
Sementara itu di sebuah tempat yang perbedaan waktunya lebih lama enam jam dari tempat acara pernikahan Tristan dan Sarah.
Seorang wanita di temani asisten pribadinya sedang duduk termenung sendirian, dengan gelas minuman di tangannya. Dia berusaha untuk tidak menangis saat asisten pribadinya mengatakan kalau sekarang Tristan sudah resmi menyandang status sebagai seorang suami.
"Hani di undang ke sana sebagai perwakilan dari media kak, dia mengatakan kalau prosesi ijab qobul antara tuan Tristan dan wanita itu sudah selesai di laksanakan. Tuan Tristan sekarang benar-benar sudah berstatus sebagai suami orang kak!" kata Leni, asisten pribadi Shanum.
Wanita yang masih menatap nanar ke arah lampu-lampu yang terlihat sangat memukau dari apartemennya itu terus diam. Wanita itu adalah Shanum, kekasih Tristan yang bahkan sampai detik ini masih menjadi kekasih Tristan meskipun Tristan sudah menjadi suami Sarah.
"Kak, kamu baik-baik saja?" tanya Leni khawatir.
Leni punya alasan untuk khawatir, karena sejak tadi Shanum benar-benar hanya diam sambil menatap nanar ke arah dinding kaca apartemennya. Hanya duduk di sofa dengan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Botol minuman yang ada di atas meja di samping sofa itu bahkan sudah habis setengahnya.
"Apa yang perlu aku cemaskan Leni? Tristan sangat mencintai ku, aku yakin itu. Hanya sebentar lagi Leni, sedikit lagi setelah aku mendapatkan penghargaan designer terbaik itu, aku akan pulang dan kembali pada Tristan!" sahut Shanum dengan penuh percaya diri.
Leni juga hanya terdiam, dia hanya berharap kalau apa yang diharapkan Shanum itu bisa terwujud meskipun dia sendiri merasa ragu.
"Sebenarnya, kalau kakak menikah dengan tuan Tristan, jalan kakak pasti lebih mudah untuk mencapai tujuan kakak, nama besar tuan Hutama...!"
Prang
Shanum langsung membanting gelas yang dia pegang begitu mendengarkan ucapan Leni.
"Leni, apakah kamu lupa? kamu adalah orang yang telah mengetahui bagaimana aku jatuh bangun membangun karir ini. Hanya karena dilahirkan sebagai seorang perempuan, kamu tahu apa yang sudah aku alami di keluargaku. Bahkan untuk memperjuangkan aku, entah sudah berapa pukulan dan hinaan yang ibuku terima!" keluh Shanum dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Leni terlihat sangat menyesali apa yang sudah dia katakan tadi.
"Maafkan aku kak, aku tidak bermaksud mengingatkan mu pada luka masa lalu mu!" sesal Leni.
"Luka itu telah membuatku sadar, kalau berdiri di atas kaki sendiri adalah hal yang paling benar. Tristan, dia juga sama denganku. Sikapnya yang dingin dan arogan membuatnya banyak di jauhi dan di benci, seperti aku. Aku di benci keluarga ku sendiri, hanya ibuku yang menyayangiku. Sejak itu kami dekat, aku yang sudah biasa di pukul dan di hina keluarga ku membuat semua kata kasar Tristan tidak mempan padaku. Itu bagus, hingga dia menjadi sangat tergantung padaku, dia membantuku sampai di bangku kuliah. Setelah lulus, aku memulai semuanya dengan usaha ku sendiri. Aku ingin berdiri dengan kakiku sendiri!" jelas Shanum panjang lebar pada Leni.
Shanum lantas melihat ke arah Leni.
__ADS_1
"Pergilah, aku akan baik-baik saja!" ujar Shanum yang kembali menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.
Leni pun pergi dari sana menuju ke unit apartemen nya sendiri. Namun Leni yang sudah lama ikut dengan Shanum tahu, kalau atasan yang sudah dia anggap kakak sendiri itu pasti tidak baik-baik saja.
Dan benar saja, saat Shanum memejamkan matanya, dua titik air mata mengalir dari masing-masing sudut matanya.
