Tega

Tega
Bab 275


__ADS_3

Hubungan Arumi dan Rendra sudah membaik, pagi ini Rendra bangun sangat cepat dan sebelum Arumi dan membuatkan sarapan spesial untuk istrinya itu.


Bahkan Rendra juga menyiapkan air hangat untuk istrinya mandi. Pakaian ganti untuk Arumi juga. Pokoknya semua keperluan Arumi pada hari itu. Berhubung ini juga hari libur, Rendra ingin bersama dengan Arumi seharian di rumah.


Apalagi tuan Arya Hutama dan Kevin masih berada di apartemen Tristan. Mereka benar-benar bisa menghabiskan waktu berdua di rumah.


Arumi yang baru bangun, terkejut dengan setelan pakaiannya yang sudah di sampaikan di sandaran sofa single di dekat tempat tidurnya.


Arumi bangun lalu mengucek matanya perlahan. Dia mencari keberadaan suaminya tapi tak menemukan Rendra di kamar itu.


Arumi lantas turun dari tempat tidurnya, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Senyuman terukir di bibir Arumi ketika ada sebuah kertas di dekat wastafel. Dan kertas itu bertuliskan.


*Selamat mandi sayangku, aku sudah siapkan air untukmu. Enjoy your shower my honey*


Arumi kembali meletakkan kertas itu di tempatnya, lalu memulai ritual mandinya yang menyenangkan karena air mandi sudah di siapkan oleh suaminya. Arumi juga yakin, kalau pakaiannya yang ada di sandaran sofa tadi juga Rendra yang menyiapkan.


Arumi merasa senang, karena dia mendengar nasehat Sarah dan ayah mertuanya, dia jadi tidak membuat suami yang begitu baik dan perhatian seperti Rendra, sedih terlalu lama.


Arumi rasa dia sekarang harus lebih percaya lagi pada Rendra dan menyingkirkan semua prasangka yang tidak perlu.


Setelah mandi dan ganti baju, Rendra sudah menunggu Arumi di meja makan.


"Selamat pagi istriku sayang!" kata Rendra yang sedang menata gelas jus di samping sarapan pagi Arumi.


Dan begitu Arumi datang, Rendra meletakkan semua barang yang dia pegang, lalu menarik kursi untuk Arumi.


"Pagi mas, kamu mendadak jadi chef hari ini ya mas?" tanya Arumi menggoda Rendra.

__ADS_1


"Everything for you honey!" kata Rendra.


Arumi tersenyum senang. Mereka menikmati sarapan pagi mereka dengan menyenangkan. Karena tanpa sepengetahuan Rendra, Arumi dan lainnya. Tuan Arya Hutama sudah menyingkirkan satu-satunya orang yang ingin merusak kebahagiaan Arumi dan Rendra.


Tuan Arya Hutama sudah meminta Samsudin untuk menawarkan gaji yang begitu besar pada Gisella. Tentu saja Gisella tidak menolaknya, tapi Gisella harus pergi sangat jauh. Ke kantor cabang PT Arya Hutama yang berada di Alaska. Dan tidak boleh kembali selama kontrak kerja, yang sudah di tanda tangani oleh Gisella berakhir. Sangking besarnya gaji yang Gisella lihat, Gisella malah main tanda tangan saja. Padahal kontrak kerja Gisella bekerja di sana adalah selama sepuluh tahun. Artinya sampai sepuluh tahun, Gisella tidak boleh pergi dari sana. Atau dia harus membayar penalti lima kali lipat dari gaji yang sudah dia terima selama dia bekerja.


Samsudin memang sangat pintar bermain dengan kata-kata dalam setiap dokumen yang dia buat. Setelah menyelesaikan hal itu, Samsudin langsung melaporkan hal itu pada tuan Arya Hutama.


Tuan Arya Hutama yang sedang sarapan pagi dengan Widya, Tristan, Sarah, dan Kevin pun tersenyum senang menerima pesan dari Samsudin, asisten pribadi nya yang sudah bekerja padanya lebih dari dua puluh tahun.


Tristan yang melihat ayahnya tersenyum saat membaca chat yang masuk, menyenggol lengan Sarah.


"Ayah, ayah tidak sedang chat dengan calon ibu tiriku kan?" tanya Tristan yang membuat tuan Arya Hutama tersedak.


