
Hampir menjelang malam, semua perabotan di kamar Widya sudah di siapkan. Dan kamar itu juga sudah sangat bersih, bahkan sudah sangat rapi dan siap untuk di tempati. Begitu juga kamar Tika asisten rumah tangga Widya.
Karena pekerjaan sudah selesai, Tristan pun bertanya pada Richard yang masih ada di apartemennya.
"Hei, pekerjaan mu sudah selesai! kenapa masih di sini? pulang sana!" kata Tristan cuek pada Richard.
Wajah Richard langsung terlihat sangat sedih.
"Oh emji bos... aku sudah datang dari siang loh, apa gak di kasih makan dulu gitu? masak iya langsung di suruh pulang? kasihanilah asisten mu ini bos, tiap hari makan bento!" ucap Richard dengan nada sedih.
Sarah lagi-lagi terkekeh melihat tingkah Richard dan apa yang Richard katakan barusan pada suaminya.
"Mas, kasihan itu anak orang. Kasih makan dulu deh!" kata Sarah yang memang berhati baik.
Mendengar perkataan Sarah, Richard terlihat senang. Dia langsung menghampiri Sarah yang sedang menata piring dan gelas, membantu ibunya menyiapkan makan malam.
"Nona Sarah, kamu yang terbaik!" kata Richard tersenyum senang.
"Duduklah!" kata Sarah pada Richard.
Mereka pun makan malam bersama, meski Tristan sedikit sewot pada Richard. Tapi Richard tak perduli. Kapan lagi dia bisa makan malam bersama seperti ini. Kalau di restoran dia hanya makan sendiri, dia apartemennya, dia juga sendiri. Jadi dia tidak perduli pada tatapan tajam Tristan saat melihat nya ketika Sarah menyuruhnya untuk duduk.
"Richard tinggal dengan siapa di rumah?"
Tiba-tiba saja Widya menanyakan hal itu pada Richard. Ketika sedang menuangkan air minum untuk Richard.
"Sendiri nyonya besar, adik dan nenek ku ada di luar kota!" jawab Tristan sambil mulai membuka piring dan mulai meletakkan sendok di atas piringnya.
Tiba-tiba saja tatapan Widya melembut pada Richard saat mendengar jawaban Richard tadi itu.
Widya bahkan mengambilkan banyak lauk untuk Richard.
"Di habiskan ya!" kata Widya sambil mengusap kepala Richard dengan lembut.
Richard yang tadinya ingin menyuapkan makanan yang sudah dia tata di atas sendoknya lantas menghentikan gerakannya, begitu kepalanya di usap oleh Widya dengan lembut. Mata Richard langsung berkaca-kaca.
"Richard, makanlah!" kata Sarah yang melihat Richard diam dan terlihat sedih.
"Sejak kecil, aku di tinggal ayah dan ibuku nyonya besar, di usap seperti tadi. Membuatku ingat pada ibu!" kata Richard sedih.
__ADS_1
Sarah langsung terdiam, dia belum pernah melihat sisi Richard yang seperti itu sebelumnya. Sarah jadi ikut sedih.
Widya lantas duduk di sebelah Richard.
"Jangan sedih, kamu boleh kok panggil aku ibu!" kata Widya sambil tersenyum pada Richard.
Mata Richard langsung berbinar mendengar apa yang dikatakan Widya.
"Benarkah?" tanya Richard memastikan dengan ekspresi wajah yang begitu antusias.
Widya lantas mengangguk dengan cepat.
"Tentu saja!" kata Widya.
"Terimakasih ibu!" ucap Richard dengan sangat bahagia.
"Mulai sekarang, kamu boleh terus makan malam di sini!" kata Widya yang lupa kalau ini rumah milik menantunya, bukan miliknya.
Sarah juga hanya tersenyum, sedangkan Tristan ingin protes. Tapi dia tidak mungkin melakukan itu. Bisa di pecat jadi menantu kalau dia protes pada apa yang dikatakan Widya barusan.
Tristan hanya bisa menatap tajam pada Richard. Tapi Richard tidak mempermasalahkan hal itu, karena dia terlalu senang pada apa yang baru saja Widya katakan.
Sementara mereka melanjutkan makan malam. Sarah juga sudah menghabiskan setengah dari isi piring yang di ambilkan oleh ibunya.
"Tidak Bu, sudah cukup!"
"Ayolah sayang, kamu makan untuk dua orang loh itu!" kata Widya lagi.
