
Sementara itu saat Sarah tiba di kediaman Hutama, Kevin langsung berlari menghampiri Sarah yang baru masuk ke dalam rumah.
"Mama Sarah!" teriak Kevin yang lengang memeluk kedua kaki Sarah.
"Kevin sayang, kamu sudah makan belum?" tanya Sarah yang mencemaskan kalau-kalau Kevin belum makan.
Kevin pun segera menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Sudah mama, tapi kakek tidak mau makan. Bibi sudah bolak-balik sejak siang ke kamarnya. Tapi piringnya masih penuh dengan makanan. Kata bibi, kakek tidak mau makan. Kevin di suruh bibi bujuk kakek, tapi kakek tetap tidak mau makan. Kakek terus menangis, tapi tidak ada satu orang pun yang mau katakan padaku, kakek kenapa? Papa juga kemana? jam segini belum pulang?" tanya Kevin dengan wajah sedih.
Sarah yang mendengar semua keluh kesah Kevin langsung berjongkok dan mengusap kepala Kevin dengan lembut. Sarah berusaha untuk tersenyum dan memperlihatkan pada Kevin kalau tidak terjadi apapun. Karena Sarah juga tidak ingin bocah kecil itu merasa khawatir dan cemas atas apa yang menimpa salah satu anggota keluarganya saat ini.
Bagaimanapun, Kevin sangat sayang pada Tristan. Dia pasti ikut cemas dan khawatir kalau tahu uncle kesayangannya itu mengalami kecelakaan.
"Papa Kevin, pasti sedang melakukan suatu hal yang baik. Karena papa Kevin adalah orang baik. Kalau soal kakek, biar nanti mama Sarah yang menyuapi kakek makan. Oh ya, Kevin sudah mengerjakan PR belum?" tanya Sarah.
Kevin pun menggelengkan kepalanya perlahan ketika Sarah bertanya tentang hal itu.
Sarah kembali tersenyum, dan mengusap lembut pipi tembem Kevin.
"Kalau begitu, sekarang Kevin harus kembali ke kamar lalu mengerjakan tugas sekolah Kevin. Setelah mama Sarah menyuapi kakek makan malam, mama Sarah akan ke kamar Kevin untuk menemani Kevin tidur. Bagaimana?" tanya Sarah.
Sontak Kevin langsung bersorak senang.
"Iya mama Sarah!"
"Nanny!" panggil Kevin pada pengasuhnya.
"Let's go, kita kerjakan tugas sekolah dulu!" kata Kevin yang mengarahkan tangannya seperti mengajak nanny-nya untuk mengikuti langkahnya.
Setelah Kevin dan pengasuhnya meninggalkan ruang tamu. Sarah pun bergegas menuju kamar tuan Arya Hutama.
Kepala pelayan masih setia menunggu di depan pintu. Kalau sewaktu-waktu tuan Arya Hutama memanggilnya untuk suatu hal.
"Selamat malam nona!" kata kepala pelayan tersebut menyapa Sarah.
"Malam bi, tolong ambilkan makan malam untuk tuan besar ya. Tolong buatkan juga teh jahe untuk tuan besar!" kata Sarah sebelum mengetuk pintu kamar utama di kediaman Hutama tersebut.
"Baik nona!"
Sahut kepala pelayan tersebut lalu membungkukkan sedikit badannya ke arah Sarah. Kepala pelayan tersebut lanjut meninggalkan tempat itu menuju ke arah dapur untuk menyiapkan apa yang tadi diperintahkan oleh Sarah.
Tok tok tok
__ADS_1
Setelah kepala pelayan tersebut meninggalkan tempat itu Sarah mengetuk pintu kamar tuan Arya Hutama dengan pelan.
"Ayah, ini Sarah!"
Kata Sarah dengan nada suara randah, karena tak ingin mengejutkan siapapun yang berada di dalam kamar tersebut.
Setelah Sarah mengetuk pintu, Sarah tak langsung membuka pintu kamar ayah mertuanya. Meski tak kunjung mendengar sahutan, namun Sarah tetap memilih untuk menunggu dengan berdiri saja di depan pintu kamar tersebut.
Samsudin yang baru masuk pun menghentikan langkahnya ketika dia juga akan ke kamar tuan Arya Hutama.
"Nona, anda tidak masuk?" tanya Samsudin.
"Aku sudah mengetuk pintu, tapi sepertinya ayah sedang tidur!" kata Sarah yang sejak tadi dan mendengar sahutan dari dalam.
Tapi apa yang Sarah pikirkan ternyata tidak sama dengan apa yang ada di pikiran Samsudin.
Samsudin langsung membuka pintu karena mencemaskan keadaan tuannya.
Ceklek
"Tuan!" teriak Samsudin.
Sarah juga tampak shock dengan apa yang dia lihat. Tuan Arya Hutama terjatuh di lantai dan sepertinya dia pingsan.
Samsudin kemudian dengan cepat menggotong tubuh Tuan Arya Hutama ke atas tempat tidur.
"Nona, tolong jaga tuan sebentar. Aku akan hubungi dokter!" kata Samsudin.
Sarah langsung menghampiri ayah mertuanya yang sudah tak sadarkan diri dan di baringkan oleh Samsudin di atas tempat tidurnya tersebut.