"Uhukk uhukk!"


"Mas!" tegur Sarah yang langsung berdiri dan menghampiri ayah mertuanya itu. Sarah langsung menyodorkan air minum pada ayah mertuanya itu dan mengusap punggung tuan Arya Hutama perlahan beberapa kali.


Masalahnya di situ ada Widya, masak iya Tristan bercanda begitu di depan besannya. Dan benar saja, Widya malah tersenyum melihat Tristan di marahi tuan Arya Hutama.


"Tidak apa-apa uncle, aku juga punya ibu tiri. Lihat bunda Arumi, dia baik kan? tidak apa-apa punya ibu tiri itu, asalkan dia baik dan sayang pada kakek. Tidak masalah kan?" tanya Kevin membuat Sarah nyaris tak percaya kalau yang sedang bicara itu adalah Kevin keponakan kesayangannya yang usianya baru 6 tahun.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Kevin itu malah makin membuat Widya semakin tergelak.


Tapi malah makin membuat tuan Arya Hutama gelagapan tidak karuan.


"Kevin, habiskan sarapan mu!" kata tuan Arya Hutama.

__ADS_1


Sarah melihat ke arah Tristan yang terlihat menahan tawanya. Sarah merasa harus meluruskan masalah ini.


Sambil duduk kembali ke kursinya, Sarah lantas bertanya pada ayahnya.


"Ayah, memangnya ayah baca pesan dari siapa? ayah terlihat senang?" tanya Sarah dengan santun.


"Dari Samsudin, dia bilang dia sudah mengurus Gi...!"


Nyaris saja tuan Arya Hutama menyebutkan nama perempuan yang menjadi ibu kandung dari Kevin. Tuan Arya Hutama langsung melirik ke arah Kevin, dan hal itu membuat semua yang berada di meja makan mengerti maksud dari tuan Arya Hutama.


"Kalian tahu kan?" tanya tuan Arya Hutama.


Sarah dan Tristan mengangguk paham. Tapi Widya tidak mengerti. Namun meskipun dia tidak mengerti tapi dia tetap ikut senang karena merasa apa yang dimaksud oleh tuan Arya Hutama adalah hal baik.


"Samsudin sudah mengurus wanita itu, setidaknya dia tidak akan mengganggu rumah tangga Rendra dan Arumi selama sepuluh tahun ke depan!" kata tuan Arya Hutama.


Lagipula, sepuluh tahun ke depan. Tuan Arya Hutama juga merasa Kevin sudah pasti akan mengerti banyak hal. Jika wanita itu kembali, tuan Arya Hutama yakin. Kevin sudah bisa memutuskan segalanya tentang ibunya yang sudah meninggalkannya itu. Maksudnya saat Gisella menghaasut Kevin atau apapun nanti. Kevin pasti bisa menyaringnya dengan baik. Dan mengambil keputusan dengan tepat.


Hari demi hari berlalu, kedamaian dan kebahagiaan menyelimuti kediaman Hutama dan semua anggota keluarganya.


Sementara itu di Alaska, Gisella sedang berusaha untuk bekerja dengan baik di tengah balutan tiga lapis pakaian yang dia pakai karena suhu di tempat ini benar-benar sangat dingin.


Saat berbicara, udara yang keluar dari mulut sampai menimbulkan uap putih yang terlihat. Lalu saat berada di luar ruangan. Gigi akan mengeretak karena menggigil.


Tapi Gisella hanya bisa mengerjakan semua pekerjaannya saja sambil mengeluh. Karena kalau dia protes atau minta berhenti, maka dia harus membayar ganti yang cukup besar pada perusahaan. Meski pekerjaannya ringan, tapi sebenarnya dia tidak senang bekerja di sini. Kebanyakan adalah orang paruh baya, dan tidak ada yang suka bergosip. Tidak ada tempat hiburan malam, benar-benar sangat membosankan.


"Awas saja kalian, saat aku kembali nanti. Sepuluh tahun lagi nanti, aku benar-benar akan membalas kalian. Huh... gara-gara tergiur gaji besar aku sampai tidak baca lama kontrak dan kemana aku harus di tugaskan. Menyebalkan!" gerutu Gisella sambil menyalin dokumen di depannya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2