Tega

Tega
Bab 108


__ADS_3

Richard sedang sangat sibuk dengan semua pekerjaan yang sangat menumpuk sejak kemarin. Semua meeting dia wakilkan, namun tak satu pun yang berhasil. Padahal dia sudah mengajak Liana dan Pandu, dan Ani yang merupakan sekertaris baru pengganti sekertaris yang di pecat oleh Tristan dahulu.


Namun meskipun sudah di bagi tiga, tetap saja semua pekerjaan membutuhkan tanda tangan dari Tristan. Dan hal itu yang membuat semua pekerjaan Richard tak kunjung kelar.


"Oh emji, bos... apa bos benar-benar akan memulai hidup baru dengan nona Shanum di Paris. Hah, setidaknya beri aku surat wasiat dulu dong. Jadikan aku CEO perusahaan ini, dengan begitu aku tidak perlu repot menunggu tanda tanganmu di setiap berkas. Astaga!" keluh Richard yang benar-benar sudah stress dengan segala pekerjaannya.


Baru saja Richard menutup mulutnya dari mengeluh. Ponselnya berdering lagi. Begitu dia meraih ponselnya lalu melihat ke arah layar ponselnya tersebut. Matanya kembali melirik tajam.


"Oh emji, ini om Samsu mau apa lagi nih. Jangan bilang mau tahu dimana bos ya? mana aku tahu kalau soal itu! mungkin sekarang dia sedang memilih gaun pernikahan dengan nona Shanum, astaga! bos meski aku anak buahmu tapi aku merasa kamu benar-benar kejam bos. Bagaimana nasib nona Sarah" gumam Richard dengan gaya dan mimik wajah khas yang hanya Richard saja yang bisa menampilkan ekspresi wajah seperti itu.


Lalu dengan cepat Richard menyentuh icon telepon berwarna hijau dan menggesernya ke arah atas.


"Halo om Samsu, jangan katakan padaku kalau om mau tanya dimana bos ya? aku belum bisa menghubunginya!" terang Richard bahkan sebelum Samsudin bicara.


"Namaku Samsudin, Richard!"


Richard langsung memasang ekspresi wajah te9ang ketika Samsudin memprotesnya masalah cara Richard memanggil nama Samsudin.


"Iya iya om Samsu, eh om Samsudin. Makanya punya nama itu jangan tiga suku kata, kan ribet manggilnya. Seperti namaku dong Richard, hanya dua suku. Kan enak manggilnya. Om aku panggil Udin aja gimana?" tanya Richard yang menemukan panggilan baru bagi Samsudin.


"Berapa usiamu Richard?" tanya Samsudin.


"27 om, kenapa?" tanya Richard yang menanggapi Samsudin dengan santai.


"Apa bagimu sudah cukup menjalani kehidupan selama 27 tahun, ingin mengakhirinya tidak?" tanya Samsudin yang terdengar begitu emosi.


Richard langsung menelan salivanya dengan susah payah.


"Peace om, Richard cinta damai kok he he he...!"


"Katakan di hotel mana tuan muda Tristan menginap, anak buahku sedang ke sana. Mereka yang akan mencari tuan muda Tristan secara langsung!" kata Samsudin yang memang di tugaskan oleh tuan Arya Hutama untuk segera menemukan keberadaan Tristan dan membawanya pulang ke Indonesia dengan segera.


"Aku akan kirim datanya ke email mu om!" kata Richard langsung memutuskan panggilan telepon dengan Samsudin.


Richard segera mengirimkan semua data yang dia dapatkan pada Samsudin. Richard juga ingin Tristan segera kembali. Setelah itu Richard kembali pada pekerjaannya yang begitu menumpuk yang tertunda.


Sementara itu Sarah yang sudah tiba di kantornya langsung di sambut rentangan tangan dari Arumi.

__ADS_1


Sarah tersenyum melihat Arumi yang sudah menyiapkan pelukan dan pastinya sudah pasti akan menyiapkan ruang dan waktu untuknya berkeluh-kesah.


"Sarah!" lirih Arumi yang memeluk sambil mengusap lembut punggung Sarah beberapa kali.


Setelah merasa cukup, Sarah menarik dirinya dan melihat ke arah Arumi.


"Aku tidak apa-apa!"


Tapi mata Arumi malah berkaca-kaca ketika Sarah mengatakan kalimat itu padanya.


"Aku tahu, aku selalu tahu kamu tidak apa-apa. Kamu wanita yang kuat Sarah!" ucap Arumi yang mengusap lengan Sarah beberapa kali.


Sarah bahkan langsung bekerja tanpa mengatakan apapun lagi pada Arumi. Arumi hanya bisa terus tersenyum menguatkan Sarah, karena saat Sarah tak mau bercerita padanya, dia juga tak bisa bertanya. Karena Arumi sudah hafal betul seperti apa Sarah. Jika dia ingin cerita, maka dia akan cerita. Kalau tidak, artinya dia masih butuh waktu untuk memikirkan semuanya.


