
Sementara itu di kediaman Hutama, Rendra sedang bertanya pada sang ayah mengenai tempat tinggal orang tua Arumi.
"Untuk apa kamu mencari tahu tempat tinggal Chandra Wijaya, Rendra?" tanya tuan Arya Hutama yang sepertinya sangat tidak setuju kalau Tristan sampai ke rumah Chandra Wijaya.
"Ayah, Arumi tidak bisa di hubungi. Kata Sarah tadi pagi ada dua orang anak buah ayahnya yang memaksa Arumi untuk pulang ke rumahnya! aku rasa karena video itu, aku harus jelaskan pada orang tua Arumi dan keluarganya, kalau itu semua bukan salah Arumi..!"
"Papa!" panggil Kevin membuat Rendra menghentikan apa yang mau dia katakan.
"Papa kenapa, tumben papa marah-marah?" tanya Kevin yang bingung karena melihat Rendra terkesan emosional padahal selama ini Kevin tidak pernah melihat papanya itu bicara dengan nada tinggi pada sang kakek.
Tuan Arya Hutama lantas melambaikan tangan pada Kevin. Kevin pun menghampiri kakeknya.
"Tidak apa-apa nak, papamu hanya sedang bertanya pada kakek? Kevin kenapa belum tidur? ini sudah malam?" tanya tuan Arya Hutama pada Kevin.
Rendra pun terdiam, dia merasa kalau dirinya memang terlalu over thinking. Arumi ada di rumah kedua orang tuanya. Memang apa yang akan terjadi padanya. Rendra lalu menghampiri Kevin yang ada di dekat ayahnya.
"Kevin, ayo papa temani kamu sampai tidur!" kata Rendra yang sudah mulai tenang.
Tuan Arya Hutama terlihat menghela nafas lega, dia merasa kalau Rendra sudah mulai tenang. Sejujurnya meski dia tahu dimana alamat Chandra Wijaya. Tuan Arya Hutama sama sekali tidak akan memberitahu alamatnya pada Rendra.
Tuan Arya Hutama tahu betul bagaimana sifat dari pria yang pernah menjadi musuh bebuyutan nya itu, bahkan sampai saat ini sepertinya Chandra Wijaya masih menyimpan dendam padanya. Jadi tuan Arya Hutama tak ingin Rendra ke sana, apalagi sendirian. Bisa habis anaknya itu jadi bulan-bulanan Chandra Wijaya. Apalagi, meski punya ilmu bela diri tapi tidak sehebat Tristan. Tuan Arya Hutama jadi sangat khawatir pada Rendra. Tapi buka berarti tuan Arya Hutama tidak perduli pada hubungan Rendra dan Arumi.
***
Di rumah besarnya, setelah makan malam. Arumi kembali ke dalam kamarnya. Dia masih kesal pada omongan papinya yang mengatakan akan menjodohkan dirinya dengan anak dari rekan bisnisnya.
Meski Arumi menolak, tapi Chandra Wijaya sama sekali tidak mau mendengarkan pendapat Arumi. Hingga Arumi kesal dan meninggalkan makan malam meski belum selesai.
Ceklek
__ADS_1
Arumi menoleh, dia memalingkan wajahnya ketika Yuliana masuk ke dalam kamar Arumi.
"Jangan ulangi apa yang kamu lakukan barusan, kalau kamu tidak ingin melihat kemarahan papi mu Arumi!" kata Yuliana memperingatkan anak bungsunya itu.
Arumi berbalik dan berjalan mendekati Yuliana.
"Aku tidak ingin seperti kak Renata mi, dia harus bersabar di gantung selama sepuluh tahun oleh kak Nathan yang entah kapan akan menikahinya, hanya karena papi masih butuh dukungan dari keluarga kak Nathan. Atau seperti kak Arista, yang bahkan harus putus dengan kekasihnya yang akhirnya kekasihnya mengakhiri hidupnya untuk menikah dengan pria pilihan papi. Aku yakin kak Arista hanya hidup demi Raja dan Ratu saja. Kalau dua malaikat itu tidak hadir dalam kehidupan kak Arista, aku yakin kak Arista juga akan mengakhiri hidupnya mi!" kata Arumi dengan mata berkaca-kaca.
