
Widya terhuyung ke arah belakang, Damar bahkan diam mematung di tempatnya. Dua orang paruh baya yang seharian ini sudah mengalami hal-hal yang begitu berat dalam kehidupan mereka, harus mendapatkan kenyataan di depan mata mereka. Kalau hal yang tidak mungkin dan tidak pernah mereka sangka-sangka selama ini di katakan oleh Anika.
Widya dan Damar begitu terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Anika. Kemungkinan kalau Putri yang mereka besarkan selama 26 tahun, bukan putri mereka. Kenyataan yang begitu pahit dan membuat nafas keduanya seperti tercekat. Meskipun, itu hanya sebuah kemungkinan.
"Apa tidak mungkin dok, maksudku apa tidak ada kemungkinannya meskipun hanya 0,% saja, kami yang mempunyai golongan darah A, bisa punya anak dengan golongan darah B. Kemungkinan kecil saja dok?" tanya Damar lagi.
Bagaimana pun, Damar sendiri yang telah membawa istrinya 26 tahun yang lalu ke rumah sakit. Menungguinya sampai melahirkan, meskipun saat itu Damar belum sempat melihat putrinya lebih dulu karena istrinya mengalami pendarahan hebat. Tapi di saat itu, hanya istrinya dan Mulya saja wanita bersalin di rumah sakit itu yang melahirkan bayi perempuan. Yang lainnya, bayi mereka semuanya laki-laki.
Dokter yang lagi lagi ditanya oleh Damar itu bertambah panik tapi tetap menjawab pertanyaan Damar.
"Tidak mungkin pak, kalau tidak A ya pasti O. Tidak bisa selain itu. Benar kata ibu ini, kecuali kemungkinan anak itu bukan anak kandung bapak dan ibu. Tapi saya benar-benar minta tolong pada bapak dan ibu, pasien di dalam membutuhkan donor darah B. Tolong siapapun di antara keluarga yang memiliki golongan darah yang sama, kamu benar-benar membutuhkannya untuk menyelamatkan nyawa pasien yang sedang dalam keadaan kritis!" jelas dokter itu sangat cepat.
Karena kondisi Inka di dalam ruang operasi juga sangat mengkhawatirkan. Dia pendar4han di usia kehamilannya yang masih dalam trimester pertama.
"Mas, mbak. Sebaiknya hubungi semua anggota keluarga saja. Aku minta maaf karena aku tidak bisa membantu, golongan darahku juga A!" kata Anika sedih.
Dalam kepanikan dan kebingungan, Damar langsung menghubungi anggota keluarganya, juga sama pekerja di rumahnya.
"Dok, tolong usahakan untuk menyelamatkan nyawa Inka dok. Kami sedang berusaha!" kata Damar.
"Tentu pak, kamu akan berusaha semampu kami!" kata dokter itu yang kembali masuk ke dalam ruangan operasi.
Sementara itu di kediaman Adhikara, Kepala asisten rumah tangga dan juga Yumi sedang bertanya pada semua pekerja yang ada di kediaman Adhikara tersebut. Mencari siapa yang punya golongan darah B. Mereka semua di kumpulkan di ruang tengah.
"Kalian semua, siapa di antara kalian yang punya golongan darah B?" tanya Yumi yang merupakan pelayan setianya Inka.
Para pekerja malah saling berbincang.
"Hei, kalian di tanya malah ngobrol. Siapa yang punya golongan darah B?" tanya Kepala asisten rumah tangga.
"Buat apa mbak?" tanya salah satu pelayan.
"Saya gak pernah periksa mbak, jadi saya gak tahu golongan darah saya apa!" kata penjaga gerbang.
__ADS_1
"Saya periksa waktu SMP, saya lupa!" kata pelayan yang lain.
"Saya juga mbak, saya gak pernah periksa. Pas mau periksa, sampai tiga jari saya yang di tu5uk, darahnya gak mau keluar. Takut sama jarum!" kata salah seorang supir lain di kediaman Adhikara.
Kepala asisten rumah tangga itu langsung menepuk keningnya sendiri. Bagaimana semua pelayannya begitu.