'Aku tidak yakin Tristan, baru kali ini aku merasa tidak yakin. Rasanya takut sekali kehilangan mu. Namun jika aku kembali sekarang, semua usahaku bertahun-tahun akan sia-sia. Maafkan aku Tristan!' batin Shanum yang perasaan nya saat ini sungguh sangat campur aduk tak karuan.
***
Acara masih berlangsung di kediaman Hutama. Setelah acara sungkeman dan meminta restu pada para orang tua. Sarah juga di persilahkan oleh pembawa acara untuk melemparkan buket bunga bersama Tristan.
Tapi bukan Tristan, kalau tidak membuat ulah.
"Silahkan kedua mempelai untuk melemparkan buket bunganya ke arah para tamu undangan dan para sahabat yang hadir!" kata pembawa acara.
Sebenarnya Tristan dan Sarah saat ini juga sudah berada di atas pelaminan dengan posisi mereka menghadap ke pelaminan. Dan para undangan, Arumi dan para jomblo lainnya juga sudah berkumpul di belakang. Bahkan Richard pun ikut bergabung di barisan itu.
"Ck... tinggal di lempar saja kenapa harus di pegangnya berdua sih?" tanya Tristan yang terlihat tidak senang harus melakukan hal itu.
"Tuan, memang harus seperti itu. Dalam hitungan ke tiga, kalian baru lemparkan ke arah belakang!" kata pengarah acara itu menjelaskan.
"Tristan, cepatlah. Acara lain sudah menunggu!" kata Rendra yang ada di sebelah pengarah acara bersama Kevin.
"Papa, Kevin mau ikutan di sana boleh tidak?" tanya Kevin menunjuk ke arah Richard.
Sarah yang mendengar pertanyaan Kevin pada Rendra itu tidak bisa tidak tertawa. Dan tawa Sarah itu sepertinya mengganggu Tristan.
"Hei, apa kamu sangat bahagia? sejak tadi tertawa terus. Menyebalkan!" keluh Tristan yang bicara pelan dan hanya bisa di dengar oleh Sarah.
"Ih, sir1k amat sih! ini hari pernikahan ku. Tentu saja aku bahagia!" jawab Sarah yang lantas berhasil membuat Tristan terdiam.
__ADS_1
Tristan lalu melihat ke arah pelaminan dimana dia dan Sarah tadi mengucapkan janji suci mereka, lalu ke arah ayahnya, Rendra dan Kevin yang juga terlihat bahagia. Ada perasaan berbeda di hati Tristan, namun dia kembali tersadar saat Sarah memanggilnya.
"Hei, sudah pegang saja. Setelah itu lempar, selesai!" kata Sarah sedikit berbisik pada Tristan.
Setelah drama yang lumayan memakan waktu beberapa menit itu, akhirnya Tristan mau memegang buket bunga pernikahan itu bersama Sarah. Namun saat Tristan akan memegang buket bunga, dia malah tidak sengaja menyentuh tangan Sarah.
"Pegang buketnya, bukan tanganku!" protes Sarah.
"Ish, tidak sengaja. Siapa juga yang mau pegang tanganmu. Tidak level!" bantah Tristan.
"Oke, siap ya. Satu... dua... tiga!"
Buket bunga pernikahan itu pun melambung lumayan tinggi, karena memang Sarah dan Tristan melemparkannya dari atas pelaminan.
"Whoaaaahhhh!" sorak Richard yang ternyata buket bunga itu jatuh ke tangannya.
"Yey...!"
Richard bersorak senang sendirian, sementara yang lainnya malah bengong. Arumi lantas menghampiri Richard.
"Hei, boneka tabung menari. Seneng banget, emang situ punya calon?" tanya Arumi yang langsung membuat Richard berhenti bersorak.
Richard lalu menggaruk kepalanya, karena apa yang dikatakan Arumi benar. Richard memang tidak punya calon.
"Tidak punya!" jawabnya polos.
Semua orang yang mendengar jawaban Richa itu tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.
***
Bersambung...
__ADS_1