Sarah memeriksa denyut nadi sang ayah mertua. Terasa sangat lambat. Sarah pun merasa kalau suhu tubuh ayah mertuanya menjadi agak dingin. Sarah sudah panik luar biasa. Namun kemudian dia ingat apa yang dulu bunda Tiara pernah lakukan ketika salah satu anak panti pingsan dan tangannya dingin.
Kala itu Sarah menyaksikan Bunda Tiara mengoleskan minyak kayu putih ke seluruh tubuh anak yang pingsan tersebut. Dan tak lama setelah itu anak yang pisan tersebut pun siuman, sadarkan diri.
Sarah pun langsung berlari ke arah dapur dan meminta minyak kayu putih kepada salah seorang asisten rumah tangga yang berada di sana. Dengan cepat asisten rumah tangga tersebut mencari minyak kayu putih tersebut dan setelah menemukannya dia langsung memberikannya kepada Sarah.
"Ini nona!" kata asisten rumah tangga tersebut.
Sarah pun kembali berlari lagi ke dalam kamar tuan Arya Hutama. Dengan cepat pula, Sarah membuka tutup botol minyak kayu putih yang masih tersegel tersebut. Lalu segara menuangkannya ke telapak tangannya.
Sarah tak menghiraukan ceceran minyak yang mengenai pakaiannya. Yang dia pikirkan adalah secepatnya membuat suhu tubuh tuan Arya Hutama menghangat.
Pak Samsudin yang kembali lagi ke dalam kamar setelah menghubungi dokter melihat apa yang di lakukan oleh Sarah. Pak Samsudin tertegun melihat Sarah yang mengoleskan minyak kayu putih bahkan di telapak kaki tuan Arya Hutama. Tanpa ada rasa jijik atau sungkan, Sarah bahkan terus menggosok dan sedikit memijat kedua telapak kaki ayah mertuanya itu tanpa henti.
__ADS_1
Setelah di kaki, cukup hangat. Sarah pindah ke telapak tangan dan sekujur tangan ayah mertuanya.
"Ayah, mohon maaf!"
Kata Sarah yang langsung mengusap leher dan tengkuk ayah mertuanya dengan minyak kayu putih itu.
Menyadari ada pak Samsudin di ruangan tersebut. Sarah langsung meminta tolong agar pendingin udara di ruangan tersebut di matikan.
"Pak Samsudin, aku minta tolong. Tolong matikan pendingin ruangannya!" kata Sarah.
Pak Samsudin langsung bergegas ke arah meja di dekat tempat tidur tuan Arya Hutama dan langsung meraih remote pendingin ruangan tersebut. Dan mematikan pendingin ruangan tersebut.
Setelah itu Sarah kembali lagi ke arah telapak kaki ayah mertuanya. Dan terus menggosok perlahan. Pak Samsudin bisa melihat bagaimana keringat mengucur membasahi wajah Sarah. Dan tangan Sarah yang putih pun sudah memerah. Tapi Sarah tak kunjung menghentikan apa yang dia lakukan. Karena Sarah ingat, Bunda Tiara waktu itu juga tak berhenti sampai anak yang pingsan itu siuman.
Beberapa menit berlalu. Sarah merasa suhu tubuh ayah mertuanya sudah kembali menjadi normal.
"Uhukk... uhukk!"
Mata pak Samsudin dan juga mata Sarah langsung tertuju pada sumber suara terbatuk tersebut.
Pak Samsudin langsung menghampiri tuan Arya Hutama. Dan Sarah yang sudah melihat ayah mertuanya sadar, langsung berlari keluar kamar lagi.
Sarah berlari ke arah dapur untuk mengambilkan air minum hangat untuk tuan Arya Hutama. Karena seperti itulah yang dilakukan oleh bunda Tiara saat itu. Begitu anak yang pingsan itu sadar, bunda Tiara langsung meminta Sarah mengambilkan air hangat untuk kemudian di minum oleh anak tersebut. Hingga kondisinya membaik.
Sarah mengambil sendiri gelas dan mengisinya dengan air hangat yang tidak terlalu hangat juga. Asisten rumah tangga yang ada di dapur ingin membantu, namun Sarah mengatakan tidak apa-apa. Dia yang akan mengerjakannya, karena Sarah pikir dia memang akan lebih cepat kalau mengerjakannya sendiri.
Sarah membawa dengan cepat air hangat itu ke kamar tuan Arya Hutama. Sarah langsung mengulurkan gelas isi minuman hangat pada ayah mertuanya.
"Ayah, minum air hangat dulu ya!" kata Sarah.
Pak Samsudin yang berada di samping tuan Arya Hutama langsung meraih gelas itu dan membantu tuan Arya Hutama minum.
Dan benar saja, setelah minum air hangat. Tuan Arya Hutama juga merasa kalau kondisi tubuhnya membaik.
Pak Samsudin tersenyum lega, dia juga melihat ke arah Sarah yang masih berkeringat.
'Apa jadinya kalau wanita sebaik dirimu harus pergi dari keluarga ini nak!' batin pak Samsudin yang meskipun bukan anggota keluarga Hutama. Tapi merasa sangat tidak rela, jika Sarah harus memutuskan hubungan dengan keluarga ini.
Kasih sayang tulusnya pada tuan Arya Hutama dan Kevin. Membuat Samsudin bahan terharu melihatnya.
***
Bersambung...
__ADS_1