Sampai jam makan siang, semuanya masih baik-baik saja. Arumi dan Sarah bahkan masih pergi bersama ke kantin kantor. Mereka masih mengobrol tentang pekerjaan. Sampai setelah makan siang, semuanya juga masih baik-baik saja.


Hingga pada pukul tiga sore, Richard terlihat tergesa-gesa mendatangi ruangan kantor bagian divisi keuangan.


"Nona Sarah!" panggil Richard kencang sampai semua orang yang berada di dalam ruangan itu termasuk Sarah dan Arumi langsung berdiri dan melihat ke arah sumber suara yang memanggil nama Sarah.


Begitu melihat Sarah, Richard langsung berlari menghampiri Sarah. Dengan nafas tersengal-sengal. Dia langsung berkata.


Arumi sampai terbengong melihat Richard yang seperti itu.


"Ada apa?" tanya Sarah yang terlihat te9ang karena melihat wajah Richard yang seperti wajah sehabis di potong gaji.


"Aku tidak bisa bilang di sini. Ayo ikut aku nona!" kata Richard mengarahkan Sarah untuk segera keluar dari ruangan itu.


Ketika Richard berjalan dengan cepat keluar, Sarah pun menepuk lengan Arumi dan meraih tasnya lalu keluar dari ruangan itu.


Sarah mengikuti langkah cepat Richard hingga mereka sampai di depan ruang CEO. Ruangan Tristan.


Sarah menghentikan langkahnya karena mengira Richard akan membawanya menemui Tristan.


Tapi melihat Sarah berhenti sebelum Richard membuka pintu. Richard langsung berkata.


"Nona, tidak ada bos di dalam. Hanya ada pak Samsudin!" terang Richard.

__ADS_1


Rasanya beban yang begitu membuat pundaknya berat hilang dan terbang begitu saja dari bahu Sarah.


Sarah pun kembali melangkah dan masuk ke dalam ruangan CEO ketika Richard sudah membukakan pintu ruangan tersebut.


"Nona Sarah...!"


Kata pak Samsudin yang terdengar begitu aneh di telinga Sarah. Sepertinya pak Samsudin akan menyampaikan kabar yang buruk.


Kalau itu tentang perceraiannya dengan Tristan, Sarah merasa dia tidak akan terkejut.


"Iya pak, ada apa?" tanya Sarah.


"Tuan muda... tuan muda Tristan. Kecelakaan!"


Mata Sarah membulat sempurna, Sarah bahkan mengangkat sedikit kepalanya yang tadinya sedikit tertunduk ke arah bawah.


"Tristan!" lirih Sarah dengan perasaan yang campur aduk.


"Bagaimana... bagaimana Tristan bisa kecelakaan?" tanya Sarah yang masih tak percaya kalau Tristan kecelakaan.


"Tadi pagi anak buahku sampai di Paris. Dan mereka langsung mencari keberadaan tuan Tristan. Dan ternyata tuan tidak kembali ke hotelnya. Anak buahku berpikir tidak mungkin tuan Tristan tidak kembali ke hotel sementara semua barangnya masih ada di hotel itu. Mereka melihat rekaman CCtv hotel dan tuan pergi hanya dengan membawa jaket saja. Anak buahku langsung berpikir pasti terjadi sesuatu pada tuan Tristan. Mereka langsung mencari di setiap rumah sakit yang ada di tempat itu, dan ternyata benar. Ada seorang pasien dengan data diri bernama Tristan Maulana Hutama berasal dari Indonesia yang masuk ke rumah sakit itu malam hari kemarin karena kecelakaan. Tuan Tristan tertabrak mobil dan kondisinya cukup parah!" jelas pak Samsudin yang terdengar sangat cemas, suara tuanya bergetar menahan sedih.


"Nona, tuan besar sangat terpukul. Tolong nona pulang ke kediaman Hutama sekarang. Tuan Rendra sedang berangkat ke Paris untuk melihat keadaan tuan Tristan. Tuan besar dan tuan kecil...!"


Pak Samsudin tak bisa melanjutkan perkataannya. Karena pak Samsudin saja yang bukan siapa-siapa sebenarnya di keluarga itu juga malu atas apa yang sudah Tristan lakukan pada Sarah. Namun saat ini memang hanya pada Sarah saja dia bisa minta bantuan untuk menguatkan tuan Arya Hutama.


Sarah pun mengerti, saat ini ayah mertuanya itu pasti sangat sedih, baru saja tadi pagi dia keluar dari rumah sakit. Sekarang harus mendengar kabar yang pastinya akan membuat tuan Arya Hutama semakin sedih. Sarah pun menganggukkan kepalanya dan berkata.


"Aku mengerti pak Samsudin. Mari kita pulang!" kata Sarah.


Richard sampai terharu mendengar kata 'pulang' yang di ucapkan oleh Sarah.


Pak Samsudin dan Sarah pun meninggalkan ruangan itu untuk kemudian kembali ke kediaman Hutama. Sedangkan Richard terlihat sangat sedih dan cemas.


Dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya. Richard tak berhenti mengucapkan doa untuk keselamatan Tristan.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2