Tega

Tega
Bab 84


__ADS_3

Tristan masih terus berada di luar bungalow, meski matahari benar-benar sudah tenggelam dan kemilau jingga itu berubah menjadi kepekatan dalam gelapnya malam.


Tristan tidak bisa menjernihkan kepalanya yang sudah terlanjur semrawut. Biasanya dia akan lupa pada masalah jika dia bisa minum, lalu m4buk. Keesokan harinya ketika dia bangun maka semua masalah yang membebaninya di hari itu atau hari sebelumnya akan dia lupakan dengan mudah.


Itu bukan hanya karena efek minuman keras yang dia konsumsi saja, tapi memang karena Tristan orangnya memang acuh. Tak perduli dengan orang-orang dan sesuatu yang memang menurutnya tak penting dan tak ada hubungannya dengannya.


Tapi kali ini, Tristan sedang berada di fase dimana kalau anak muda jaman sekarang menyebutnya dengan fase galau. Jujur saja dia mulai merasa kalau Shanum semakin menjauh darinya, dan tiba-tiba Sarah datang dalam hidupnya, bahkan saat ini dia menjadi istri sah-nya.


Beberapa hari kebersamaan mereka makin membuat Tristan mengerti kalau semua yang dikatakan ayahnya itu benar. Sebenarnya Sarah itu wanita yang baik.


Namun justru hal itulah yang membuat Tristan merasa khawatir dan cemas dalam hatinya. Dulu Dia mengira Sarah itu adalah wanita yang menyebalkan, mata duitan, dan segala keburukan ada pada Sarah. Tapi setelah beberapa hari kebersamaan mereka Tristan mulai menyadari Kalau Sarah sama sekali bukan wanita yang mata duitan, bukan wanita menyebalkan yang di hatinya hanya tersimpan dendam. Buktinya dia sama sekali tidak pernah membalas apapun yang Tristan lakukan padanya meski, terkadang Tristan merasa kalau dirinya memang agak keterlaluan.


Tapi semua itu juga karena Tristan juga bukan pria buruk. Dia juga adalah pria yang sebenarnya memiliki hati yang baik. Hanya saja setelah kepergian ibunya, Tristan berubah menjadi sosok yang pendiam dan itu mengakibatkan teman-teman di sekitarnya saat dia masih sekolah dulu menjauhinya, karena menurut mereka Tristan yang pendiam itu agak aneh. Karena teman-teman saat sekolahnya dulu menjauhinya itu pula yang menyebabkan Tristan menjadi pribadi yang dingin dan arogan.


Sarah yang sudah selesai menyiapkan makanan, dan juga menyajikannya di atas meja makan kemudian memutuskan untuk memanggil Tristan yang tadi dia lihat pergi keluar.


Namun saat Sarah akan membuka pintu, dia melihat Tristan yang duduk di salah satu anak tangga yang paling atas, anak tangga yang menunggu di bungalow itu. Sarah yang tak pernah melihat Tristan seperti itu pun membuka pintu dengan perlahan, lalu berjalan secara perlahan juga menghampiri Tristan. Setelah Sarah tiba di samping Tristan, dia lantas duduk di sebelah Tristan dengan jarak kurang lebih setengah meter. Karena memang luas anak tangga itu hanya satu meter lebih sedikit saja.


"Kenapa kemari?" tanya Tristan ketus setelah menyadari kalau Sarah telah duduk di sampingnya tanpa ijin darinya.


Sarah yang memang ingin menjalin hubungan yang baik dengan Tristan, karena pria itu telah menyelamatkannya saat hampir tenggelam tidak lantas langsung kesal dengan ucapan ketus Tristan itu.


Sarah mengerti Kalau sebenarnya Tristan itu orang baik, karena jika tidak Tristan mungkin akan senang kalau Sarah celaka. Selain Sarah tidak akan lagi muncul di hadapannya dia juga tidak perlu terjebak lagi dengan pernikahan mereka. Dia bisa langsung terlepas dari sebuah ikatan pernikahan dan dia bisa hidup bahagia dengan kekasihnya yang dia damba-dambakan itu.

