Tega

Tega
Bab 73


__ADS_3

Setelah melewati detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam. Tanpa terasa sudah tiga jam berlalu. Sampailah kapal besar itu di sebuah dermaga yang saat mereka sampai di sana, bahkan sanga mentari pagi saja masih malu-malu untuk menampakkan wujudnya dengan sempurna.


Para kru kapal menurunkan dua koper milik Sarah dan Tristan ke atas jembatan dermaga.


"Tuan, nona, kami pamit dulu ya. Tuan Arya Hutama meminta kami kembali kemari tujuh hari lagi. Selamat bersenang-senang!" kata kapten kapal yang bahkan ikut turun mengantarkan Tristan dan Sarah ke dermaga.


Tristan tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan oleh kapten kapal itu karena sibuk melihat ke sekeliling pulau yang menurutnya cukup indah namun sangat sepi.Tak jauh dari dermaga, ada sebuah bungalow yang cukup besar. Dengan tangga yang cukup tinggi untuk naik ke bungalow itu. Dan sepertinya hanya satu lantai saja. Tapi bangunannya besar dan tiang penyangganya sangat besar dan tinggi.


Sarah pun bersalaman dengan kapten kapal, juga memeluk Sartika dan Diah yang meski baru dua belas jam mengenal Sarah namun sudah bisa akrab dengannya karena Sarah memang sangat terbuka pada orang-orang yang mau terbuka dan ramah padanya.


"Terimakasih banyak semuanya!" kata Sarah.


Sarah lalu melihat ke sekeliling.


"Tapi tidak ada kapal di sini, sinyal juga sangat sulit. Bagaimana kalau kamu butuh sesuatu?" tanya Sarah pada kru kapal.


"Nona tenang saja, setiap dua hari sekali akan ada yang datang kemari mengirimkan bahan makanan dan apapun yang kalian perlukan nanti. Selamat bersenang-senang!" katanya lagi sebelum dia berbalik meninggalkan Tristan dan Sarah berdua saja di pulau itu.


Sementara kapal besar itu mulai meninggalkan pulau, Tristan yang tadinya turun dari jembatan dan melihat sekeliling pun merasa ayahnya telah menipunya lagi kali ini.


"Hei, wanita freak. Sepertinya ayah mertuamu itu menipu kita lagi!" kata Tristan sambil menghampiri Sarah yang masih berusaha menarik kopernya turun dari jembatan kayu dermaga itu.


"Apa maksudmu? mana mungkin ayah menipu kita!" sanggah Sarah yang sangat menghormati ayah mertuanya, tuan Arya Hutama.


"Aku pernah lihat di internet, ini bukan pulau yang di bilang ayah itu. Ck... ada ya ayah yang seperti ini, bagaimana kita bisa dikatakan bersenang-senang kalau saat di kapal saja kita nyaris celaka, lalu di pulau ini? aku yakin kita harus survive in the wild. Karena aku yakin tidak ada orang lain selain kita di sini. Tidak ada kapal, niat sekali dia ingin mendekatkan kita berdua. Aku heran, padahal aku sudah bilang, hatiku hanya untuk Shanum...!"


Brukk

__ADS_1


Tidak tahu kenapa Sarah malah menjatuhkan kopernya saat berusaha mengangkatnya karena memang rodanya tidak mau bergerak memutar dengan baik di pasir.


Tapi karena jatuhnya koper Sarah itu bertepatan dengan ketika Tristan menyebutkan kata kalau dia hanya mencintai Shanum, Tristan pun mulai berpikir yang tidak-tidak.


Pria itu bukannya membantu Sarah membangunkan kembali kopernya agar posisinya berdiri. Namun dia malah berjalan ke hadapan Sarah dan memandang Sarah dengan tatapan penuh curiga.


Sarah yang memang tadi tidak terlalu mendengarkan apa yang Tristan gerutukan tentang sang ayah. Bahkan Sarah pun tak mendengar Tristan menyebutkan nama Shanum karena dia terlalu fokus pada, bagaimana caranya mengangkat kopernya sampai ke bungalow pun melihat ke arah Tristan dengan tatapan bingung.


