung. Mereka pikir Arumi akan marah di panggil oleh Gisella dengan sebutan seperti itu, tapi ini malah terlihat senang dan tertawa. Tentu saja mereka jadi bingung.


"Ck... dasar wanita aneh, cepat buka pintunya. Aku mau ketemu sama mas Rendra!" kata Gisella tidak tahu malu.


Arumi pun melotot saat Gisella berkata seperti itu.


"Heh, memangnya siapa kamu bisa minta hal seperti itu di sini? siapa kamu bisa perintah aku dan para asisten ku? enak saja minta di bukakan pintu. Dengar ya! aku tidak akan pernah membuka pintu gerbang rumah ini apalagi pintu utama untuk wanita yang jahat seperti kamu. Aku tidak akan memberikan kesempatan doang betina seperti kamu masuk dan mengganggu ketentraman rumah tangga ku!" tegas Arumi.


Gisella Pricilla yang mendengar apa yang dikatakan Arumi malah memutar matanya malas.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau mengganggu rumah tangga mu. Aku cuma mau ketemu mas Rendra..!"


"Katakan apa kepentingan mu, nanti aku yang katakan sama mas Rendra!" sela Arumi.


"Heh, kenapa aku harus katakan padamu. Kamu pikir aku siapa?" tanya Gisella yang mulai kesal.


"Heh siang betina, kamu amnesia apa gimana? aku ini istrinya mas Rendra, kejedot di mana sih? bisa amnesia begitu?" yang Arumi kesal.


Gisella sampai harus memijat kepalanya karena sudah mulai terasa sangat pusing berdebat dengan Arumi.


"Aku akan hubungi mas Rendra saja!" kata Gisella yang kembali ke dalam mobil lalu meraih ponselnya dan menghubungi Rendra.


Arumi tahu Rendra ada di kamarnya dan sedang melihat apa yang terjadi. Arumi lantas berbalik dan melihat ke arah jendela kamar. Dia melihat tirai itu terbuka dan Rendra sedang memegang ponselnya. Tapi sepertinya tidak berani mengangkatnya. Tentu saja, kalau Rendra mengangkat panggilan dari Gisella maka tamatlah riwayat Rendra di tangan Arumi.


Merasa yakin suaminya tidak akan mengangkat panggilan telepon dari Gisella. Arumi tersenyum menyeringai.


Sementara Gisella dia terlihat kesal melihat senyuman Arumi itu. Dia tahu teleponnya tidak akan di angkat. Berpikir kalau dia terus seperti ini maka dia tidak akan bisa istirahat sementara saat ini dia sudah sangat lelah.


"Dengar, aku butuh bantuan mas Rendra. Kunci apartemen lamaku hilang, aku sudah menghubungi pihak apartemen. Tapi mereka bilang baru besok pagi jam 9, orang yang akan menangani masalah itu datang. Aku tidak bisa menunggu sampai besok. Jadi aku ingin kamu sampaikan pada mas Rendra, kalau dia masih menyimpan kunci apartemen lama kami, aku yakin dia masih menyimpannya. Minta padanya agar memberikan kunci itu padaku!" kata Gisella menyampaikan maksudnya pada Arumi.


Arumi yang memang sejak tadi memperhatikan apa yang di katakan oh Gisella dengan seksama lantas berkata.


"Sepertinya ada yang terlupakan olehmu?" tanya Arumi.


Mendengar pertanyaan seperti itu dari Arumi, Gisella malah jadi bingung. Wanita yang sedang kedinginan itu mengernyitkan keningnya berpikir apa yang kurang, seperti yang di tanyakan Arumi barusan.


"Apa maksudmu, sudahlah jangan bertele-tele. Aku butuh kunci itu sekarang!" kata Gisella yang sudah mulai sangat geram.


Arumi lantas berdecak kesal.


"Ck... tulalit!"

__ADS_1


"Apa katamu?" tanya Gisella tak terima.


"Kamu minta bantuan sama orang kan? pernah sekolah kan? kalau mau minta bantuan sama orang harusnya kamu tuh ngomongnya gimana? pakai kata apa?" tanya Arumi pada Gisella.


Gisella yang sudah lelah, lapar dan kedinginan sama sekali tidak mengerti maksud Arumi.


"Apa sih? jangan main tebak-tebakan seperti itu. Aku tidak mengerti!" kata Gisella.


"Harusnya nyonya minta tolong pada nyonya muda pertama, katakan tolong ya nyonya muda pertama, begitu!" kata salah seorang satpam yang mengerti maksud Arumi.


Mendengar pekerjanya berkata begitu Arumi terlihat senang.


"Nah, pinter!" kata Arumi pada satpam tersebut. Membuat satpam tersebut membusungkan dadanya bangga.


Gisella memegang kepalanya yang sekarang benar-benar terasa sangat pusing. Tapi karena Rendra tak kunjung keluar, dan tak kunjung menerima panggilan telepon darinya. Gisella tak punya pilihan lain, dia pikir kali ini dia akan mengalah pada Arumi. Dia masih punya banyak waktu untuk membalas Arumi.


"Baiklah, baiklah. Aku minta tolong padamu, tolong panggilkan mas Rendra. Aku ingin bicara padanya!" kata Gisella dengan raut wajah malas.


"Jangan harap ya, aku yang akan menemuinya dan mengatakan apa yang kamu katakan tadi!" kata Arumi yang membuat Gisella sangat geram. Jika di ilustrasikan maka akan ada asap mengepul di puncak kepala Gisella.


Belum puas mengerjai Gisella. Arumi berbalik dan berkata pada satpam dan penjaga gerbang.


"Jangan buka pintunya, kalaupun dia pingsan biarkan saja!" kata Arumi yang lantas masuk ke dalam rumah.


Gisella benar-benar seperti balon yang tersisa penuh dan siap meledak kapan saja.


'Awas kamu Arumi. Aku akan membalas mu!' batin Gisella kesal.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2