Tega

Tega
Bab 204


__ADS_3

Pagi-pagi sekali juga, Damar Adhikara sudah bersiap. Dia bersama Rudi akan mendatangi 6 panti asuhan yang tersisa. Namun Widya bersikeras untuk ikut dengan suaminya meski kondisinya masih lemah.


Belakangan ini memang banyak sekali hal yang terjadi. Membuat kesehatan Widya sedikit terganggu. Hati dan pikiran memang adalah faktor yang sangat mempengaruhi kesehatan manusia.


Mungkin Widya terlihat baik-baik saja di luar. Namun rasa bersalahnya pada Tari yang hidup dua tahun bersamanya namun tak pernah mendapatkan kasih sayang darinya sebagai anak kandung, membuat Widya merasa sangat bersalah, sangat sedih dan kecewa pada dirinya sendiri.


Kondisinya yang seperti itu membuat Widya tidak makan dengan baik. Tidak istirahat dengan baik, terutama hati dan pikirannya tidak tenang sama sekali.


"Ayah, aku ingin ikut. Aku akan baik-baik saja!" kata Widya meyakinkan suaminya.


Damar pun menyetujuinya, mereka lantas pergi setelah sarapan pagi di hotel. Dengan dua buah mobil mereka mendatangi panti asuhan yang kelima, namun tetap sama dengan panti asuhan yang mereka kunjungi sebelumnya. Para pengurus bahkan sudah berganti, lagipula panti asuhan itu sudah banyak anak yang di adopsi dan mereka bilang perlu waktu untuk menemukan data yang memang kala itu di tulis dengan tangan dan tidak di masukkan dalam komputer seperti sekarang.


Damar Adhikara sudah memberikan sepuluh juta untuk panti asuhan tersebut, juga untuk panti-panti asuhan lain yang dia butuhkan informasi sebelumnya.


Para pengurus berjanji akan segera menghubungi Damar Adhikara begitu mereka menemukan data tentang putri yang sedang di cari oleh Damar Adhikara tersebut.


Widya terlihat sangat sedih saat akan masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Damar Adhikara lantas mengusap lengan istrinya itu.


"Kamu pasti sejak kemarin seperti ini yah, perasaan kamu pasti seperti ini kan. Rasanya sangat sedih dan kecewa pada diri sendiri. Kenapa saat dia dulu ada di sisi kita. Kita sama sekali tidak menyadarinya yah, aku ini seorang ibu atau bukan? bagaimana bisa aku tidak mengenali putriku!" lirih Widya.


Damar terus mengusap punggung Widya dengan lembut.


"Sabar Bu, kita pasti menemukannya. Kita bukan sengaja melupakan Tari, Bu. Mulya yang sudah membuat kita percaya kalau Inka itu putri kandung kita, bagaimana bisa kita tidak percaya, kalau anak yang kita harapkan selama bertahun-tahun dan anak kita satu-satunya itu bukan anak kita. Sekarang yang penting ibu terus berdoa dan kita terus berusaha. Tuhan pasti akan membantu kita!" kata Damar Adhikara yang langsung di balas anggukan oleh Widya.


Mereka kemudian menuju ke panti asuhan ke enam. Tapi sayangnya di panti asuhan itu mereka malah tidak mendapatkan apapun. Karena peristiwa kebakaran yang pernah terjadi semua dokumen di sana hancur lebur. Tapi masih ada pengurus tertua yang tinggal di sana. Seorang wanita yang usianya sekitar 70 tahun masih tinggal di panti itu.


Damar Adhikara dan Widya bertanya apakah wanita tua itu masih bisa mengenali orang. Dan pengurus panti mengatakan masih bisa.


"Tentu saja tuan, nyonya. Nenek Lestari masih sangat bisa mengenali orang. Dia bahkan hafal semua anak-anak panti di sini!" kata pengurus panti itu.

__ADS_1


Damar Adhikara dan Widya lantas di bawa ke tempat nenek Lestari. Damar dab Widya lalu menunjukkan foto Tari yang masih berusia 2 tahun. Nenek Lestari memandang foto itu cukup lama.


