Tega

Tega
Bab 41


__ADS_3

Alan dan Alvin masih menunggu di gudang SL hingga jam delapan malam. Bahkan Alan masih terikat di kursi seperti di foto yang dia kirimkan pada Sarah.


"Ini sudah lama sekali, apa mantan pacarmu itu lembur?" tanya Alvin yang juga sudah bosan menunggu.


"Lepaskan aku dulu, aku akan tanya temanku yang tinggal di dekat panti asuhan bunda Tiara!" seru Alan.


Alvin kemudian membuka ikatan pada tangan Alan. Setelah itu Alan menghubungi temannya yang tinggal di dekat panti.


"Halo Man, kamu dimana?" tanya Alan.


"Di rumah, kenapa bro?" tanya Herman. Teman main game Alan yang tinggal di dekat panti asuhan bunda Tiara.


"Lihat Laela gak di sekitar panti, maksud ku apa dia sudah pulang?" tanya Alan.


"Sudah, aku melihat dia di antar temannya yang tomboi itu jam lima sore tadi. Sepertinya sekarang mereka sudah tidur, panti sangat sepi!" jawab Herman.


Alan langsung mengepalkan tangannya dan memutuskan panggilan telepon dengan Herman begitu saja.


Melihat ekspresi wajah Alan, Alvin langsung bertanya.


"Bagaimana?" tanya Alvin.


"Dia sudah tidak perduli padaku, dia bahkan tidak khawatir sama sekali. Dia pulang Alvin, dia pulang ke panti dan sekarang sudah tidur mungkin. Agkh... sialll!" pekik Alan frustasi dan mengacak-acak rambutnya.


Alvin hanya bisa mendengus kesal, mau bagaimana lagi. Hanya ide ini saja yang ada di otaknya.


***


Keesokan harinya...


Pagi-pagi sekali Rendra sudah datang ke panti asuhan bunda Tiara. Sarah baru saja memasak kala itu. Jadi Rendra pun di persilahkan ikut sarapan bersama dengan semua adik-adik panti, bunda Tiara dan juga Sarah.


Di ruang makan itu ada tiga meja makan, Rendra satu meja makan dengan bunda Tiara, dan juga Sarah.


Rendra tersenyum ketika merasakan nasi goreng buatan Sarah. Dia tidak bisa bayangkan setiap hari bahkan sebelum berangkat ke kantor, Sarah harus membantu menyiapkan sarapan dan juga mengurus adik-adik pantinya yang akan pergi sekolah. Dia merasa Sarah itu seperti seorang wonder woman saja.


Melihat Rendra tersenyum dan melihat ke arah Pitung nasinya, bunda Tiara pun bertanya.

__ADS_1


"Ada apa nak Rendra?" tanya bunda Tiara.


"Oh, tidak bunda. Hanya saja masakan Sarah ini persis masakan ibuku. Benar-benar mirip!" jawab Rendra jujur.


"Wah benarkah?" tanya bunda Tiara senang.


Karena dari jawaban Rendra itu, bunda Tiara bisa mengerti kalau Rendra pasti suka masakan Sarah. Karena setiap anak pasti sangat menyukai masakan ibunya.


"Iya bunda, oh ya... hari ini kamu ijin dulu ya dari kantor. Aku mau ajak kamu ke butik dan ke toko perhiasan. Nanti Tristan akan menyusul!" ucap Rendra lagi.


Maklum saja, tidak ada wanita fi keluarga Hutama. Hanya ada satu adik perempuan Arya Hutama yang tinggal di luar negeri. Dan baru akan datang saat pernikahan Tristan nanti. Jadi semua yang mengurus adalah Rendra. Selaku putra tertua keluarga Hutama.


Sarah pun hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Rendra. Setelah sarapan mereka pun akhirnya berangkat menuju butik.


***


Sementara itu di apartemen Tristan, Richard sedang di buat pusing membujuk Tristan agar mau pergi ke butik.


Masalahnya tuan Arya Hutama sendiri yang memberikan perintah itu Richard. Jadi dia harus bisa membujuk Tristan. Tapi melakukan hal itu Richard harus sangat berusaha keras.


