Tega

Tega
Bab 39


__ADS_3

Di tempat lain juga, seorang wanita yang pakaiannya sangat modis. Duduk di kursi sebuah kafe yang hanya bisa di masuki lewat reservasi. Di depan wanita itu ada sebuah tas yang dia letakkan di atas meja. Semua orang yang melihat merekknya pasti tahu berapa harga tas itu.


Harga tas berwarna Saleem itu bahkan setara dengan sebuah mobil SUV keluaran terbaru. Wanita itu terlihat anggun saat dia duduk sendirian dengan gaya khasnya. Namun ketika dia melihat layar ponselnya, ekspresi wajahnya yang tadinya begitu elegan langsung berubah mendadak menjadi ekspresi wajah seperti orang yang baru kehilangan setengah dari saldo tabungan di rekening nya.


"Pernikahan Sarah Ranisa dengan CEO PT Arya Hutama. Whattttt!" pekik Hera tak percaya.


Hera terus men-scroll layar ponselnya. Mencoba mencari kebenaran lainnya. Dia masih tidak percaya kalau Sarah Ranisa yang di sebutkan di grup teman-teman Alan yang dia juga masuk di dalamnya setelah membajak ponsel Alan itu adalah Sarah yang berasal dari panti asuhan yang sama dengannya. Dia terus membaca chat satu demi satu untuk mendapatkan informasi lebih.


Hera menggertakkan giginya ketika mendapati fakta bahwa Sarah yang dimaksudkan itu memang Sarah Ranisa. Wanita yang kebahagiaan nya selalu ingin dia rebut. Wanita yang saat akan di adopsi ketika dia masih kecil terus dia bujuk agar menolak orang yang akan mengadopsinya. Wanita yang sama yang pacarnya telah dia rayu, dan akhirnya menjalin hubungan dengannya selama satu bulan, hingga akhirnya dia berhasil memisahkan Sarah dengan Alan. Hingga Hera begitu yakin kalau Sarah akan sangat terluka dan sakit hati.


Hera mengira Sarah akan menangis selama berbulan-bulan karena Alan dan Sarah telah menjalin hubungan selama empat tahun. Hera yakin kalau mantan sahabatnya itu berpisah dengan Alan, maka Sarah akan hancur bahkan akan kehilangan semangat hidupnya. Tapi ternyata Hera salah.


Setelah putus dengan Alan, Sarah malah akan menikah dengan seseorang yang jelas sangat jauh lebih baik lebih kaya dan lebih segala-galanya dari Alan. Lebih tampan, lebih tinggi. Pokoknya lebih apapun dari Alan.


"Sialll!" pekik Hera yang merasa sangat kesal mengetahui kebenarannya.


Hera lantas meletakkan ponselnya di atas meja.


"Ck... mana CEO perusahaan itu terkenal sangat dingin dan pemarah. Aku tidak mungkin mendekati dan merayu pria yang seperti kulkas dua pintu seperti itu. Tapi aku tidak mau melihat Sarah hidup bahagia, sementara aku... Alan bahkan tidak mau menemui ku lagi. Aku harus lakukan sesuatu!" gumam Hera yang terus memikirkan cara licik agar pernikahan Sarah dan Tristan batal.


***


Sore harinya, Arumi telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia berniat untuk membantu pekerjaan Sarah agar mereka bisa pulang bersama.


"Sini aku bantuin!" seru Arumi.


"Baik banget sih, makasih ya!" sahut Sarah.


Tapi ketika pekerjaan Sarah hanya tinggal dua dokumen lagi, dan di raih satu oleh Arumi untuk di bantu. Tiba-tiba saja ponsel Sarah berdering.


Sarah melihat ke arah layar ponselnya, dan Sarah tidak menerima panggilan itu karena nomernya tidak dia kenal.

__ADS_1


Tapi ponselnya itu terus berdering. Membuat Sarah terpaksa menerimanya karena rekan-rekan kerjanya sudah memperlihatkan pandangan tak suka padanya karena suara ponselnya mengganggu pekerjaan mereka. Sebab sejak tadi terus berdering.