"Tidak Bu, benar-benar sudah cukup!" kata Sarah.
"Tidak apa-apa Bu, nanti kalau Sarah lapar larut malam. Aku akan menemaninya makan!" kata Tristan yang kasihan pada istrinya yang di beri jatah makan dua kali lebih banyak dari biasanya oleh ibunya.
Dan di saat mereka sedang sibuk seperti itu. Tiba-tiba saja alarm kebakaran apartemen berbunyi.
Tristan langsung berdiri dan mengajak Sarah untuk ikut bangun.
"Sayang, alarm kebakaran. Ayo keluar!" ajak Tristan pada Sarah.
Setelah Sarah bangun dari duduknya, Tristan juga menoleh pada Richard.
__ADS_1
"Richard, bantu ibu keluar!"
Richard langsung mengangguk dan membantu Widya yang juga memanggil Tika untuk segera keluar dari apartemen Tristan tersebut.
Saat Tristan keluar, ternyata banyak juga yang keluar dari unit apartemen mereka. Dan di sebelah unit apartemen Tristan tersebut, dimana seorang influence yang baru naik daun itu tinggal terlihat ada asap mengepul dari pintu apartemennya.
"Maafkan aku semuanya, maaf!" kata Brian Kim itu dengan wajah yang terlihat terkena kepulan asap yang menghitam dan baju yang terlihat terkena buih alat pemadam api ringan.
Para petugas apartemen juga terlihat keluar dari apartemen milik Brian Kim itu.
"Ada apa ini?" tanya Tristan yang memang kurang suka pada Brian Kim.
Selama beberapa tahun Tristan tinggal di apartemen ini, belum pernah terjadi sekalipun hal seperti ini. Dan begitu Brian Kim itu datang, langsung terjadi hal semacam ini. Tentu saja Tristan makin kesal pada pria yang dia sebut pria plastik itu. Menurutnya Brian Kim itu caper sekali, alias cari perhatian bangettt.
Brian Kim yang mendengar nada ketus Tristan itu lantas langsung mendekati Tristan yang sedang bersama dengan Sarah.
"Maaf tuan Tristan, dan nyonya Tristan. Aku baru pindah hari ini, aku belum punya asisten rumah tangga. Aku mencoba untuk memasak, tapi sepertinya aku tidak bisa melakukannya. Ponselku mati.. tak bisa pesan makanan. Jadi... aku sangat menyesal atas semua ini. Maaf sudah mengganggu kalian semua!" kata Brian Kim sambil menyatukan kedua telapak tangannya.
Widya jadi kasihan melihat Brian Kim yang wajahnya cemong dan memelas itu.
"Nak, kamu cuci muka saja. Ganti baju, lalu datanglah ke apartemen Tristan. Kami punya banyak makan malam kok!" kata Widya yang memang orangnya sangat simpatik.
Sarah langsung melihat ke arah Tristan, yang Sarah tahu suaminya itu tidak senang makan malam dengan orang asing.
"Tristan, apa aku beritahu ibu saja, kalau mungkin seharusnya kita kirimkan makanan saja ke orang itu?" tanya Sarah pada Tristan.
Namun karena Tristan tidak enak pada ibu mertuanya. Maka Tristan pun menggelengkan kepalanya perlahan.
"Tidak usah sayang, tidak apa-apa. Lagipula kita sudah selesai makan kan. Kita istirahat saja yuk, biar Richard dan ibumu yang menemani orang itu!" bisik Tristan pada Sarah yang langsung di angguki Sarah.
Brian Kim sudah sangat senang, dia pikir akan makan malam satu meja dengan Sarah. Tapi sayang ketika Widya memberinya piring dan gelas, dia tidak melihat Sarah di sana.
"Maaf nyonya, tuan Tristan tidak ikut makan?" tanya Brian Kim beralasan bertanya tentang Tristan. Padahal yang ingin dia ketahui justru tentang Sarah.
"Oh, Sarah dan Tristan sudah selesai makan malam. Ayo silahkan, makan yang banyak. Richard kamu juga, makan yang banyak!" kata Widya.
Brian Kim lantas tersenyum, Richard juga senang sepertinya melihat ada artis yang ikut makan malam satu meja dengannya. Tapi Brian Kim hanya tersenyum di wajah, sementara hatinya.
'Sialll, percuma aku membakar setengah ruangan dapurku. Tetap tidak bisa makan malam dengan Sarah juga pada akhirnya!' keluhnya dalam hati.
__ADS_1
***
Bersambung...