"Kamu ini benar-benar ya! aku bilang aku tidak mau pergi ke butik. Kenapa aku harus ke sana?" tanya Tristan kesal sambil memakai kemejanya.


Karena saat Tristan keluar dari kamar mandi dia hanya memakai handuk yang dia lilitkan di pinggangnya saja.


"Bos kan harus pilih baju pengantin yang mau bos pakai nanti!" jawab Richard.


"Kau bilang apa? heh... pernikahan ku saja mereka yang tentukan, kenapa untuk memilih pakaian mereka harus tanya pendapatku, sedangkan untuk calon istri pendapat ku tidak di perlukan. Padahal aku yang menikah!" kesal Tristan.


Richard hanya bisa diam sambil terus berpikir kata-kata bijak apa yang bisa dia katakan pada Tristan agar Tristan tidak terus merasa di perlakukan tidak adil oleh keluarganya. Karena memang semua ini dilakukan keluarga Tristan demi dirinya juga. Memilihkan wanita yang baik untuk bisa menemani dan menuntun Tristan ke jalan yang benar, ke arah yang lebih baik pokoknya.


"Bos, nanti kamu akan tahu kenapa keluarga mu melakukan ini. Tapi yang jelas sekarang bos harus ke butik ya, tuan Rendra dan nona Sarah sudah ada disana menunggu bos!" ucap Richard yang akhirnya hanya bisa mengatakan hal itu.


Tristan langsung terkekeh mendengar apa yang baru saja di katakan Richard.


"Nah, lihat kan. Mereka sudah ada di sana. Mempelai prianya harusnya kan Rendra kan? kenapa harus aku?" kesal Tristan lagi.


Richard sampai garuk-garuk kepala karena pusing tak bisa menang bicara dengan Tristan.

__ADS_1


"Ya ampun bos, mempelai prianya ya bos lah. Tuan Rendra itu hanya membantu segala persiapannya saja, Agkh...!"


Namun belum selesai Richard menjelaskan, dia dibuat syock bahkan langsung berteriak dan menutup keduanya dengan kedua tangannya lalu berbalik badan membelakangi Tristan.


"Ck... kenapa berteriak?" tanya Tristan kesal.


"Oh em ji, bos. Tolong itu dikondisikan dong bos. Jangan buka aur4t di depan mata perjak4 aku dong bos!" jawab Richard yang terdengar sangat syock.


Tristan sampai mengernyitkan keningnya, dia hanya membuka handuknya untuk memakai celana. Dia tidak menyangka reaksi Richard akan terdengar sangat berlebihan seperti itu.


"Kau ini kenapa? bukannya milik kita sama. Kenapa terkejut begitu, atau kamu sudah operasi ganti kela...!"


"Ish bos, jangan sembarang ya!" sela Richard masih dengan membelakangi Tristan.


"Aku tuh perjak4 tulen len len len.. ya!" tambahnya lagi.


Mendengar Richard bicara seperti itu, Tristan pun tersenyum membelakangi Richard juga. Inilah sebabnya Tristan tidak mengganti asisten pribadi nya meskipun Richard terkadang membuatnya kesal. Karena bagi Tristan, Richard itu unik. Selain pekerja keras dan tak pernah sakit hati karena ucapan-ucapan pedas yang sering keluar dari mulut Tristan.


Richard sudah seperti sahabat untuk Tristan, yang terkadang bisa membuatnya tersenyum dan membuatnya tak pernah merasa sendirian.


"Aku tidak mau pergi, katakan itu pada kak Rendra. Pilih saja pakaiannya sendiri!" kekeh Tristan.


"Bos, kata tuan Arya Hutama kalau bos tidak mau pergi. Maka tuan Arya Hutama sendiri yang akan datang kemari dan menarik bos ikut bersamanya!" kata Richard yang langsung membuat Tristan menoleh ke arahnya.


"Apa katamu?" tanya Tristan kesal.


"Iya, kalau perlu dia akan bawa semua bodyguard nya untuk melakukan itu!" ucap Richard lagi.


"Sialll!" pekik Tristan yang sepertinya tak punya pilihan lain.


Setelah Tristan berjalan keluar kamarnya, Richard terkekeh sendiri.


'Yes, berhasil. Padahal aku cuma mengarang saja!' batin Richard senang.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2