
Sarah tiba di kantor dengan perasaan yang berusaha untuk dia buat setenang mungkin. Untungnya Sarah ini tipikal orang yang bisa mengatur emosinya dengan baik. Jika dia marah pada seseorang, dia tidak akan melampiaskan kemarahannya itu kepada orang lain.
Kan ada di dunia ini, orang-orang yang memang kalau sedang marah maka siapapun yang ada di depannya akan terkena imbas kemarahannya tersebut. Sebut saja Tristan, di adalah contoh untuk tipikal orang yang kalau marah dan emosi maka orang-orang di sekitarnya akan terkena imbas kemarahan dan emosinya itu.
Namun Sarah bukan tipe orang seperti itu. Sarah terbiasa menahan emosinya karena hidup di tengah adik-adik pantinya dengan berbagai macam tingkah laku mereka. Jadi Sarah sudah terbiasa menyembunyikan emosi dan kesedihannya dengan baik.
Sampai di lobby kantor, dia yang melihat Liana pun menyapa wanita yang merupakan sekertaris dari Tristan itu.
"Pagi kak Liana!" sapa Sarah ramah pada wanita yang sudah punya satu anak berusia 7 tahun itu.
Liana pun tersenyum pada Sarah. Dia senang karena meskipun Sarah sudah menjadi istri Tristan, Sarah tetap low profil seperti biasanya. Masih ramah, bahkan tak enggan menyapa duluan.
"Pagi nona Sarah!"
"Kak Liana, panggil Sarah saja, seperti biasanya!" kata Sarah meminta agar Liana memanggilnya seperti dulu dan tidak usah pakai embel-embel nona di depannya.
"Mana bisa begitu, kamu kan istrinya bos ku. Mana sopan aku panggil nama seperti dulu!" tolak Liana. Dia sudah lama bekerja sebagai seorang sekertaris. Pengalamannya sudah sangat banyak, akan sangat tidak sopan kalau memanggil Sarah hanya dengan nama.
Sarah yang malas berdebat pun hanya bisa menyudahi perdebatan itu.
"Ya sudah, terserah kak Liana saja. Oh ya kak, aku ke atas duluan ya!" kata Sarah yang langsung di angguki oleh Liana.
Sarah langsung menuju ke divisi keuangan, dimana ruangannya berada. Namun saat akan menuju ke ruangan tersebut. Kepala bagian HRD sudah berdiri di depan ruangan Sisilia bersama dengan Bu Sisilia.
Sarah pun menghampiri mereka, berinisiatif untuk menyapa mereka terlebih dahulu sebelum menuju ke meja kerjanya.
"Selamat pagi Bu Sisilia, ibu Fransiska!" sapa Sarah dengan ramah.
__ADS_1
"Selamat pagi Sarah!" sapa keduanya bersama.
"Sarah, ini surat promosi kamu. Mulai sekarang kamu bukan lagi staf divisi keuangan!" kata Bu Sisilia memberikan sebuah amplop dengan logo perusahaan ini di luar amplop tersebut.
Sarah sedikit terkejut, kemudian dia meraih amplop itu dan membukanya. Sebuah surat promosi, yang menyatakan Sarah akan menjadi sekertaris utama Tristan selaku CEO perusahaan ini.
Sarah hanya menghela nafasnya membaca surat itu. Setelah itu dia langsung menyimpan kembali surat itu ke dalam amplop.
"Terima kasih Bu Sisilia, Bu Fransiska, saya permisi dulu!" kata Sarah yang langsung pergi dari tempat itu menuju ke ruangan sekertaris.
Di sana Sarah bertemu dengan Pandu.
"Kak pandu, Richard belum datang ya!" tanya Sarah.
"Belum nona Sarah, mungkin sebentar lagi!" kata Pandu.
Tak lama kemudian, Richard pun datang bersama Liana.
"Oh emji, nona Sarah. Ruangan mu sedang di siapkan sebentar ya!" kata Richard dengan gaya khasnya.
"Richard aku ingin bicara!" kata Sarah.
Richard pun akhirnya memberi kode pada Pandu dan Liana agar segera keluar dari ruangan tersebut. Setelah pandu dan Liana keluar, Sarah lantas berdiri dan memberikan surat promosinya pada Richard.
"Ini, aku sama sekali tidak butuh ini. Katakan pada bos mu itu, aku tidak mengerti sama sekali pekerjaan sebagai seorang sekretaris. Jika dia butuh sekertaris tambahan maka katakan saja hal itu pada HRD, mereka akan mencarikan orang yang berkompetensi dalam pekerjaan itu. Atau pasang saja iklan di laman media sosial perusahaan kita, aku bukan orang yang tepat. Aku harap kamu katakan ini pada bos mu!"
"Nona Sarah, sabar dulu ya. Ini semua memang diminta oleh bos. Tapi apa nona Sarah tidak tahu kenapa bos melakukan ini, bos hanya ingin nona Sarah terus berada di dekat bos, dekat di sisinya. Aku mengerti nona Sarah marah. Nona sakit hati itu sangat wajar, bahkan kalau nona Sarah marah dan kesal pada bos Tristan. Aku bahkan akan membela nona Sarah. Karena bos memang salah. Dia memang sudah keterlaluan dengan meninggalkan mu dan kembali setelah kenyataan pahit dia terima. Tapi setidaknya dia ingin memperbaiki kesalahannya nona. Manusia mana yang tidak pernah melakukan kesalahan, tapi orang yang dengan tulus minta maaf dan berusaha memperbaiki kesalahannya tidak banyak, nona Sarah...!"
__ADS_1
Richard langsung berdiri di hadapan Sarah yang hanya diam menunduk. Terlihat sekali wajah Sarah sangat sedih.
"Bos benar-benar ingin meminta maaf padamu dengan tulus, dia sekarang sudah sangat yakin kalau dia benar-benar mencintai mu!"
"Tapi aku tidak mau jabatan ini, aku tidak paham Richard. Kamu mengerti tidak? aku tidak bisa menjadi seorang sekertaris. Aku kuliah di jurusan management keuangan, bagaimana bisa aku menjadi seorang sekertaris?" tanya Sarah.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Sarah, Richard lantas menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"Kalau soal itu, sebenarnya nona hanya perlu menemani bos saja kemanapun bos pergi. Kalau masalah pekerjaan, aku, Pandu dan Liana yang akan mengurusnya nona!" kata Richard terus terang.
"Hah... tetap saja. Aku tidak bisa! aku tidak mau makan gaji buta. Uang yang aku hasilkan juga untuk anak-anak panti. Aku tidak mau, kamu katakan pada bos mu itu!" kata Sarah bersikeras.
"Aduh nona, kenapa kalian senang sekali membuatku dilema seperti ini. Nona katakan sendiri pada bos ya, dia ada di ruangannya!" kata Richard yang malah bergegas berlari keluar dari ruang sekertaris.
Sarah yang melihat Richard berlari keluar menjadi geram.
"Ih... bos sama anak buah sama saja. Sama-sama nyebelin!" kata Sarah menghentakkan kakinya sekali ke lantai.
Sarah pun memutuskan untuk menemui Tristan.
Tok tok tok
Sarah mengetuk pintu ruangan Tristan sebelum masuk. Dan begitu dia masuk, Sarah agak di buat terkejut. Pasalnya ada sebuah bingkai foto yang besar di pajang di dinding yang ada di belakang sofa di ruangan itu. Foto pernikahan Sarah dan Tristan.
***
Bersambung...
__ADS_1