"Apa??" tanya Sarah yang merasa agak heran kenapa Tristan menatapnya dengan tatapan penuh selidik.


Tristan malah tidak langsung menjawab rasa penasaran Sarah itu, Tristan malah meletakkan tangannya di dagu seperti tengah berpikir.


"Kamu cemburu ya?" tanya Tristan dengan tatapan begitu ingin tahu.


Sarah sampai hampir keselek salivanya sendiri ketika mendengar pertanyaan paling tidak masuk akal dari Tristan itu padanya.


"Ya ampun, kamu bilang apa? cemburu? aku?" tanya Sarah sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.


Sarah makin tak percaya dengan apa yang dipikirkan oleh Tristan itu.


"Cemburu apa? pada siapa? dan kenapa aku harus cemburu?" tanya Sarah dengan nada kesal.


Sudah tidak mau membantunya mengangkat koper, malah bertanya sesuatu yang membuat tenaga Sarah menghilang lenyap begitu saja karena depresot mendengar pertanyaan tak masuk akal dari Tristan barusan.


Tristan malah salah paham lagi ketika melihat Sarah menjawab pertanyaannya dengan kesal dan sedikit ketus.


"Hei, wanita freak. Jangan pernah berpikir untuk jatuh cinta padaku ya. Karena aku tidak akan pernah menyukai wanita freak seperti mu!" ucap tegas Tristan yang langsung meninggalkan Sarah dan berjalan mengambil kopernya dari atas jembatan dermaga.

__ADS_1


Tristan lantas berjalan meninggalkan Sarah bersama kopernya menuju ke bungalow.


Sarah yang masih terdiam menahan kesal lantas kembali menjatuhkan kopernya ke pasir.


Brukkk


Sarah langsung mengusap wajahnya kasar dan mengusap dadanya beberapa kali.


"Ya Tuhan, beri aku kesabaran super ekstra menghadapi manusia batu yang kelebihan takaran percaya diri itu. Yang benar saja, mana mungkin aku jatuh cinta pada batu! memangnya sudah tidak ada lagi manusia di muka bumi ini. Ya Tuhan!"


Sarah terus berusaha menormalkan emosinya yang tadi sempat hampur tidak bisa dia kendalikan karena ucapan Tristan yang benar-benar membuat Sarah depresot.


Saat sambil berdiri Sarah tidak bisa menurunkan emosinya, Sarah lantas berjongkok di atas pasir sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya juga sambil mengatur nafasnya dengan baik.


Setelah beberapa saat akhirnya amarah Sarah mereda, dan dia pun kembali berdiri lalu membangunkan kembali kopernya dengan posisi berdiri. Dan berusaha menyeretnya saja, karena tak kuat mengangkatnya.


Setelah usaha yang cukup melelahkan, akhirnya Sarah berada di pekarangan bungalow yang alasnya bukan pasir pantai lagi. Tapi sudah baru kerikil bulat yang di susun sedemikian rupa membentuk lantai yang nyaman dan aman untuk di pijak.


Dari situ, Sarah mulai menarik kopernya. Karena roda koper itu sudah bisa berputar dengan baik di sana. Saat masuk ke dalam bungalow, Sarah di buat terpukau dengan segala macam yang ada di dalamnya.


Furniture kayu yang dibiarkan seperti warna aslinya, lalu bentuk bungalow yang tinggi dan dengan Taung tengah yang begitu luas. Ada ruang makan dan dapur juga, lalu ada sebuah kamar yang ada balkonnya.


Sarah mengira sudah pasti kamar itu di tempati oleh Tristan, jadi dia pun mencari kamar lain. Namun sayangnya dia tidak menemukan nya. Dua ruangan yang berpintu, hanya kamar mandi dan juga gudang saja.


Sarah pun akhirnya memilih berdiri di depan pintu kamar satu-satunya bungalow itu.


"Masuk... enggak.. masuk... enggak!" gumam Sarah sambil menghitung hari tangannya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2