Yuliana terdiam, dia hanya ingin yang terbaik bagi keluarganya. Dia tidak mau hidup susah dan serba kekurangan, semua ini dia lakukan juga demi keluarganya. Dia pernah mengalami masa yang sangat sulit, dimana untuk makan saja dia kesulitan. Yuliana tidak mau sampai anak-anaknya mengalami hal itu, karena itu dia mendukung setiap apapun yang dilakukan oleh Chandra Wijaya asal jangan sampai menghilangkan nyawa orang lain.
"Mi, aku tidak mau hidup seperti dua kakakku itu mi. Aku ingin bahagia dengan mas Rendra...!"
"Jangan sebut nama itu di rumah ini Arumi. Kamu tidak tahu papi mu akan sangat marah nanti!"
"Apa sebenarnya yang membuat papa membenci mas Rendra, mu?" tanya Arumi.
"Rendra itu anaknya Arya Hutama, itu masalahnya. Sejak dulu ayahmu tidak bisa akur dengan keluarga Hutama. Tolong jangan membuat keributan Arumi, selama lima tahun ini mami sudah memberikan mu kebebasan. Tolong jangan buat keluarga ini pecah Arumi. Tolong jangan buat papi kamu marah, papi kamu kalau emosi dia tidak pernah memikirkan akibat jangka panjangnya, mami minta kamu menurut saja nak, demi kebaikan semuanya, demi keutuhan keluarga kita. Dan demi keselamatan semua anggota keluarga Hutama. Ya nak?" tanya Yuliana mengusap lengan Arumi beberapa kali.
Yuliana hanya bisa menghela nafasnya panjang.
'Nak, mami lakukan ini demi kebaikan kita semua. Kamu tidak tahu apa yang bisa papi kamu lakukan pada kekasih mu itu kalau kamu masih nekat meneruskan hubungan mu dengannya nak!' batin Yuliana gusar.
Setelah beberapa lama Arumi tak kunjung keluar dari kamar mandi. Yuliana pun keluar dari kamar anaknya itu. Mendengar suara pintu tertutup, Arumi lantas keluar dari dalam kamar mandi dan mengunci pintu kamarnya.
Arumi merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Justru dia tak akan bisa kabur kalau malam hari. Karena semua orang ada di rumah, dan para penjaga bahkan dua kali lipat banyaknya kalau di malam hari. Arumi pun memilih untuk tidur, mengumpulkan tenaganya untuk kabur besok.
"Tidur dulu deh, syukur-syukur bisa mimpiin mas Rendra!" kata Arumi sebelum menutup matanya.
***
__ADS_1
Keesokan harinya...
Di apartemen Tristan, Sarah membuka kelopak matanya perlahan. Saat dia bangun, dia melihat ke arah sebelahnya. Tristan masih tertidur dengan sangat lelap meski dalam keadaan polos. Sama halnya juga dengan Sarah, mereka berdua kelelahan sampai tak sempat memikirkan untuk berpakaian lagi.
Sarah mengusap wajahnya, dan mencoba untuk turun dari tempat tidur. Tapi sepertinya dia sangat kesulitan. Baru satu kakinya yang menginjak lantai, Sarah meringis menahan sakit.
Tapi bagaimanapun juga dia harus mandi dan membersihkan dirinya yang terasa sangat lengket. Begitu dia menarik selimut, Tristan yang memang memakai selimut yang sama dengannya jadi terbangun.
"Sayang, kamu sudah bangun!" kata Tristan yang langsung duduk dan mengusap wajahnya.
"Maaf Tristan, aku tidak sengaja menarik selimutnya. Tidurlah lagi!" kata Sarah yang tahu pasti kalau Tristan pasti sangat lelah. Karena yang bekerja keras semalaman ya Tristan, Sarah hanya menjerit, menger4ng dan mendesah saja di bawah Tristan.
Tristan tersenyum lalu mengambil celana pendek yang ada di lantai dan memakainya.
Grep
"Tristan!" pekik Sarah yang terkejut Tristan sudah menggendongnya.
"Biarkan aku yang melayani mu pagi ini ratuku!" kata Tristan yang kemudian membawa Sarah masuk ke dalam kamar mandi.
Sarah menghidupkan shower, dan berdiri berhadapan dengan Sarah di bawah guyuran shower yang sudah dia nyalakan.
"Sayang, bagaimana kalau kita coba di sini?" tanya Tristan dengan senyum jahil dan membuka selimut yang Sarah pakai.
"Agkhhh!" pekik Sarah yang sudah kembali di serang oleh Tristan.
(Mumpung belum bulan puasa ye kan, Peace... author cinta damai).
***
__ADS_1
Bersambung...