Tega

Tega
Bab 97


__ADS_3

Setelah Tristan pergi dengan mobilnya, beberapa saat kemudian sebuah mobil lain datang dan memarkirkan mobilnya di tempat dimana mobil Tristan tadi berhenti.


Dari dalam mobil itu, keluar seorang anak kecil berseragam sekolah internasional. Di gandeng seorang pria yang memakai setelan jas lengkap. Sangat tampan.


"Papa, mama pasti terkejut karena aku pulang cepat hari ini!" kata anak kecil itu dengan senyum merekah di wajahnya.


"Iya, tapi kenapa mobil uncle mu tidak ada ya?" tanya Rendra yang berjalan sambil menoleh ke sekeliling mencari keberadaan mobil Tristan.


"Jangan-jangan uncle dan mama Sarah pergi ya pa?" tanya Kevin yang lantas menghentikan jalannya.


Karena Kevin berhenti, maka secara otomatis Rendra yang menggenggam tangan Kevin juga ikut berhenti.


"Papa, telepon mama Sarah. Ayo!" kata Kevin memaksa papanya untuk menghubungi Sarah.


Sementara itu di dalam kamar anak panti yang sedang kosong itu, Sarah masih menangis dengan posisi yang masih sama duduk di lantai bersandar pada pintu kamar.


Tak lama kemudian dia mendengar ponsel di sakunya berdering. Sarah menyeka air matanya lalu meraih ponselnya.


"Kak Rendra!" ucap Sarah pelan begitu melihat ke arah layar ponselnya dan melihat nama Rendra tertera di sana.


Dengan cepat Sarah menggeser icon telepon berwarna hijau ke atas untuk menerima panggilan telepon dari Rendra.


"Sarah!"


"Iya kak!"


"Kamu dan Tristan masih di panti atau kalian sedang keluar?" tanya Rendra.


"Aku masih di panti kak? ada apa? ini baru jam sepuluh, Kevin belum pulang kan?" tanya Sarah yang mengira Rendra mengingatkan dirinya untuk menjemput Kevin pulang sekolah seperti janji Tristan.


"Tapi mobil Tristan tidak ada..!"


Begitu mendengar Rendra mengatakan hal itu, Sarah langsung berdiri dan membuka pintu kamar salah satu anak panti tersebut.


"Kak Rendra dimana?" tanya Sarah yang langsung mencari keberadaan Rendra di ruang tamu.


"Aku dan Kevin di luar panti, Kevin pulang cepat. Dia ingin memberi kejutan untukmu dan memintaku mengantarkannya ke panti!" jelas Rendra.


"Oh, sebentar aku akan keluar!" ucap Sarah yang langsung memutuskan panggilan telepon dari Rendra.

__ADS_1


Namun saat akan keluar, Sarah ingat kalau dia habis menangis. Dia tidak mau sampai Rendra dan Kevin melihat wajahnya yang pasti terlihat habis menangis.


Maka dari itu, Sarah pun menghentikan langkahnya dan berbalik menuju ke arah kamar mandi yang ada di dekat ruang tamu. Sarah membasuh wajahnya dengan air dingin agar wajahnya tidak lagi terlihat seperti orang habis menangis.


Setelah itu, Sarah menyeka wajahnya dengan handuk yang tersedia di kamar mandi tersebut. Sarah melihat ke arah cermin lalu menghembuskan nafasnya panjang. Sarah mencoba untuk tersenyum.


Sarah pun keluar dari kamar mandi, dan langsung menemui Rendra dan Kevin yang sudah hampir masuk ke pintu panti.


"Kevin!" panggil sayang dengan senyum lebarnya.


Begitu mendengar Sarah memanggilnya, Kevin langsung melepaskan tangan ayahnya dan berlari menghampiri Sarah.


Sarah berjongkok dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


"Mama Sarah!"


"Mama sarah terkejut tidak, aku sengaja menelpon papa untuk mengantarku kemari. Aku juga minta papa membelikan banyak ayam goreng untuk adik-adik panti mama!" ucap Kevin dengan senyum manisnya.


Sarah begitu terharu mendengar apa yang dikatakan Kevin. Sarah memeluk Kevin sekali lagi sebelum bicara pada anak kecil menggemaskan itu.