"Sarah ya?" tanya orang yang berada di seberang sana.


Suaranya terdengar serak, tapi Sarah tahu ini suara seorang laki-laki.


"Ini siapa ya?" tanya Sarah.


Arumi yang mendengar Sarah bertanya seperti itu pada si penelepon langsung menoleh ke arah Sarah dengan tatapan serius. Arumi bahkan menggerakkan mulutnya seperti berkata.


"Siapa?" tapi tanpa suara.


Sarah menggelengkan kepalanya karena orang yang di seberang sana belum menjawab pertanyaan Sarah.


"Gak tahu!" jawab Sarah juga hanya menggerakkan mulutnya tanpa suara.


Arumi sampai menghentikan pekerjaannya lalu mendekati Sarah. Sarah lalu menghidupkan speaker hingga bisa terdengar oleh Arumi juga perkataan dari si penelepon misterius itu.


Sarah dan Arumi saling pandang, mereka terlihat bingung.


Emang tadi kamu di kirimin foto siapa?" tanya Arumi yang lumayan penasaran juga.


"Dia kan bilang mau kirim, wah... ini jangan-jangan penculikan. Jangan-jangan salah satu adik-adik panti. Aduh Arumi, aku harus gimana ini?" tanya Sarah yang langsung panik.


Arumi langsung merangkul Sarah dan mengusap lengannya beberapa kali untuk menenangkan sahabatnya itu.


Tak lama setelah itu, ada notifikasi masuk ke ponsel Sarah. Dengan cepat Sarah membuka pesan itu karena dia sangat takut kalau salah satu dari adik-adik yang ada di panti asuhan yang dimaksudkan oleh si penelepon misterius itu.


Dan ketika Sarah melihat isi pesan gambar dari penculik itu. Matanya terbuka lebar.


"Ini Alan, Arumi!" ucap Sarah yang malah tambah tak mengerti.

__ADS_1


Arumi bahkan memicingkan matanya melihat latar ponsel Sarah. Dia takut dia dan Sarah salah lihat.


"Kenapa menculik orang bodohh itu?" tanya Arumi yang langsung mendapatkan lirikan dari Sarah.


"Ck... Sarah dia memang orang bodoh. Sudahlah, biarkan saja kalau si Alan itu yang di culik. Dia kan gak ada hubungan apa-apa lagi sama kamu. Pacar bukan, teman bukan, saudara apalagi... sudah biarkan saja!" ucap Arumi yang sangat terlihat kalau dia sama sekali tidak perduli apapun yang akan terjadi pada Alan.


Sarah lantas terdiam. Di dalam foto itu, mata Alan di tutup, mulutnya juga di sumpal dengan kain. Tangannya terikat ke belakang, posisinya sedang duduk, di sebuah tempat yang gelap dengan kedua kaki di ikat di depan.


Sarah berkali-kali melihat gambar itu.


"Ngapain masih di lihatin sih Sarah? biarkan saja!" seru Arumi yang kesal sendiri karena Sarah terlihat masih perduli dengan Alan.


Melihat Alan yang seperti itu, Sarah sangat kasihan. Bagaimana pun juga mereka pernah bersama selama empat tahun.


"Apa aku telepon polisi saja ya?" tanya Sarah yang membuat Arumi mendengus kesal.


"Ck... kamu ini coba jadi orang tuh gak usah perdulian gitu sekali-kali Sarah. Kadang cuek sedikit juga perlu. Apalagi dia itu mantan yang sudah mengkhianati kamu!" keris Arumi.


Sarah masih bimbang, masalahnya ini kan menyangkut nyawa seseorang.


"Tapi, penculik tadi bilang akan melenyapkannya... !" Sarah lalu kembali terdiam.


"Tapi kenapa dia mau di lenyapkan, terus kenapa aku yang harus datang?" tanya Sarah sambil bergumam.


Arumi lantas melebarkan matanya.


"Nah, itu dia. Jangan-jangan ini akal-akalan si Alan itu. Coba lihat badannya babak belur gak?" tanya Arumi.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2