"Dua puluh tahun yang lalu, banyak anak-anak di telantarkan orang tua mereka. Maklum saja, masa itu masa sulit bukan? tapi tidak ada anak semanis ini di panti ini. Orang tuanya benar-benar kejam kalau menelantarkan anak semanis gadis mungil ini!" kata nenek Lestari sambil terus menatap wajah Tari yang tersenyum manis.


Widya kembali menangis, dia sama sekali tidak ada niat menelantarkan. Tapi tetap saja perasa Widya begitu sedih, dia merasa sangat bersalah.


"Ini anak kalian?" tanya nenek Lestari.


Damar dan Widya lantas mengangguk bersamaan.


Nenek Lestari kemudian terdiam sejenak, seperti mengingat sesuatu.


"Anak manis ini, dia memang tidak ada di sini. Tapi aku merasa aku tidak asing dengan anak manis ini. Sesuatu padanya waktu itu begitu menarik perhatianku...!"


Nenek Lestari kembali menjeda kalimatnya membuat Damar Adhikara dan Widya semakin penasaran.


Mendengar kalung dua ekor angsa yang merupakan simbol Adhikara Garmen membuat Widya dan Damar lantas saling pandang dan makin mendekati nenek Lestari.


"Ayah, itu Tari. Itu kalung yang sama dengan milik Inka yang aku berikan padanya hari itu!" kata Widya.


"Dimana nek, dimana nenek melihat anak itu?" tanya Damar begitu excited mendengar nenek Lestari berkata seperti itu.


"Ck... dimana ya? aku sedang kemana saat itu?" tanya nenek Lestari agak bingung.


"Tiara... ah iya. Aku ingat, anak ini yang di bawa oleh Tiara saat ada acara pertemuan para pengurus panti. Tapi namanya Sarah, bukan Tari!" kata nenek Lestari.


"Tiara? siapa itu Tiara, nek?" tanya Widya yang mulai sudah tidak sabar.


Tapi nenek Lestari malah tampak pusing. Dia terus memegang kepalanya. Maklum saja, di usianya seperti ini tak mudah baginya mengingat sesuatu secara detail.

__ADS_1


Pengurus panti Cahaya Hati itu langsung mendekati mereka dan minta agar mereka keluar dari ruangan nenek Lestari, agar nenek Lestari bisa istirahat.


"Tuan, nyonya... saya kenal bunda Tiara. Dia pendiri panti asuhan Bunda Tiara, sekitar satu jam dari sini. Tapi sepertinya panti asuhan itu sedang di bangun, mereka menyewa beberapa rumah, tak jauh dari sana juga!" kata pengurus panti asuhan Cahaya Hati.


Widya dan Damar lantang bergegas menuju panti asuhan bunda Tiara. Tak lupa mereka memberikan sumbangan yang sangat besar lebih besar dari panti asuhan lainnya ke panti asuhan Cahaya Hati.


Widya sudah sangat tidak sabar, dia memegang tangan Damar dengan sangat erat, jantungnya berdetak kencang. Dia benar-benar tidak sabar bertemu dengan anak kandungnya.


Mereka pun tiba di rumah sewa sementara panti asuhan bunda Tiara. Kebetulan bunda Tiara sedang ada di teras mengantar beberapa anak yang akan sekolah jam sepuluh pagi.


"Selamat pagi! apakah anda yang bernama bunda Tiara?" sapa Widya tak sabar.


"Selamat pagi, iya benar!" sahut bunda Tiara.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya bunda Tiara kemudian.


Widya langsung mendekati bunda Tiara dan menyerahkan foto Tari saat usianya dua tahun itu pada bunda Tiara.


Dengan mata berkaca-kaca, dan air mata nyaris menetes, Widya berkata.


"Bu, apakah bunda mengetahui anak dalam foto ini?" tanya Widya penuh harap.


Bunda Tiara terkejut bukan main.


"Sarah!" lirih bunda Tiara meneteskan air mata.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2