"Terimakasih sayang, Kevin baik sekali. Tante sangat terharu mendengarnya!" kata Sarah dengan mata berkaca-kaca.


Supir Rendra masuk dengan banyak bungkusan ayam goreng dengan merek yang terkenal.


"Tuan, ini di letakkan dimana?" tanya si supir.


"Sarah, ini mau di letakkan dimana?" tanya Rendra pada Sarah.


"Di dalam saja pak, di ruang makan. Tolong letakkan di atas meja makan ya pak. Terimakasih!" kata Sarah ramah.


Setelah itu beberapa anak panti yang memang biasa pulang cepat juga sudah pulang. Beberapa nya seusia Kevin. Hingga setelah anak-anak itu berganti pakaian, mereka langsung mengajak Kevin bermain. Bunda Tiara yang baru saja datang dari melihat pekerjaan rumah panti pun menyapa Rendra yang sedang melihat Kevin bermain dengan anak-anak panti di halaman samping.


"Nak Rendra? kapan datang?" tanya bunda Tiara.


"Baru saja bunda!" ucap Rendra langsung menyalami bunda Tiara.


Mereka pun mengobrol sebentar, hingga bunda Tiara kembali kedatangan tamu yang sepertinya adalah seorang donatur. Sarah yang ingin kembali melihat Kevin sempat di tahan oleh Rendra.


"Sarah, bisa kita bicara sebentar?" tanya Rendra.

__ADS_1


Sarah menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah Rendra. Mereka berdua lalu berjalan menuju ke taman samping, dimana mereka bisa melihat anak-anak yang sedang bermain. Namun cukup jauh dari anak-anak itu sehingga mereka bisa leluasa berbicara tanpa terdengar oleh anak-anak dan tentu saja Kevin.


"Tristan menyakiti mu?"


Mendengar pertanyaan itu, Sarah langsung menoleh cepat ke arah Rendra.


"Kenapa kak Rendra bicara begitu? itu tidak terjadi!" ucap Sarah yang mencoba mengulas senyuman lalu memalingkan pandangannya ke arah lain.


Rendra hanya menghela nafas panjang.


"Ayah tidak ingin nasib Tristan sama seperti aku, di sakiti, dikhianati setelah pernikahan itu merupakan luka yang begitu menyakitkan. Aku bahkan tidak mampu lagi membina sebuah hubungan setelah hal itu terjadi Sarah, sangat menyakitkan...!"


Sarah kembali menoleh ke arah Rendra. Mata Rendra merah, dia jelas sangat terluka atas pengkhianatan Gisella mantan istrinya.


"Ayah sudah mengatakan hal yang sama tentang Shanum, sama persis seperti apa yang ayah katakan mengenai Gisella. Saat itu aku tidak mendengarkan ayah karena aku sangat mencintai ibunya Kevin itu. Tapi aku juga tak mau adikku mengalami hal yang sama seperti ku, jika aku tidak punya Kevin. Entah apa yang sudah terjadi padaku karena rasa sakit ini Sarah!" terang Rendra membuat mata Sarah ikut berkaca-kaca.


"Jangan menyerah Sarah, saat kamu dalam bahaya kemarin aku bisa melihat betapa takut dan cemasnya Tristan. Bahkan saat Roy mengatakan niat yang tidak baik padamu, Tristan mengamuk. Tanpa Tristan sadari, sebenarnya dia sudah menyukaimu!"


Wajah Sarah tampak begitu terkejut. Dia tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Tapi kak, Tristan baru saja mengatakan pada Shanum...!"


Sarah menjeda kalimatnya. Namun Rendra langsung menepuk bahu Sarah perlahan.


"Kamu istrinya Sarah, jangan biarkan suamimu menjadi pria dari wanita lain. Aku akan membantumu. Tristan hanya perlu menyadari perasaannya padamu!"


Sarah masih terdiam.


"Sarah, aku juga tahu kamu mulai menyukai Tristan kan?"


Pertanyaan Rendra itu membuat Sarah tersentak kaget.


Rendra lalu tersenyum.


"Kamu juga belum menyadarinya ya? tidak apa-apa. Kakak iparmu ini, akan membantumu! aku janji!"


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2