Sementara dia dan Yumi juga tidak bisa mendonorkan darah mereka. Berat badan Yumi kurang, sedangkan kepala asisten rumah tangga punya riwayat alergi.
"Bagaimana ini Yumi?" tanya kepala asisten rumah tangga bingung.
"Loh, ada apa ini semua orang berkumpul? kalian tidak kerja?" tanya Mulya yang baru saja kembali dari pasar.
Yumi langsung berlari ke arah Mulya.
"Bi Mulya, apa golongan darah bi Mulya?" tanya Yumi langsung.
"Kenapa?" Tanya Mulya.
Brukkkk
Semua barang belanjaan yang ada di tangan Mulya terjatuh ke lantai. Padahal Yumi belum selesai dengan apa yang ingin dia jelaskan pada Mulya.
"Inka, bawa aku kesana Yumi. Golongan darahku B. Cepat Yumi!" kata Mulya yang begitu panik mendengarkan Putri kandungnya mengalami pendar4han dan sekarang dalam kondisi kritis.
Yumi langsung mengangguk cepat, karena memang tuan dan nyonyanya minta mereka untuk langsung datang ke rumah sakit begitu mereka mendapatkan ada yang memiliki golongan darah B.
Di rumah sakit, Damar yang tadinya sebelum mengetahui tentang masalah golongan darah ini terlihat sangat panik, dan terus mondar-mandir sambil berdiri di depan ruang operasi. Kini dia malah duduk terdiam di kursi yang ada di depan ruang operasi tersebut.
Damar terus memikirkan apa yang tadi dikatakan oleh dokter kepadanya. Juga apa yang tadi di katakan oleh Anika. Kemungkinan kalau Inka bukan putri kandungnya, lantas dimana putri kandungnya kalau bukan Inka.
Widya yang dalam keadaan panik, tidak sama sekali menggubris masalah itu. Dia Masih terus berdiri sambil mondar-mandir di depan ruang operasi. Anika sesekali mengusap lengan Widya agar tenang.
Damar yang memang selalu berpikir menggunakan kepala bukan hati, tidak seperti Widya. Mulai menganalisa apa yang sudah terjadi. Sejak kecil, Inka terus di manjakan, di jaga dengan hati-hati. Jangankan sampai terkena musibah atau celaka yang membuat mereka sampai tes darah atau semacamnya. Inka bahkan jarang sakit karena selalu di jaga lingkungan dan makanannya dengan baik. Maka tak sekalipun, mereka melakukan tes darah atau semacamnya. Jadi selama ini Damar tak sekalipun menaruh curiga.
__ADS_1
Putrinya itu takut jarum, ketika SMA di lakukan tes darah dan Inka menolak. Damar dengan segenap kekuasan nya membantu Inka untuk melewati tes itu. Tak pernah terpikirkan oleh Damar, kalau hal itu sebenarnya sangat berguna.
Saat Damar masih terus berpikir dan Widya terlihat panik. Yumi datang bersama dengan Mulya.
"Tuan, nyonya...!" panggil Yumi.
"Tuan, nyonya, bagaimana keadaan Inka.. maksud saya bagaimana keadaan ndoro putri?" yang Mulya yang sudah berlinang air mata.
Damar lantas berdiri dari duduknya dan menghampiri Mulya yang ada di depan Widya.
"Golongan darah bi Mulya B?" tanya Damar dengan tenang.
Mulya langsung mengangguk membenarkan.
"Iya tuan, dimana saya harus mendonorkan darah saya?" tanya Mulya.
"Suster... suster!" panggil Damar pada perawat yang ada di dekat mereka.
"Iya pak ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat itu.
"Ibu ini ingin donor darah untuk pasien Inka, tolong cepat dok!" kata Damar lagi.
"Oh, baiklah. Mari ikut saya Bu!" kata perawat itu mempersilahkan Mulya ikut dengannya.
Damar terus memandangi punggung Mulya dari arah belakang. Tangisnya benar-benar memilukan. Seperti akan kehilangan anak sendiri.
Deg
'Kalau Inka bukan anakku, apa mungkin Tari?'
***
Bersambung...
__ADS_1