__ADS_1


Tapi yang terjadi bukan itu, Tristan memilih menyelamatkan Sarah. Dan itu membuat Sarah yakin kalau Tristan itu orang baik.


"Aku mau mengajakmu makan malam. Makanannya sudah siap, ayo!" ajak Sarah dengan senyuman di wajahnya.


Sarah benar-benar ingin mengakhiri drama tom dan Jerry mereka. Sarah ingin membalas kebaikan Tristan karena sudah menyelamatkan nyawanya.


"Apa yang ada di pikiran mu hanya makan saja?" tanya Tristan kesal.


Tristan merasa tidak senang, sebab yang merasa kepikiran dengan hal-hal yang terjadi di antara mereka akhir-akhir ini hanya Tristan saja. Dari apa yang dia lihat, dari sikap dan kata-kata Sarah. Wanita itu sama sekali tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini dan itu membuat Tristan semakin kesal.


Karena pertanyaan Tristan itu di anggap pertanyaan yang tidak cukup serius oleh Sarah maka Sarah pun menjawabnya dengan tidak serius pula.


"Tentu saja, makan adalah prioritas yang aku pikirkan. Karena kalau kita tidak makan kan kita tidak akan hidup, kalau tidak hidup mana mungkin kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, apa yang kita cita-citakan. Makan juga kan kebutuhan primer...!"


"Emmptt...!"


"Berisik!" ucap Tristan yang kemudian langsung melepaskan bekapan tangannya dari mulut Sarah kemudian berdiri lalu berjalan masuk dengan cepat menuju ke dalam bungalow.


Sarah langsung membersihkan mulutnya dan langsung menoleh ke arah kepergian Tristan.


"Ih, manusia batu. Aku tuh sudah berusaha loh, berusaha bersikap baik sama dia. Tapi dia tetap aja, haih... gini nih gak enaknya punya hutang budi. Ck...!"


Meski sambil menggerutu kesal, Sarah tetap perjalanan masuk ke dalam bungalow agar mereka bisa makan malam bersama.

__ADS_1


Satu jam kemudian, setelah acara makan malam selesai. Sarah kembali ke kamarnya setelah merapikan dapur.


Tristan masih terlihat membaca sebuah buku sambil bersandar di sandaran tempat tidur. Dengan kaca mata bacanya, dari tempat Sarah berdiri, Tristan terlihat sangat serius.


Sarah pun berjalan perlahan menghampiri Tristan.


"Hari ini kamu tidak emosional kan?" tanya Tristan sebelum Sarah naik ke atas tempat tidur.


"Sepertinya tidak, kamu hari ini sangat baik jadi aku pikir...!"


"Tidurlah, besok pagi akan ada kru kapal yang datang. Aku akan minta pada mereka membawakan matras untukku. Kamu tidur di sini dan aku tidur di luar dua hari lagi!"


Tristan menyela ucapan Sarah, lalu menutup buku bacaannya dan melepaskan kaca mata bacanya. Tristan langsung tidur dengan posisi membelakangi Sarah.


Sarah yang sempat terdiam pun mulai merebahkan dirinya dan posisinya juga miring membelakangi Tristan.


'Dua hari lagi, artinya kita masih akan tidur bersama dua malam lagi. Apa dia tidak sadar akan hal itu. Ck... sudahlah. Terserah dia saja!' batin Sarah sebelum dia memejamkan matanya.


Sementara beberapa menit kemudian Tristan kembali membuka matanya karena dia merasa sangat gelisah. Dia menoleh ke arah Sarah, dan dia melihat Sarah sudah tidur. Tristan bahkan berdecak kesal melihat Sarah sudah tidur.


"Wanita ini benar-benar ya, apa dia tidak mengerti. Seharusnya dia tidak tidur dulu sebelum aku. Menyebalkan!" gerutu Tristan yang sepertinya mengalami insomnia malam itu.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2